11.2.16

Menjadi Bodoh

Ada kabar burung katanya kelas akselerasi di SMA saya bakalan ditutup. Hmm sampai tahun ini sudah dua belas generasi. Saya sedikit menyayangkan sih. Di mana lagi, orang-orang sombong yang merasa dirinya lebih pintar daripada orang lain, mendapatkan tempat yang sesuai dimana dia akan disadarkan kalau dialah yang bodoh kalau merasa lebih pintar dari orang lain?
That was true.
Sumber.
Saya punya temen di situ. Dia kayaknya gak punya pikiran lain selain dapetin rangking 1 di kelas. Sekolah bagaikan arena hidup yang levelnya naik terus. Ketika dia melihat kemungkinan untuk bisa rangking 1 lagi di SMA, dia senang walaupun kemudian dia membatin, "ah rangking 1 doang buat apa, kalau di kelas biasa." Sampai akhirnya muncullah pilihan untuk masuk ke kelas akselerasi. Iya. Dia angkatan pertama. Pas baru dibuka dan pas disebutin kalau IQ dia bagus banget, kepercayaan dirinya melambung dong. Sampai dia pun jadi mikir, "rangking 1 di kelas akselerasi. Ain't it fun?".
Tapi kemudian dia salah besar. Namanya akselerasi, semua penghuninya selalu rangking 1 dong waktu SMP. Ini lucu kali ya. Akhirnya dia belajar lebih keras dari orang lain. Shubuh-shubuh belajar. Malem belajar. Ya demi rangking 1. Apalagi SMA-nya favorit di kota itu. Bisa dipastikan yang masuk ke situ adalah orang-orang pintar dari SMP-nya masing-masing. Itu kelas biasa, apalagi akselerasi.

