15.4.17

Garis

Untuk seorang teman.

Garis-garis itu berwarna merah atau hitam, beberapa berwarna cokelat atau kelabu dengan ketebalan berbeda-beda, berukuran sekitar lima sampai delapan sentimeter, dan jumlahnya lebih dari sepuluh. Ami bilang garis-garis itu indah, makanya ketika aku menyuruh dia berhenti membuatnya, Ami bisa saja berang dan aku akan menyerah. Kemarahannya sering membuatku pilu. Aku pernah bertanya mengapa, tapi Ami biasanya hanya tersenyum misterius dan bercerita sambil lalu. Ami bilang, masing-masing garis punya arti sendiri-sendiri. Misal yang hitam, yang dibuat tiga bulan lalu, berarti “bodoh”. Atau yang kecokelatan, dibuat lebih lama dibanding yang hitam dan lebih samar (mungkin waktu dan cuaca menghamburkan semuanya), artinya “lemah”. Sayang sekali aku tidak pernah sempat memergoki saat Ami membuatnya. Kalau saja waktunya tepat, seharusnya aku bisa mencegahnya, dan mungkin garis-garis itu tidak akan jadi sebanyak ini.
Ami masih terduduk, menunduk sambil memeluk lutut di atas dipan yang beberapa hari ini tidak pernah ditinggalkannya. Beberapa detik yang lalu padahal dia masih menatapku tajam karena aku merebut benda kesukaannya: penggaris terkutuk itu. Sekarang bisa kupastikan bahwa dia sedang menangis tanpa suara. Walaupun keras kepala, Ami malu kalau ketahuan menangis. Kadang-kadang dia akan menggambar garis lagi – untung saja penggarisnya sudah kusita. Ingin kusentuh kepalanya, sekedar menghibur dan meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.

Tapi aku pun tidak yakin kalau semua akan baik-baik saja untuk Ami.

Ya, setelah sebulan yang lalu garis-garis itu dilihat orang – tepatnya tak sengaja terlihat orang (ngomong-ngomong aku masih menyalahkan diriku sendiri soal ini, andai bisa kucegah), Ami jadi tak percaya lagi pada siapapun. Orang-orang itu mengurungnya di sini. Karena aku satu-satunya yang mengenal Ami dengan baik, mereka mempercayakan Ami padaku. Aku marah sekali sebetulnya. Mereka pikir, aku bisa berbuat apa? Ami menolakku. Tidakkah mereka tahu?

Kamu harus berhenti,

Ujarku dengan hati-hati pada Ami. Ami menjawab,

Kamu tidak mengerti.

Apa yang aku tidak mengerti? Bukankah kita selalu bersama?”, tanyaku.

Iya, tapi kamu cuma tahu isi kepalaku, tidak dengan hatiku.” Lagi-lagi Ami menatapku tajam. Pipinya basah.


Kalau begitu beritahu”, ujarku lembut. Aku berharap, kelembutanku bisa menyentuh hati Ami seperti dulu. Seperti dulu lagi.

Ami terkekeh pelan.
Kamu cuma ingat tiga sementara aku punya belasan. Dan itu belum menjelaskan semuanya. Terus kamu suruh aku berhenti. Bagaimana caranya?” Balas Ami setengah mengejek.

Bagaimana caranya supaya Ami percaya lagi padaku? Desahku, hampir menyerah.

Aku rasa otakmu yang kejam. Bukan hatimu, Ami. Garis-garis itu dari otakmu, katamu. Tapi menurutku itu tidak logis. Sepertiku, dia juga akan menolak mereka mentah-mentah. Hey. Jangan-jangan kamu yang salah. Bukan otakmu pelakunya.

Ami berjengit kemudian yang kuingat, dia mencoba melemparkan sesuatu padaku. Mungkin pena. Atau gelas. Barangkali piring. Aku tidak tahu, karena lemparannya meleset. Aku sebenarnya tahu, Ami paling benci ketika otaknya disalahkan. Otak kesayangannya. Setelah itu aku meninggalkannya sendiri.

Terbayang Ami yang wajahnya menggelap tatkala menggambar. Lupakah ia pada-Nya? Ami bilang, lupa. Aku bisa mati kalau terus-terusan begini. Ami tanpaku, akan jadi apakah ia?

Aku perlu tidur sebentar.

Yang kumaksud “sebentar” tentu saja bukan lima menit. Tapi rasanya aku memang baru terlelap lima menit sampai kemudian kudengar suara Ami membanting pintu dengan sangat keras. Aku harus lihat apa yang dia lakukan sekarang. Aku tertegun ketika kuhampiri Ami, ternyata dia tidak sendiri. Dia sedang bersama temanku yang lain – juga teman sekaligus musuh Ami – yang aku heran mengapa dia bisa masuk lagi. Padahal aku juga sudah mengupayakan pengusiran terhadap si nahas itu. Maaf, jujur aku sangat benci padanya. Tidak hanya karena dia teman Ami yang paling buruk, yang ketika dia datang, Ami semakin bernafsu menggambar garis-garis itu lagi; aku bahkan bingung mengapa Ami masih berteman dengannya dan tidak mengusirnya saja. Ah, aku jadi ikut marah. Oleh karena itu kudamprat saja dia,

Tolong bantu aku, kita semua di sini menyayangi Ami. Di mana Ami sekarang? Tolong beritahu.

Teman Ami yang ini terdiam sejenak. Mungkin dia mempertimbangkan akan menjawab atau tidak.

