10.7.15

The Glitch

noun
noun: glitch; plural noun: glitches
a sudden, usually temporary malfunction or irregularity of equipment.
A glitch is a short-lived fault in a system. It is often used to describe a transient fault that corrects itself, and is therefore difficult to troubleshoot. - Wikipedia.
Buat yang suka maen game pasti sudah familiar dengan kata ini. A glitch adalah penyimpangan gambar biasanya - saya 'gak tau ya kalau ada penyimpangan lain. Kalau mau liat contohnya bisa di-search di Google. Ya saya gak tau juga apakah saya menggunakan kata ini dengan benar atau enggak ya, tapi belakangan ini kayaknya saya lagi terkena sindrom ini. Kayak, ada glitch yang sangat besar di sejarah hidup saya. Terus saya bingung mau gimana dengan glitch itu. Mau dihapus? Direset? Atau dibenerin?

Should we hide the glitches, under our masks?

Delete

Waktu tidak pernah berjalan mundur (AADC quotes). Waktu yang sudah lewat akhirnya menjadi masa lalu. Dua detik yang lalu postingan ini masih kosong. Beberapa detik kemudian malah sudah terisi penuh dengan pikiran aneh. Hmm.. Imam Al Ghazali aja pernah menasehati, kalau hal yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu.
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. (sumber).

Yaiya. Emangnya bisa balik lagi gitu ke masa lalu? Kemudian mengubah sesuatu, berharap ada hasil yang berbeda di masa kini? Banyak yang saya pikir tidak masuk akal. Tetapi menghapus sejarah dari timeline hidup adalah hal yang paling tidak masuk akal, dan jikapun bisa, akan berbahaya. Kita gak pernah bisa tau apa yang akan terjadi dengan mengubah masa lalu.
Reset

Reset. Bedanya dengan delete apa sih? Delete sih hapus satu bagian aja. Reset? Hapus semua. Delete yang lebih besar (atau banyak) kali ya. Reset lebih bahaya lagi menurut saya. Karena kita jadi harus merencanakan seratus hal yang lebih baik dibanding dengan hal yang sudah kita reset. Masalahnya, apakah ingatan kita masih ada pada saat semua sudah direset? Kalau tidak, maka percuma saja semuanya. Mana kita tau apa yang bener dan salah?
Reset. Leave them be. But how sad is that?
Corrected

Pernah denger 'kan, jika nasi sudah menjadi bubur, maka tugas kita selanjutnya bukanlah menyesali nasi yang jadi bubur, akan tetapi bagaimana membuat bubur itu tetep enak dan bisa dinikmati? Nah. Begitulah. Gak mudah memang. Tapi seandainya semua bisa diperbaiki, kenapa enggak? Masalahnya cuma satu: bagaimana? Dan jika sudah bisa menjawab "bagaimana", kemudian timbul pertanyaan lain, "apa bisa?". Lalu timbullah seratus pertanyaan lain yang jika diringkas sebenarnya adalah ini: "apakah ini sudah benar?".

***
Baligh. Apa sih definisi baligh? Simple-nya, bisa membedakan yang benar dan yang salah. Tapi kadang saya bingung dengan konsep baligh ini. Karena manusia berumur di atas dua lima saja kadang masih bingung bedain baik atau buruk. Ah enggak, mungkin bukan itu. Kita udah tau, hanya saja kemudian muncul kebutuhan akan penyesuaian-penyesuaian. Mencuri salah. Tapi karena gak punya duit jadi merasa gak apa-apa salah dikit. Korupsi salah. Tapi kesempatannya ada, jadi yang ngelakuin lama-lama gak merasa bersalah. Marah-marah melulu juga salah. Marah kan datang dari setan. Sekarang Ramadhan, setan dibelenggu. Kenapa masih marah-marah? Yaudah. Udah jadi kebiasaan emang. Pertanyaannya sekarang 'kan gini, mau dibiasain salah atau enggak?

Orang dewasa harus bisa jawab.

Namanya jadi glitch karena sudah dewasa. Tapi jangan sampai glitch ini jadi fatal error. Maukah mati dengan membawa seratus jenis glitch? Again. Orang dewasa harus bisa jawab.
Ini saya.

*images are retrieved from tumblr. Except the first one, that's mine.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!