Friday, April 24, 2015

Persephone

Kadang-kadang (eh, sering?) dia picik. Berpikir bahwa semua orang akan seimpulsif dirinya. Ya kalau dia mah gampang marah, kesinggungan, ngeselin. Evil. Tapi gak semua orang akan melakukan hal seperti dirinya kan? Lantas apa yang membuat dia berpikir bahwa semua orang harus, atau akan seperti dia? Kenapa memikirkan hal-hal yang belum tentu dipikirkan orang lain? Sibuk sekali tampaknya, memelihara imaji. Memelihara ego. Sangat takut kalah, sangat benci dikalahkan. Padahal apa peduli orang lain? Dia hanya akan tersiksa dengan pikirannya sendiri. Menjadi bodoh, menjadi penjahat. Palsu. Whatever.

Would you want to meet someone as twisted as you?

The answer is no. She thinks - and really - she is the worst person ever. How dare her to ask people to be arround, whilst she did every-biatch-thing in the world and seems so proud?

Dua Minggu yang lalu dia pikir sudah kayak mau mati rasanya, ketika rahasia terbesar seseorang, terbongkar di waktu dan tempat yang salah. Mending rahasia orang lain atau acquaintances atau apalah. Ini rahasia sahabatnya sendiri. Yang bocorin gak tanggung-tanggung, salah satu orang dekat lainnya. Dia sholat, taubatan nasucha ceritanya. Ya Allah, saya tidak mau menjadi seperti ini. Betapa susahnya jadi orang baik dan bukan sok baik. Tapi kenapa lidah ini, tubuh ini, begitu mudah mengumbar cerita versi sendiri? Ya bukan bohong sih. Akan tetapi ternyata banyak hal yang lebih menyebalkan daripada kebohongan. Iya. Munafik versi seribu. Membelokkan pikiran orang. Sok baik. Sok korban. Anehnya masih aja ada yang kasian sama dia, beranggapan bahwa dia terlalu baik. Dia itu twisted for God's sake! Tinggalin aja napa. Blablabla.

Really, she is not a saint, and she would never be. And she screws up a lot. Yep, screw up is the only thing that she's best at.

Mungkin hal terjahat di dunia adalah pikiran jahat itu sendiri. Kenapa ya, seseorang yang punya seribu pikiran jahat, tapi masih banget ada yang mau nemenin? Harusnya sih bersyukur. Tapi dia selalu ketakutan. Dia sendiri takut kejahatannya akan berbalik padanya suatu saat nanti. Dan kayaknya sekarang deh, yang dimaksud dengan "suatu saat" itu. Berkali-kali dia ditampar dan disadarkan bahwa dia ini jahat. Palsu. Lagi.

Kadang dia lupa aja gitu. Segala yang tampak pada dirinya itu adalah rahmat-Nya. Bahwasanya Ia menutupi aib, dosa, cela, pikiran jahat dan perkataan jahat. Lantas kenapa dia masih bertahan menjadi orang yang gak baik?

Give a (wo)man a mask, and she will show you her real self.

Apa yang bakal terjadi nanti? Ngebayanginnya aja dia males. Takut. Sebal. Benci. Self-esteem menurun drastis. Ya gimana lagi. Salah dia sendiri kok. Mungkin sudah saatnya menerima akibatnya. Daripada di akhirat? Mau minta tolong siapa? Sebetulnya bukan orang jahat yang harus kita waspadai. Tapi orang yang kelihatan baik padahal jahat. Hati-hatilah pada orang seperti ini. Kalau bisa, jauhi. Sampai dia bener-bener sadar. Tapi sampai kapan?

Be the person you want to meet. (Hell no, she doesn't want to meet herself really).

Maaf.