Thursday, March 26, 2015

Membalikkan Kebiasaan

Teorinya, manusia bisa mempunyai kebiasaan baru ketika sesuatu diulang-ulang selama minimal 6 hari. Versi dosen pembimbing saya dulu sih, 7 hari atau 7 kali.

Betul tuh, saya lagi "lelah" dengan yang namanya "kebiasaan". Terlebih, saya juga gak yakin ini baik atau buruk.

Gambar sederhana ini hanya bonus. Cermin dari kebingungan seorang manusia. Pulpen dan Pastel di atas kertas.
***
“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
– Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma
Saya tidak kerja di Jakarta sih. Tetapi kerja kantoran dari jam 7 sampai jam 4 is definitely not my favorite thing. Terlebih ketika setiap hari harus ketemu dengan kerjaan yang itu-itu juga, dengan orang yang itu-itu lagi, dan membahas topik yang itu-itu terus. Celakanya, karena hal ini sudah berlangsung lima hari dalam seminggu dan (dalam kasus saya) terpelihara selama lebih dari tiga tahun, kerja rutin sudah menjadi kebiasaan yang gak bisa ditawar-tawar lagi. Ya bagaimana lagi. Kita tidak melakukan sesuatu sesederhana atas dasar suka atau tidak suka. Orang dewasa punya pikulan yang disebut "tanggung jawab". Kepada siapa? Dirinya. Keluarga. Tuhan.

Baiklah. Ada seribu hal yang patut disyukuri dibandingkan disesali dari kebiasaan yang ini. Perubahan yang ini butuh proses dalam jangka panjang. Saat ini sih, I promise, it's on progress.
Sumber.
Kenapa sebagian orang baru berbuat baik kalau ada maunya? | Sensasi untuk mendapat simpati, demi tujuan mencapai empati :) #pidibaiq
Sejauh mana kamu harus melakukan sesuatu untuk orang lain?

Ternyata kebanyakan manusia hanya mikirin dirinya sendiri. Iya. Membantu orang karena takut merusak reputasi. Bukan atas dasar tulus hati. Apa sih pahalanya berbuat baik tapi gak tulus? Ya mungkin gak ada pahalanya. Itu urusan-Nya sih. Namun, bahkan sabar dan ikhlas pun diawali dari terpaksa. Karena terpaksa sabar dan ikhlas akhirnya lama-lama terbiasa. Maunya sih begitu. Anehnya, yang jadi kebiasaan bukan sabar atau ikhlas-nya, tapi malah rasa ketergantungannya. Tolong hentikan ketergantungan itu. Bergantung pada manusia sudah buruk, bergantung pada manusia yang susah ikhlas bukannya lebih buruk lagi?

Ini adalah tipe bantuan yang bisa bikin meninggal. Wah saya lagi gak bercanda lho. Makanya saya nanya, seberapa jauh kamu boleh membantu? Terlebih ketika kamu gak yakin kalau kamu sedang berbuat benar.

Saya tau, hidup mati manusia sudah ada di tangan-Nya. Saya hanya tidak ingin meninggalkan sampah di tempat yang saya yakin hanya akan jadi tempat persinggahan. Mending kalau sampahnya gampang membusuk dan menghilang bersama tanah dan mikroba. Atau jika sampah itu bisa didaur ulang kemudian jadi sesuatu yang bermanfaat. Masalahnya bagaimana kalau sampahnya itu, well, anggaplah, B3 (Bahan Beracun dan Berbahaya). Bahkan di perusahaan aja ada aturan bahwa sampah seperti itu harus disimpan di tempat penampungan sementara yang izinnya diperbarui setiap 90 hari. Namun sampah tetaplah sampah. Pada akhirnya ia harus dibuang. Masalah lagi adalah, mau dibuang ke mana?

Bener. Sampah hati maksud saya.
Sumber.
Do I really like you, or I just like the idea of you: of us? - @tweedledew, March 22.
Anggaplah ini sebuah pengalihan isu. Sesuatu yang terbiasa datang setiap waktu dan tanpa disadari sudah berubah menjadi candu. Hanya hal-hal remeh yang sederhana tetapi mudah untuk dirindu. Aneh rasanya ketika ia hilang sehingga sehari rasanya bagai sewindu. Semakin aneh lagi ketika isu yang satu ini baru menjadi iklan, ditempeli berbagai endorse menggiurkan namun kita belum bisa yakin apakah itu asli atau palsu.

Ini sudah sudah jadi kebiasaan baru. Kalau memang semu, maunya sih dihapus; saya takut kalau akhirnya akan pilu.

Sumber.

***

Andai semua ini reversible. Semudah membalikkan reaksi kesetimbangan. Kalau bisa dihapus sih saya mau hapus, apalagi yang buruk yang gak ada artinya. Tapi bagaimana? Saya juga mau tau.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!