Pembagian rapor pertama. Dia cuma dapet rangking 4. Hancur hatinya. Akhirnya niatan dia berbelok. Okeh yang penting gue survive di sini, cepat-cepat lulus, cepat-cepat kuliah, cepat-cepat kerja. Gitu. Paling banter dia akan jadi "lulusan akselerasi". Ini gak gengsi-gengsian doang sih. Emang dia bukan tipe orang yang betah sekolah juga. Makanya pengen cepet-cepet lulus. Ah tapi kadang kan gengsi bisa jadi tolok ukur keberhasilan seseorang.
Hari demi hari ternyata survive menjadi pilihan yang sangat sulit. Bayangin pelajaran yang harusnya dilahap tiga tahun, harus ditelen bulet-bulet selama dua tahun! Yah kalau mau survive di ujian sama SPMB doang ya udahlah. Hapalin aja soal-soal dan penyelesaiannya. Tapi esensi belajar itu sendiri jadi hilang. Mungkin terdengar naif. Tapi temen saya ini padahal lebih suka belajar bahasa dan sejarah. Akselerasi di SMA saya adalah kelas IPA. Bayangkan bagaimana dia survive dengan fisika, kimia dan matematika yang kurikulumnya dipadatkan? Terlebih, dia sebenernya gak tertarik dengan pelajaran-pelajaran itu. Mereka cuma numpang lewat. Gak akan diam lama di otak dia. Esensi belajar pun jadi hilang. Because, apa gunanya belajar cuma buat ujian? Terlebih, apa gunanya belajar mafikibi cuma biar lulus SMA?
Dia pernah ingin menyerah. Karena gak berani bilang sama gurunya, dia sengaja gak belajar supaya dipindah ke kelas reguler lagi. Itu berhasil. Tapi fatal. Karena dia dapat rangking terakhir.
Hmm bukan itu yang dia harapkan. Rangking terakhir bukanlah gelar yang dia pengen capai. Apalagi waktu itu kakaknya yang ambil rapor. Protes. Dengan cara yang gak banget. Kemudian blunder. Karena akhirnya dia tetap gak dikeluarkan dari akselerasi. Di situ dia merasa bodoh untuk pertama kalinya. Menodai reputasi yang capek-capek dia bangun sejak kecil. Bagaikan sebuah tamparan yang benar-benar menyakitkan.
Bertahun-tahun setelahnya dia masih menyalahkan keputusan tersebut. Dia mikir untuk apa masuk ke kelas kayak gitu? Udah pelajarannya susah, eh dia juga gak bisa rangking satu hehe (iya masih rangking 1 orientasinya).
Tapi kemudian setelah dewasa dia bersyukur pernah ada di sana (dan masih hidup sampe sekarang). Hikmah kan selalu ada dalam setiap kejadian. Seperti:
  1. Ekspektasi. Orang selalu berharap yang tinggi dari kamu. Misal jadi juara olimpiade sains, atau masuk ke PTN bergengsi, atau bahkan nanti kerja di tempat yang bonafid. Ah itu terlalu jauh. Pas masih sekolah, orang berharap kamu bisa segalanya. Bagus sih. Standard jadi naik. Tapi ada yang lebih penting di sini. Memahami melesetnya ekspektasi. Ketika ekspektasi orang meleset, apa yang akan kamu lakukan? Marah-marah? Gak terima? Gak bisa gitu. Rugi sendiri. Di akselerasi, ini jadi sebuah isu utama.
  2. Pressure. Ini berkaitan sama ekspektasi tadi sih. Karena keinginan untuk memenuhi ekspektasi orang memuncak, pressure pun memuncak. Padahal buat apa? Apakah tugas manusia adalah untuk menyenangkan manusia lainnya? Gak semata-mata kayak gitu. Untungnya, dengan pressure kayak gini, teman saya jadi terbiasa ditekan. Dia gak shock pas kuliah atau kerja. Lah waktu SMA aja tekanannya udah kayak gitu.
  3. Ini sih yang paling penting. Menjadi "orang biasa" adalah pengalaman yang harus dialami setiap orang. Terutama orang sombong. Dia tau dia sombong dan gimana susahnya menekan rasa sombong itu. Teorinya, selalu ada yang lebih baik dari kita. Hmm sebenernya semua manusia itu sama aja. SAMA. Akhirnya dia menyadari itu di SMA. Jadi rendah hati itu penting.
Kayaknya itu sih yang paling diinget oleh teman saya. Bahwa menjadi rendah hati itu penting. Sempet teman saya itu stress banget. Down banget. Karena di akselerasi dia merasa bodoh banget. Padahal bodoh adalah ketika orang merasa sangat sangat pintar dan menganggap orang lain lebih rendah dari dia. Gak percaya? Bayangin. Dia terlalu bodoh untuk memahami bahwa kebodohan juga bercokol di kepalanya sendiri. Bahwa semua manusia sama dan jika orang itu bodoh dalam satu hal, dia bisa jadi pintar dalam hal lainnya. Dia gak paham itu. Itu kan yang dinamakan bodoh? Tapi ayolah. Menjadi bodoh adalah pengalaman yang menarik.
Saya harap orang lain juga merasakan momen bodoh itu supaya manusia gak ada yang sombong. *mungkin gak sih manusia gak ada yang sombong? Inget. Sombong itu bodoh.
Ah racauan apa ini. Jika alurnya berbelit-belit dan maksud saya gak sampe ke kamu, mungkin saya terlalu bodoh untuk merangkai kata. Yah. Bodoh itu tidak selalu jelek kok. Bisa jadi kamu sedang disiapkan untuk kecerdasan yang lain. Kecerdasan hati atau emosi misalnya. Even kecerdasan sosial. Sempit kalau mengukur kebodohan dengan ilmu-ilmu yang dihubungkan dengan logika semata (kalau temen saya bilang sih, ilmu empiris).
Ya udah intinya, sayang banget kelas kayak gitu ditutup. Kasian, mungkin bakalan ada anak yang merasa pintar dan tidak tercerahkan secara emosi sampe dia dewasa nanti. Ah tapi banyak jalan menuju Roma. Memintarkan emosi gak hharus via kelas akselerasi toh? Nunggu hidayah juga bisa. Wallohu'alam.