27.3.18

The First Milestone - Lamaran

This is the reason why I posted "How Not To Be The IT-Zilla" earlier hehe. Because 6 months for a wedding preparation (yeah you know now, "IT" refers to Bride - I was just too shy to mention it), as they always say, is too short. I didn't hire any wedding organizer so you could imagine the chaos. So here are how the journey progressing till the date. This is not The Sims 3 so if you failed, you can never start it over.

Lupakan euforia bagaimana Mr. Darcy telah memilih saya dengan cara yang begitu ajaib dan super fairy tale-ish (hehe). Selanjutnya mau gak mau saya kudu mikirin teknis. Menye-menye-nya sudah habis (pending dulu sampe resmi menikah), karena yah, bagaimanapun saya dan dia memilih tidak menunda lama karena kami khawatir akan berujung "pacaran". Saya pribadi udah ogah banget kalau kudu nikah pake jalan pacaran. Rugi waktu, rugi hati (bahkan tenaga wkwk) - dosa pulak. So akhirnya saya dan dia segera membicarakan tanggal.


Ada dua tanggal yang kami bicarakan yaitu tanggal lamaran dan tanggal akad-walimah. Hmmm kenapa ada lamaran? Toh saya sebenarnya udah dilamar. Dua kali, malah (wink). Hmm.. sebelum menjadi orang tua, kita adalah anak dari orang-orang tua kita yang pasti punya keinginan tertentu untuk anaknya. Saya anak perempuan satu-satunya dan dia anak lelaki satu-satunya. Jadi tentu ada beberapa penyesuaian supaya semua kehendak bisa terfasilitasi. Ini ternyata ada seninya sendiri. Kita gak boleh egois, misal gak mau tunangan, pengen langsung nikah aja, atau misal gak mau pesta besar, karena pengen private party (yuhu), namun ternyata keinginan orang tua beda. Kudu sabar dan tetap bermusyawarah tentunya. Di sini potensi tergelincir ke arah dosa lumayan besar. Orang bilang, mau nikah itu godaannya banyak. Kami rasain memang bener. Tapi alhamdulillah semua sudah terlewati.

Satu hal yang selalu kami ingat, bahwa "menikah itu mudah". Maka tugas kita adalah untuk tidak mempersulitnya.

92 Days Before

Acara lamaran dilaksanakan di rumah saya secara sederhana. Tidak ada kebaya baru (saya dibikinin gaun baru sih sama ibu haha - abisnya ibu maksa), MUA profesional atau fotografer sewaan, karena acaranya hanya tukar cincin dilanjut makan bersama antara dua keluarga yang lagi-lagi jauh dari kesan mewah. Bagi kami, niat dan perjalanan menuju pernikahan saja sudah terasa mewah, lantas mau semewah apa lagi? Begitu hangat acara perkenalan ke dua keluarga kami, menggunakan bahasa pengantar basa Sunda yang membuat acara menjadi super klasik. You know what, hari itu kayaknya baru pertama kali saya merasa deg-degan luar biasa demi mendengar pertanyaan sakral lamaran dan harus menjawab dengan bagus. Sebenernya intinya sih mau bilang "iya" haha.. dasaran aja tukang nonton film, jadinya semaleman saya gak bisa tidur mikirin mau jawab apa kalau ditanya. Besokannya mata saya agak cekung karena kurang tidur. Alhamdulillah acaranya lancar.


Detail acaranya kami keep aja ya biar jadi kenangan buat kami hehe.

Kami gak ada waktu euforia lagi. Padahal hati ini rasanya bahagiaaaaaa banget, pengen menye-menye dikit lah. Karena waktunya super sempit dan kami berdua super sibuk di kantor, tanpa menunda lagi, di situ kami langsung membahas tanggal akad dan walimah. Kami berdua anti ribet, dan kurang suka merepotkan banyak orang, oleh karenanya kami berupaya supaya akad dan walimah bisa dibikin satu hari. Alhamdulillah keluarga setuju. Lalu dia memberikan saran tanggal, dan saya, setelah berdiskusi dengan orang tua, langsung mengiyakan. (Taunya saya juga baru sadar setelah nikah, pas ngecek buku nikah, ternyata tanggal dan bulan Masehi pernikahan kami itu kebalikan dari tanggal dan bulan Hijriyah-nya. Subhanalloh!)


Sepanjang hari saya tidak bisa berhenti tersenyum - bukan cuma tersenyum mengingat betapa malunya waktu itu, atau tersenyum karena akan menikah - namun juga super bahagia karena yang Allah berikan adalah dia. Lalu bagaimana dengan pandangan skeptis saya soal pernikahan? Hmm ajaib sih, setiap hari saya berdo'a supaya niat selalu lurus dan tidak menikah karena "normal" saja, akan tetapi menikah karena ibadah. So pelan-pelan yang begitu tergerus. Panjang sih, karena namanya kelebatan pikiran dan hati kan tidak bisa kita atur sendiri. Namun senantiasa beritigfar tuh bermanfaat banget loh.

Saya pernah baca, yang namanya jodoh adalah orang yang menikah dengan kita. Kami belum menikah watu itu. Jadi sebenernya masih ada kemungkinan dan kekhawatiran kalau dia belum tentu jodoh saya. Takut dan cemas bergantian masuk ke hati dan pikiran. Namun semua dapat kami tepis bersama, karena kembali lagi, semua telah diatur-Nya. Jika nanti ada kendala, apapun itu, yakinlah bahwa itu yang terbaik menurut-Nya. Yang penting kita berusaha menghadapi, berdoa dan jangan lupa memasrahkan diri. Yakin bahwa yang kita lakukan ini baik, insya Allah dimudahkan dan dilancarkan. Bismillah!

*Ini adalah kisah sambungan dari "To Be Mr. Darcy's". Biar nyambung, yuk baca yang ini dulu hehe.
1. Picking "You" Out of The Blue
2. The Expected Uninvited
3. When In Doubt, Ask HIM

1 comment:

  1. Menikah karena ibadah. Ini kunci pentingnya ya, Mbak. Bismillah...

    ReplyDelete

WOW Thank you!