Wednesday, December 30, 2015

Reuni

Apa manfaat dari reuni?

Bertahun-tahun sejak saya berhenti berperan sebagai murid sekolahan atau mahasiswa, dari dulu saya bukanlah orang yang terlalu excited ketika diharuskan hadir di acara bernama "reuni". Alasannya sih banyak dan sepertinya sih alasan-alasan tersebut gak jauh beda dengan alasan reuni-haters kebanyakan. Mari kita telaah (pake cara saya ya).
Pictures from my school years.
Berikut adalah beberapa alasan yang berhasil saya rangkum dari baca dan mengamati sana-sini:
  1. Masa lalu kamu kelam! Kamu khawatir saat melihat temen-temen lama kamu, kamu hanya teringat masa-masa kelam di sekolahan/ kampus. OH NO.
  2. Lo introvert dan gak banyak omong. Krik krik banget kalau dateng.
  3. Temen lo gak banyak; akhirnya lo jadi nanya dulu siapa aja yang datang? Temen lo gak ada? Oke skip.
  4. Lo berubah. Sangat berubah dan lo lagi gak butuh ditanya-tanyain kenapa kamu berubah. Misal, dulu lo kurus kering dan sekarang gendut banget atau lo ganti agama gitu.
  5. Lo gak berubah. Yang lain udah ada kerja, sukses, bawa pasangan, bawa anak, bawa cucu, bawa pembantu.. lo masih sama seperti saat lo sekolah/ kuliah (oh awet muda itu).
  6. Kamu takut jadi korban prospek :( Ada kan, temen yang lamaaa banget gak ketemu. Begitu ketemu, padahal dulu gak akrab, tapi tiba-tiba sekarang nawarin produk jasa gitu :(

Familiar gak? Kalau enggak, selamat! Kamu punya "modal" yang cukup untuk datang ke reunian hehe. Tapi di sini saya bukannya mau ngeluh. Saya termasuk orang yang fobia reuni (udah dibilang di awal postingan keleus). Hampir semua alasan di atas jadi alasan saya untuk tidak perlu datang ke reuni. Tapi kali ini agaknya saya sedikit tercerahkan (ya kali).

Monday, December 28, 2015

The Duff Concept, and Social Life in General

This post was originally written last week, you know something about "fake persons and stuff", but then I fixed it here and there in less than 4 hours. And then everything just blank again, except that illustration I made. I didn't know why I drew that flower for I am not a flower-ish kind of woman, but I did it. In the end I just confused what will I write afterwards because that post earlier was kind of too sarcastic to be published. It felt not so much like myself. Perhaps I was upset and nobody write well while upset. Okay, I'm sorry. I always upset.

I love rose. Rose is hard to grow.
I don't know if this post will end up being published in the end because I am not feeling great. I wrote somewhere else but couldn't find anything fit to write here. So I took several days off away from my office, back to my hometown. The day after I arrived, I caught some flu lol and today I think I'm starting to be recovered. So lame. I rarely got sick (physical ones lol) and being sick during holiday is troublesome! Duh!

Okay but forget that blah-blah-blah intro.

I was wondering my life lately. So many things out of control, so many stuff left undone, so much sadness. I forgot how to be myself and I felt bad about it. I lost interests in so many things and then I think there's time to gather everything again. You know. Hobbies. Friends. Families. Etc. My hobbies don't include anybody in it: drawing, writing, reading. Hmm. Perhaps that was because I actually not really good with social interaction with human (of course!) to be honest. If I was walking alone I would keep my head down, avoiding any unnecessary interaction except if I met somebody that I knew (ain't everyone is?). I'd rather say hi to a stranger cat than a stranger human lol.

Monday, December 14, 2015

Current Instagram Fixation

Sebagai seorang blogger, butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa sebenarnya saya lebih suka gambar daripada tulisan (sedih hiks). Jadi aktivitas blog walking saya lebih condong kepada pencarian gambar yang menarik mata saja. Hingga akhirnya saya pikir instagram adalah benda yang cocok buat memuaskan mata saya.

