29.10.15

Pilihan

Beberapa waktu ini saya banyak mendapat pelajaran. Saya punya banyak teori dari pengalaman dan bacaan. Bahkan teori 'gak berdasar yang dengan senang hati saya ciptakan sendiri. Beberapa dari teori itu benar. Beberapa ternyata salah. Kemudian beberapa di antaranya menjadi prinsip baru.

***

1
Saya sering bilang saya manusia yang cukup happy dengan hidup saya. Yah, memang sih banyak ngeluh. Tapi ya udah. Mengeluh terus menguap, gak ngendap. Kalau nguap ya hilang bersama udara. Kalau ngendap suatu saat dipanasin atau diaduk tuh bakal muncul lagi, mengaburkan lapisan jernih di atasnya.

Misal,
Kerja sebagai pengembara - ya daripada gak kerja.
Kerjaan susah dan dituntut serba mikir - ya daripada kerja repetitif dan bikin otak mandek.
Kerja di kota P - ya daripada di P yang lain.
Stuck dengan sesuatu - ya daripada gak ada sesuatu.
Bertahan dengan sesuatu - orang lain banyak yang lebih parah!

Ya. Alasannya, "it could be worse". Hey. It could be worse itu mantra orang malas. Dalihnya sih bersyukur. Tapi malas. Selain malas, ini juga cara orang bersyukur yang agak pengecut. Saya sadar banget saya termasuk orang yang punya kadar kemalasan dan kepengecutan di atas normal. Tapi masa menggunakan dalih-dalih bodoh itu sebagai cara bersyukur?
Me. Going to work with millions thoughts. Most of them are "lebay".

Kadang saya lupa. Di balik it could be worse ada could've been better. Iya. Semua bisa lebih baik. Jatuhkan pilihan sekarang juga.

2
Memory block. Supress bad memories. Forgetting the pain, substitute that ugly memory. Klise ya. Tapi jika terus-terusan melihat ke belakang apakah kita jadi bisa maju? Sumpah saya mau lah kalau ada cara ngeblok beberapa ingatan jelek yang menahan saya untuk bergerak. Untuk berani bergerak maju. Ya tapi apa sih arti "berani"? Bagi saya, bahkan merasakan sakit tapi kemudian memutuskan untuk sembuh adalah tindakan berani. Kembali lagi. Ini semua pilihan.

3
Bohong itu gak apa-apa. Ah sebenernya saya benci. BENCI. Dengan kebohongan. Tapi kadang ternyata bukan masalah bohongnya, tapi siapa yang bohong dan kondisi dia menciptakan kebohongan itu. Ya memang kebohongan 'gak ada yang baik. Tapi ketika berbohong adalah satu-satunya cara, misalnya meyakinkan diri sendiri kalau bergerak itu baik. Bergerak itu berani. Bergerak bikin maju. Padahal kaki aja gak punya. Tangan juga gak punya. Nah 'kan bohong? Tapi gak apa-apa. Siapa tau ketika saya percaya kalau saya punya tangan dan kaki, tiba-tiba magically tangan dan kaki itu tumbuh. Ternyata mempercayai kebohongan itu tergantung persepsi.

4
"Who" is an open question. Siapa. Adalah pertanyaan yang paling saya gak suka akhir-akhir ini. Kamu itu siapa? Misal. Kalau wawancara kerja gampang. Tinggal cari kata-kata berbunga-bunga, berpelangi, maka kemudian tiba-tiba diri jadi tampak indah. Tapi sekarang kalau mengintip ke kedalaman diri..."siapa?" Saya punya banyak versi jawaban. Dan saya masih enggan untuk menentukan jawaban paling benar.

5
Iman. Benar. Manusia tidak bisa tiba-tiba beriman. Fitrahnya iya. Tapi didikan orang tua, hidayah dan usaha yang menjadikan mereka beriman. Ibadah adalah cara membiasakan diri supaya lama-lama bisa beriman. Awalnya terpaksa. Kemudian gak bisa lepas karena penggugur kewajiban. Lalu kemudian kita sadar. Ke mana semua ini kalau landasannya tidak kokoh? Di mana iman? Ternyata "iman" masih sebuah misteri bagi banyak orang.

***

Memang lumrah, manusia banyak dihadapkan pada pilihan. Semakin tinggi levelnya, semakin sulit rasanya memilih. Pada saat itu label "bodoh" karena sulit memilih bisa dengan gampangnya menghampiri. Padahal untuk memilih, ada banyak faktor yang berperan. Hati. Pengetahuan. Pengalaman. Logika. Setan. Malaikat. Tuhan. Dan mungkin ada banyak faktor lainnya. Ketika salah satunya mengalami disfungsi, maka pilihan tersebut menjadi cacat.

Manusia dewasa harus bertanggung jawab akan setiap pilihan. Pertanyaannya, mampukah saya menjadi orang itu? Yang tidak banyak melahirkan pilihan cacat yang akhirnya jadi bumerang dan bukannya bikin maju, malah bikin mundur seribu tahun. Saya gak tau. Tapi saya tidak mau cacat (lagi). Kecacatan pilihan akan melahirkan kecacatan prinsip. Kemudian tentang memperbaiki landasan. Mampukah?
Mari bergerak.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!