Tuesday, April 25, 2017

Titik

Saya tidak terlalu paham bedanya anugerah dan ujian. Terutama dengan hal-hal yang secara kasat mata sempurna. Misalnya, karir bagus, harta cukup, disayangi banyak orang, pekerjaan yang nyaman, keluarga tanpa cela. Bukankah hal-hal seperti itu terlihat sempurna dan diinginkan banyak orang? Tapi ternyata tidak semua terasa sempurna bagi si pemilik hal-hal itu. Tidak bersyukur? Tidak bisa divonis begitu sih. Tidak puas? Juga belum tentu. Maka dengan demikian batas antara anugerah dan ujian pun melebur. Anugerah, karena semua terlihat sempurna (bagi orang lain khususnya). Ujian, karena kesempurnaan itu punya biaya yang mahal (bagi si pemilik kesempurnaan).

Saya termasuk orang yang percaya, bahwa ketika beberapa titik mempunyai skor yang lebih, ada titik (-titik) lain yang harus dikorbankan. Mengapa? Karena saya tahu Tuhan itu adil. Sempurna itu milik-Nya. Bukan makhluk-Nya.

Lizzie Bennet from Pride & Prejudice by dif. Watercolor on Ordinary paper.

Makanya ketika seolah-olah saya "membiarkan" beberapa titik yang skornya rendah, ya saya memang punya pertimbangan alias idealisme sendiri soal itu. Saya merasa cukup dengan beberapa skor tinggi yang saya punya di beberapa titik dan akan berusaha membuatnya penuh karena saya merasa mampu di situ. Kecuali, ketika saya merasa sudah saatnya memindahkan skor. Mengorbankan satu titik untuk memperoleh titik lain. Hasilnya? Naik level, mungkin. Demi mengejar keseimbangan yang baru. Kadang-kadang kita kudu milih karena memang tidak semuanya bisa punya skor yang tinggi.

Apakah saya terdengar pesimistis? Mungkin. Skeptis? Mungkin.

Dari sekian banyaknya titik-titik itu, ada satu yang warnanya abu-abu. Skornya ditentukan oleh apa atau siapa yang mengisinya. Sayang sekali, siapa atau apa ini, kadang-kadang sifatnya temporer. Dia mau ada di situ tapi tidak bisa lama-lama. Atau tidak sekarang. Atau tidak sesuai dengan konfigurasi titik - semacam potongan puzzle yang bentuknya tidak matched - salah alamat.

Well, saya gak percaya dengan sesuatu yang dari awal dilabeli temporer. Kita tidak merencanakan kesementaraan. Hidup saja sudah sementara. Fana. Tidak perlu lah ada sementara-sementara yang lain. Dalam kesementaraan ini saya tidak butuh variasi. Saya butuh yang sesuai konfigurasi - sesuai kehendak-Nya. Saya mau titik yang ini sempurna. Jika saya punya dua puluh titik yangmana saya tahu tidak mungkin semuanya sempurna, boleh dong saya minta yang satu ini sempurna? Iya, sempurna itu milik-Nya. Tapi boleh dong, saya minta skor yang sempurna dalam versi saya?

Saya mau titik ini anugerah. Bukan ujian.

Itu.