Penampakan IG saya. Silakan diliat-liat *malus*
Saya udah punya IG alias Instagram dari beberapa taun lalu. Sejak punya Android sih tepatnya. Hmm taun 2012 kayaknya. Tapi waktu itu bikin akun cuma biar nama @tweedledew gak ada yang make aja sih (padahal siapa juga yang bakalan make ya 'gak). Dulu saya gak tertarik sih. Pas baru lulus kuliah pas IG lagi rame diomongin orang, saya baru maenan Twitter. IG gak pake. Apalah daya HP saya cuma No*kia C3 yang buat FB-an aja lemah lunglai. Yah intinya gak bisa dipake IG-an. Terus pas saya udah punya HP lain, eh saya gak tertarik karena saya emang gak suka motret-motret. Bagi saya, motret terus difilterin sok-sok fotografer gitu dulu malesin. Moto buku di samping gelas, makanan, apalah apalah, terus difilterin. Semacam jadi profesional made gitu. Udah gitu hashtag bejibun bikin mata sepet. Huft. Saya gak anti membebek sih jadi waktu itu ya udahlah saya bikin, tapi ya cuma biar punya ajah. Gak dipake.

Bertahun-tahun kemudian saya tinggalin itu akun dan bingung mau saya apakan (karena saya juga lupa password-nya). Ngepost juga sepi likers. Eh taunya ternyata IG itu menarik sekali. Awalnya cuma dipake stalk akun artis (yailah padahal mau stalk siapa, waktu itu Ben Barnes gak punya IG hiks), terus follow-follow-an sama temen. Sekalian belajar bikin foto yang instagram-able haha. Lama-lama follow hijabers dan akun-akun modis. Sempet follow banyak akun olshop juga. Terus bangkrut gara-gara kebanyakan beli hijab huhuhu. *oke itu lebay*

Eh sampe sekarang jadi keranjingan karena hey, IG itu sangat informatif. Jadi buat orang yang suka ngetawain karena following saya lebih banyak dari followers saya, saya cuma mau nyinyirin aja, eh situ pake IG buat apa? Buat temenan? -_- Sorry kita beda prinsip. Hehe becanda. Bebas kok mau dipake apa. Buat saya, IG itu tempat nyari inspirasi, informasi, dan tempat curcol (for temporary posts sih haha). Jadi wajar sekali kalau followers saya jauh lebih dikit ketimbang following. Di samping itu, saya bukan selebgram apalagi seleb beneran. Bear with me. Got it, honey?

So, still about IG. Saya punya IG fixation sendiri. Beberapa akun di bawah ini adalah akun IG yang saya follow dan saya tunggu-tunggu banget postingannya. Here they are.

Wednesday, December 9, 2015

Proyek Marcapada

Saya baru saja menemukan sebuah istilah baru. Marcapada. Hehe. Sering denger sih soal "Mayapada". Tapi Mayapada kan artinya Khayangan. Lah ternyata dunia kita punya nama juga. Marcapada. Asik banget yak. Berasa di kisah wayang atau dongeng sasakala (aih ada yang tau arti "sasakala"? artinya "asal muasal" alias "legenda").

Mungkin sudah sering saya bilang kalau waktu SMP sampe kuliah orientasi seni saya lebih banyak ke komik. Saya ngegambar ya buat komik karena semua gambar saya ada ceritanya. Serius. Bagai punya dunia sendiri (ngek), saya punya "marcapada" saya sendiri. Dari kisah sci-fi sampe paranormal romance (ailah), sampe sasakala. Belakangan saya baru sadar kalau sasakala itu menarik. Gak kalah dari dongeng Grimm atau HC Andersen. Actually I love mythology. Indonesia punya banyak. Bukannya SARA tapi kebetulan saya orang Sunda sih jadi taunya soal sasakala alias mitologi Sunda aja. Itupun sedikit banget. Terus baru-baru ini ide itu muncul lagi di kepala dan saya pikir sudah saatnya eksekusi. Mudah-mudahan gak mati ide di tengah-tengah (saya gitu orangnya, seneng pas mulai doang ehhe).

video

Desain karakternya udah lama saya bikin. Tapi soal teknik saya masih kroco. Ciyus deh bukan merendah emang krotjo. Hmm. Biasanya saya paling males nge-share ide karena saya gak suka banget dengan aktivitas pencurian karya. Tapi apalah karya ini gak worth it buat dicuri juga haha. Cerita singkatnya sih tentang perempuan biasa. Tapi gak juga. Dia adalah perempuan ke tujuh dari ras Mayapada. Iyes. Bidadari broo. Dan emang terinspirasi kisah bidadari hehehe. Nah karena suatu kejadian dia dihukum sampe diturunkan ke Marcapada alias bumi dan di sana dia ketemu dengan seorang laki-laki desa yang misterius.