Saturday, February 6, 2016

Berjilbab Itu Mahal

Membicarakan proses berhijab selalu menyenangkan bagi saya. Entahlah. Ada yang bilang ini usaha menyombongkan diri, riya' dan istilah lain sejenis (bukankah masalah terbesar orang yang menyampaikan kebaikan itu begitu? Dianggap sombong, riya', fanatik, militan). Tapi ya udah.

Back to topic, proses berhijab sudah pernah saya bahas sedikit di postingan yang ini. Hmm gak tau deh. Tiba-tiba aja saya jadi pengen bahas lagi. Mungkin karena saya abis nonton KMGP? Saya gemes ketika ada orang sudah berjilbab, terus mencela orang yang belum dengan kata-kata "ih apa susahnya sih jilbaban, tinggal pake doang". Itu salah. Karena berjilbab itu susah.

At least waktu itu.

1999

Di suatu tabligh akbar pas syukuran hatam anak-anak ngaji pas SD, ustadz-nya ngasih ceramah kayak gini:
"Menutup aurat itu perintah Allah dalam Al Qur'an. Gak laki gak perempuan semuanya harus menutup aurat kecuali di depan mahrom-nya. Aurat perempuan yang banyak. Seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Dan bukan cuma sholat atau ngaji aja perempuan harus menutup aurat"
Dalam hati saya:
"Hah? Berarti harus mukena-an gitu tiap ke luar rumah atau ketemu orang lain? Mukena kan buat sholat doang. Aneh."