Tuesday, January 12, 2016

Kopi tanpa Filosofi

Ditulis Februari 2015:

Salah satu kebiasaan terburuk saya adalah, begitu mudah mengait-ngaitkan sesuatu dengan sesuatu. Contoh kecil, lagu. Setiap saya mendengar lagu A, pasti saya terkenang kejadian B. Atau tempat. Setiap memasuki tempat A, saya jadi teringat kejadian B. Iya. Ini memang kebiasaan yang sangat buruk karena rasanya saya jadi merasa susah bahagia. Lagu sih gampang, tinggal dihapus dari playlist. Kalau kedenger di radio atau TV, tinggal pindah channel atau matikan saja radio dan TV-nya. Tapi tempat?
Apa kita harus terus-terusan pergi dan berpindah tempat supaya bisa lupa semua?
Termasuk kopi.
Sumber gambar.
Agaknya saya memang tumbuh di keluarga yang menyukai kopi. Bapak saya penggemar kopi. Ibu dan uwak juga. Karena itulah saya jadi suka kopi sejak kecil. Ya.. bukan kopi yang spesifik sih, tapi hanya kopi seduh biasa. Namun semenjak penyakit maag saya naek level ke hampir kronis, saya ngurangin dosis kopi dan beralih ke kopi apapun yang gula atau susunya banyak. Belakangan saya lebih sering minum green tea atau cokelat supaya asam di lambung gak tambah parah. Sayangnya kemudian saya jadi benci dengan yang namanya kopi. Jadi rentan sekali rasanya dengan perih lambung gara-gara ngopi.

Ah, lebih tepatnya sih tempat ngopi. Anggap saja saya pernah jadi saksi sejarah yang saya pengen lupakan selama-lamanya, terkait ngopi-ngopi cantik atau apalah namanya itu. Seperti sebuah spion rusak, kafe tempat ngopi dan semacamnya seringkali bikin saya murung.


Tapi gak adil rasanya kalau saya jadi nyalahin kopi. Makanya kemarin ketika saya nonton Filosofi Kopi, tiba-tiba saya jadi kangen sekali dengan namanya ngopi. Pulang dari bioskop langsung nongkrong di tempat ngopi. Kemarin saya mampir ke tempat ngopi yang paling saya hindari, Exc*lso
  • karena pernah berantem sama pelayannya akibat salah paham soal pesanan. Untung aja kemarin orangnya hanya muncul pas ngantar bill. Saya gak bisa nyegah diri saya untuk sedikit jutek sama dia
  • padahal mungkin dia sudah lupa sama saya. But it happened anyway. Gue mah gitu orangnya.


Saya mandangin kopinya. Gak kopi-kopi amat sih. Warnanya cokelat muda, penuh susu dan gula. Topping-nya sereal gandum. Hmm.. cukup menarik. Terlalu manis malah.

Kemudian saya mengangkat wajah saya menatap ke kursi di seberang saya. Saya jadi teringat lagi dengan kejadian seribu tahun yang lalu. Ngopi bersama, di tempat yang hampir sama. Orang yang bersama saya di tempat itu juga sama. Minus tiga orang lainnya. Bedanya, kali ini dia gak menutup-nutupi atau ngetest-ngetest "pengetahuan" saya. Hanya ngobrol biasa. Ditambahi dengan ujian probabilitas basi yang biasa ia lontarkan. Buat apa?

Kemudian saya mengalihkan topik. Membahas sesuatu yang repetitif dan nyakitin itu bukanlah hal favorit saya.

Kopi itu benda pahit yang tidak semua orang compatible dengan dia. Walaupun beberapa orang masih masokis, sudah tau gak sanggup tapi masih berkeras mencoba. Ngopi di rumah baiklah, ngopi di kafe? Biar apa? Biar gaul? Biar bisa ngobrol di tempat yang enak? Wah jadi gak nyari kopinya dong kalau gitu. Cari filosofinya? Ini kan bukan film atau drama.

Diperbarui Januari 2016:

Spionnya berdebu dan saya gak punya cukup tenaga untuk membersihkannya. Saya tidak butuh kenangan itu lagi. Atau hal-hal lain yang bersinggungan dengannya. Atau hal-hal lain yang sering dihubung-hubungkan dengan itu. Entahlah. Agaknya "bahagia" kadang adalah resultan dari pengabaian terhadap hal-hal yang tidak penting, yang sudah saatnya dibersihkan dan haram hukumnya diendapkan di dasar ingatan. Kasian otak ya kan.

Kopi, tempat ngopi, filosofi kopi, apalah namanya. Hidup tetap berjalan. Tidak ada kaitannya lagi. Lagian saya udah gak bisa ngopi lagi jadi gak ada lagi hal-hal buruk yang harus difilter di ingatan. Hikmah ada dalam setiap pengalaman pahit. Berhenti menyalahkan keadaan, bersyukur atas masa lalu yang buruk. Masa kini masih lebih baik dan beberapa hal pernah sangat baik.

Blessing in disguise. Always.