6.12.14

Gara-gara Nila

Lucu sekali akhir-akhir ini rasanya. Capek. Bukan capek dengan kerjaan, atau pemberitaan miring tentang perusahaan tempat saya bekerja yang menjurus fitnah dari orang yang merasa dirinya "ahli" (terus yang menyebarkan sambil bernada provokatif padahal situ gak tau bener/ salahnya, saya tanya: "buat apa?"), atau musibah yang lagi menimpa kota asal saya. Itu lho, Cheribell, yang katanya sudah membikin 11 orang meninggal dan 70 lainnya dilarikan ke RS. Lagian sih ya, ngapain juga pada minum gituan. Biar gak stress? Jangan-jangan saya harus nyoba juga. Ah tapi saya gak se-stress itu.

Capeknya capek karena orang.


Kayaknya saya capek aja sendiri. Kayak antusias sendirian gitu. Hmm.. ternyata sering bareng-bareng aja gak cukup. Jadi bingung sih, apa di umur segini, ikatan seperti itu tidak ada?

Anggaplah saya punya dua kehidupan. Kehidupan A, di kota asal saya, adalah tempat di mana keluarga dan sahabat-sahabat saya tinggal. Kehidupan B, di kota ini, adalah tempat dimana saya mencari penghidupan bagi saya dan orang lain di kehidupan A yang saya sayangi. Di kehidupan B, saya pikir saya ada teman sih, beberapa. Dan saya paham betul teman-teman yang ini juga punya kehidupan lain. Mungkin kehidupan C atau D atau E, dsb. Saya paham sekali kalau saya harus menghormati kehidupan tersebut.

Kondisinya, saya sudah gak bisa sering-sering bersandar pada kehidupan A lagi (kecuali kalau saya pulang tentunya). Maka ketika saya sedikit berharap dari kehidupan B, apakah saya menuntut terlalu banyak?

To be fair, walaupun banyak drama, tapi saya bukan penganut "karena nila setitik rusak susu sebelanga". Untuk apa? Manusia itu harus adil. Jangan gara-gara satu perbuatan buruk, kemudian orang jadi lupa pada seribu kebaikan yang udah dilakukan. Itu bener-bener gak banget kalau menurut saya.

Ya bukan berarti saya ini orang baik ya. Cuma, ketika effort kita itu tembus pandang, dan yang keliatan cuma yang jelek-jeleknya aja.. kayaknya ngenes juga ya. Padahal sudah capek-capek ngajak ini-itu (entah sebenernya mereka mau atau enggak), ke sana-ke sini, dan kalau ada yang merasa gak mau tapi gak enak ngomongnya, saya batalin walaupun kesannya jadi saya yang "mengendalikan". Padahal siapa juga yang nyuruh saya ngatur? Jadi capek. Pake banget.

Ah.. memang paling enak jadi orang yang gak pedulian ya. Masalahnya, di kehidupan B, saya cuma punya kalian. Jadi mohon maaf kalau saya begini menyebalkannya.

Begitulah saya kalau udah ngerasa punya temen. "Ngerasa".
"Bagaimana bisa jadi orang baik kalau memahami kebaikan orang lain aja 'gak mampu?"
Decode that.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!