Sumpah. Aku tidak tahu. Aku hanya datang menengoknya, lalu dia pergi. Kenapa kau tidak tanya saja pada musuhnya?

Musuh Ami? Jangan kira aku suka mendengar tentang dia. Aku pun mungkin sudah dianggap Ami musuh, sama seperti dia. Aku tahu di mana musuh Ami. Setiap kali Ami didatangi atau mendatangi temannya yang ini, pada akhirnya dia akan menghampiri musuhnya. Seperti membuat kesepakatan yang sudah beberapa tahun ini aku tak mampu cegah. Lemah sekali diriku, bukan? Maka akupun langsung bergegas menuju musuh Ami berada. Bisa kudengar teman Ami yang tadi menahan tawanya lagi. Mengapa dia sangat menyebalkan ya?

Benar saja. Ami memang di situ bersama musuh kesayangannya. Aku bilang kesayangan karena belakangan ini kalau aku lengah sedikit saja, dia akan menghampirinya. Bahkan tanpa bertemu dengan temannya yang tadi pun terkadang dia bersama musuhnya. Musuh kita. Bercakap-cakap dengan riang. Melupakanku. Tapi aku tidak bisa marah.

Ami!

Ami mengacuhkanku. Dia masih saja asyik bercanda dengan musuhnya. Maka kupanggil Ami sekali lagi.

Ami!! Jangan di situ.”

Musuh Ami mendongak. Mengacungkan sebuah penggaris – astaga, mengapa benda itu semakin banyak muncul, pikirku harusnya semuanya sudah kubuang. Ami masih bergeming. Dia belum meraih penggaris itu. Aku tahu jika Ami sudah meraihnya, maka dia akan membuat garis merah. Garis merah yang sangat disukainya dan paling kubenci.

Aku segera menghampiri mereka dan berusaha merebut penggaris itu dari musuh Ami. Musuh Ami kuat sekali. Jika aku nekat melawannya pasti aku akan sakit selama beberapa hari. Tergantung apakah Ami masih mau berteman denganku atau tidak. Karena biasanya Ami yang merawatku jika saja dia masih temanku.
Tak kusangka, teman Ami menghampiri Ami dan membisikkan sesuatu padanya. Aku tidak tau apa itu. Semoga saja dia membisikkan hal yang baik. Ami memerlukan itu sekarang. Kalau tidak aku akan mati dan musuhnya akan menang.

Kemudian Ami mengulurkan tangannya padaku. Tak kusangka dia menarikku dari musuhnya.

Musuh Ami tertegun. Ami menangis lagi. Tapi aku sudah terbebas dari musuhnya.

Kamu tidak mau menggambar garis lagi? Seharusnya kamu marah kan? Aku akan menemanimu. Jadi lepaskan dia dan mari kita menggambar garis.” Bisa kulihat musuh Ami pucat saat mengatakan ini. Tenaganya melemah. Aduhai, ini sepertinya hari keberuntunganku.

Ami menjawab,

Lepaskan penggarisnya. Aku sedang tidak mood menggambar garis. Aku mau istirahat.

Ami pun berlari meninggalkan tempat itu. Bisa kurasakan tangannya meraih tanganku bersamanya. Teman Ami mengikuti kami dari belakang. Samar-samar, aku melihat musuh Ami terpana. Aku tahu dia akan kembali kalau Ami sedang kalut, atau kalau teman Ami bertingkah aneh lagi. Tapi aku harus selalu ada bersama Ami apapun yang terjadi. Mungkin aku bisa mengarahkan teman Ami supaya menjaga bicaranya? Aku tidak tahu. Semua tergantung Ami.

Satu hal yang kusyukuri, kali ini Ami gagal menggambar garis! Bagaimana bisa aku dikalahkan oleh temannya Ami yang menyebalkan itu? Huft. Ada makhluk-makhluk lain bernama manusia yang baik padanya. Tidak semuanya jahat, Ami tahu. Tapi butuh ratusan kali pengingat, antara aku dan teman Ami (kalau dia sedang bersikap baik).
Kuberitahu sebuah rahasia. Pada mulanya akulah yang menyebabkannya. Rasa sakitku selalu direkam dengan baik oleh teman Ami. Ketika temannya berkunjung, Ami jadi ingat kalau aku sedang sakit. Entah bagaimana, dia akan menghampiri musuhnya. Kemudian musuhnya akan bercokol lama di kepalanya sampai dia memutuskan akan mempercayai aku atau tidak. Kadang-kadang di sini aku butuh juga pada teman Ami yang tidak kusukai. Habis dia selalu berubah-ubah. Kalau aku berhasil, temannya akan datang memakai baju bagus dan Ami akan senang lagi. Semua tergantung Ami.

Ya. Kami semua ada dalam diri Ami.

Teman Ami adalah memori.
Musuhnya adalah emosi.
Aku adalah hati Ami.

Perjuangan masih panjang. Mudah-mudahan tidak panjang. Aku masih harus berjuang walaupun garis-garis itu memudar, warnanya tidak kelihatan lagi, tidak mewakili apa-apa lagi, tidak membuat Ami marah lagi, masih perlu. Memori datang dan pergi. Tugasku mengingatkan dia agar menyimpan yang jelek di dalam laci. Terus demikian. Sampai semua garis-garis itu lenyap.

Dari pergelangan tangan Ami.


Palembang, 28 Maret 2017