2.1.18

The Expected Uninvited

I was in the middle of rushing to catch a usual homecoming flight from Palembang to Bandung when suddenly one of my colleagues called me - a way too long one - on the phone. Because of this call, I didn't hear my name being called many times on the PA announcing they would fly soon if I didn't rush. And so just it.

I skipped the flight.

In my right hand I still had my freshly packed pempek for my family. God knows what was the history behind that unearthly box (okay, I was slipped on the wet floor - with no "caution wet floor" sign on it - with a small sick muscle and big embarrassment while exiting that pempek shop). So I was just there. Sat for a while mourning my incapability of hearing (was my ears covered with extra wax or something that moment? eww) that important thing, until I realized that something else - bigger one - was about to happen.

Artwork by Me.

201 Days Before

Karena gagal pulkam di sebuah long weekend nahas itu, akhirnya saya memutuskan untuk ke luar kamar - maksudnya, saya akan "terjebak" di sini selama tiga hari lagi dan saya harus punya kegiatan dong selain hanya tidur dan makan di dalam kamar. Jadi saya pun berencana untuk ke toko buku yang dilanjutkan dengan acara menggambar siang, dan yaah kayaknya oke juga kalau diakhiri oleh pijit refleksi (saya sama sekali gak cinta sama yang namanya pijit-memijit, namun peristiwa "jatuh" terpeleset di lantai basah di toko pempek itu mengakibatkan bahu kanan saya memar dan kaku hikss) di dekat kosan saya.

Tampak seperti rencana yang bagus, bukan?

Sesampainya di toko buku, saya lagi asyik memilih-milih buku sambil sesekali membaca beberapa penggal kalimat di dalamnya sebelum memutuskan akan membeli yang mana, ketika ponsel saya berdering dengan tulisan "Ibu" terpampang di layarnya. Ibu bukanlah orang yang suka basa-basi dan jarang sekali menelepon jadi ini pasti penting, pikir saya.

"Ya, Bu?"
"Neng lagi di mana?"
"Di toko buku, kenapa bu?"
"Oh... ntar kalau udah pulang, udah sampe kosan, kabarin ya. Ibu mau nelepon, penting."
"Eh da eneng mah masih lama pulangnya? Sekarang aja atuh?"
"Pokoknya ibu mah seneng banget, tadi ada yang dateng sekeluarga."
"Keluarga siapa bu?"
"Keluarga "dia"."

Berbagai pikiran husnudzon campur ngarep pun bermunculan. Mau ngapain?? Masa mau... Ah masa sih??? Kenal gitu? Kok bisa?

Sepertinya saya pingsan. Gak deng.. tanpa banyak bertanya lagi, saya jadi 'gak konsen setelahnya sehingga buru-buru menyelesaikan kunjungan toko buku hari itu dan bergegas menuju tempat-tempat berikutnya ternasuk tempat pijat refleksi. Bahu ini modal. Saya harus sembuhkan ia bagaimanapun penasarannya saya terhadap berita itu.

Segera setelah saya mencapai kosan, saya pun langsung menelepon ibu saya lagi.

Sumber.
And then she told me about you. And your words. And your purpose. And your proposal. PROPOSAL!

My first question was, did I invited you? How? Yes I was expecting you to come since I didn't know when.. but why now? Why here?

Semua serba diatur oleh-Nya. Bahkan hati ini, juga milik-Nya. Adalah salah saya ketika saya "menunggu" hasil yang ini hanya untuk menentukan ke mana saya akan melangkah. Padahal seperti saya bilang, saya "memilih" dirimu pun sepihak. It's kind of a one sided weird crush. Melangkahi-Nya. Tidak baik, ya?

Lalu hari ini ternyata kamu datang dengan membawa maksud terbaik sedunia (juga seakhirat, kayaknya hehe).

Sumber.
Melalui ibu, dirimu menjabarkan semuanya. Memohon izin. Meminta saya. Restu. Lugas. Tegas. And you brought your parents, too. Were it just too sweet? Sebagian orang mungkin merasa dijebak. Saya tidak. (Ya gimana orang saya memang ngecengin hehe).

Being ambushed like that. Felt surprised yet amazed.

Tapi memang itu 'kan, yang selalu saya rindukan? Didatangi dengan cara yang baik. Tidak melangkahi orang tua saya, yang sudah melahirkan, membesarkan, mendidik, dan jasa-jasa lainnya yang tidak akan pernah sepadan dengan siapapun yang mendatangi saya?

Pikiran saya melayang pada tiket pesawat yang hangus itu. Bagaimana saya waktu itu bersungut-sungut karena terpeleset di toko pempek, kemudian ketinggalan pesawat, lalu pempeknya terpaksa saya kirim via JNE ke Sumedang lol. Bayangkan. Kalau saja saya tetap pulang, dan ternyata kamu datang pada saat saya ada di sana? Well pasti awkward dan maluuu banget.

Saya tersadar. Kali ini saya 'gak mau mengesampingkan Dia lagi dalam hal sepenting ini. Alhamdulillah. Semua yang terjadi, berujung lagi padamu. Pada bagaimana kita bermula.

Sumber.
Pertanyaan selanjutnya, “bagaimana saya harus menjawab permintaanmu?” Haruskah saya melakukan perbuatan nekat ke dua: bertanya langsung?

No comments: