26.3.18

When In Doubt, Ask HIM

Saya termasuk orang yang paling risih jika harus membahas "pernikahan". Soalnya jaman-jamannya saya pengen nikah banget tuh pas umur 25 wkwk (which is, 3 tahun lalu). So ketika "target" ini lewat, ya sudah saya tidak ada keinginan membahasnya lagi dengan terlalu menggebu-gebu. Abisnya, bayangin aja, kita kalau liat feed instagram, atau status WA, atau FB, apalah namanya, dari single ladies yang "kelihatan" banget pengen nikah, galau, mellow, hmm awalnya sih simpati ya tapi lama-lama kok ya annoying banget. Seolah-olah seluruh dunia harus tau banget gitu kalau dia menderita karena belom nikah. Emangnya dengan kayak gitu, bakalan ada "pangeran berkuda putih" dateng, gitu? Ngajakin nikah biar elu 'gak sedih? 'Gak akan layaw.. Gimanapun, bentuk "ikhtiar" dengan cara gitu tuh gak saya banget (jomblo penuh harga diri wkwk).

Intinya saya anti banget kelihatan begitu. Umur 25, tidak ada tanda-tanda diajak nikah ama siapa-siapa. Deep down inside sesungguhnya saya sangatlah galau. Terlebih saya anak perempuan satu-satunya dan bapak saya sudah tua...

Lalu bentuk ikhtiar apa yang pantas, atau bisa, saya lakukan? Toh, saya ini selain punya harga diri tinggi, juga kurang suka "jemput bola". Saya 'kan perempuan, salah-salah, niat menjemput jodoh, atau menikah, malah diterjemahkan jadi ajakan pedekate, ajakan pacaran - which is a BIG NO, karena buat saya "pacaran" itu merendahkan perempuan serta institusi pernikahan. So akhirnya saya hanya banyak berdo'a, namun bukan berdo'a segera menikah, tapi minta diberikan situasi dan kondisi yang pas - which is sudah pasti Allah akan berikan yang seperti ini.
Maka, dia pun muncul di do'a-do'a saya. Gak tau juga gimana caranya, pokoknya nama dia masih terselip di sana. Bukan sebagai istikharah, toh belum ada tanda-tanda apapun waktu itu. Hanya, dalam usaha saya berdamai dengan diri sendiri dan situasi terjelek dalam hidup saya pada saat saya berumur dua enam waktu itu, saya cuma ingin "diselamatkan". Namun ada rasa miris dan sedih di hati, karena pengalaman hidup membuat saya berubah dan makin skeptis tentang pernikahan. Kok ya kasian, jika dia harus merasakan pahitnya hati dan pikiran saya waktu itu.

Yah, waktu menjawab semuanya. Saya yang berumur 27 tentunya tidak senaif dan sepolos saya yang berumur 25. Atau 26. Sudut pandang berganti menjadi, well, banyak sekali hal yang bisa dilakukan sebelum menikah. Menikah itu banyak risikonya, begitu dalam benak saya. Saya belum tau apakah saya butuh menikah? Merelakan diri agar siap "diganggu" laki-laki lagi haha... Saya perempuan yang super merdeka. Banyak hal yang ingin saya lakukan dan itu semua belum tentu bisa dilakukan kalau saya menikah. Saya 'kan tidak tau, suami saya nanti seperti apa. Apakah dia akan mengizinkan saya melakukan hal-hal itu? Apakah saya tidak akan tertekan? Apakah  dia tidak akan berkata-kata kasar, merendahkan, atau memaki kepada saya sekalipun saya menyebalkan? Apakah dia percaya kalau saya baik? Dan sebagainya.

Menikah itu, bagi perempuan mandiri seperti saya, rasanya horror aja, rasanya mungkin seperti “merelakan” sebagian atau bahkan seluruh kemerdekaan saya kepada ia yang nanti jadi suami saya. Ada seseorang yang harus saya urus. Sementara saya sendiri masih alpa mengurus diri sendiri. Bangkit dari macam-macam patah hati aja bisa seratus tahun gitu loooh hahaha gimana kalau patah hati saat menikah?

Apakah saya bisa? Dan bisakah saya percaya ada laki-laki yang tulus dan baik meminang saya?

Sumber.
Pun saat ia datang. Bahagia, sudah tentu. Ketika kami saling tau bahwa kami saling menyelipkan satu sama lain di setiap do'a kami, di saat saya menyebut namanya untuk "bertanya" kepada Allah, apakah saya masih ada kesempatan, dan apakah dia adalah jodoh saya... ternyata dia menyebut nama saya supaya Allah berikan keyakinan akan saya sebagai pilihannya. Ajaib. Subhanalloh. Sekali lagi, kami tidak pernah benar-benar "pedekate".

Allah menjawab do'a kami.

Sangat sedikit yang saya tau, walaupun saya menanyakan dia kepada Allah, faktanya saya tidak tau apa-apa. Saya terenyuh saat dia, berbekal keyakinan hasil istikharahnya, tidak berusaha pedekate tapi langsung meminta saya kepada orang tua. Ah... saya malu sekali. Padahal bekal saya apa? Selain ngeceng di tahun 2014 itu, saya hanya tau bahwa dia adalah satu-satunya lelaki yang bapak saya tersenyum dan menyetujui dia menjadi suami saya.

Seajaib itu dia. Tapi masalahnya bukan "dia", tapi "saya". Memangnya dia bisa bersama saya? Saya mampu?

Menikah ya. Saya tidak tau apa saya bisa. Pandangan saya tentang pernikahan sudah terlanjur skeptis. Tapi itulah perannya syaithan bukan? Sampai kapan saya akan membiarkan pikiran saya dipermainkan syaithan, sementara diri ini, sebagai manusia tanpa pasangan, setiap hari semakin banyak digoda pilihan-pilihan yang tidak baik. Saya yang serba skeptis memandang pernikahan, kemudian Allah tunjukkan bahwa "ini saatnya"! Rasanya seperti ditampar. Saya agaknya perlu meluruskan niat. Ibadah, iya, menyempurnakan setengah agama, dan sebagainya. Bukan status belaka, atau karena normally harus nikah. Perlukah menikah? Gitu batin saya. Lalu saya sadar, sebenarnya keputusan bukan semata-mata milik saya ya...

Fafiruu ilallah. "Kembalilah kepada Allah". Hati ini milik-Nya. Mr. Darcy sudah meminta kemantapan hati dan bertanya kepada-Nya. Kali ini giliran saya.
...

153 Days Before

Maka saya berkata "ya".

*Ini adalah kisah sambungan dari "To Be Mr. Darcy's". Biar nyambung, yuk baca yang ini dulu hehe.
1. Picking "You" Out of The Blue
2. The Expected Uninvited

18 comments:

  1. Ecieee... yang pernah galau. Hihihi... sama, Mba aku juga pernah berada di posisi ini.

    Yang pasti sih, yang namanya jodoh biar kitanya ngumpet ke mana, nolak kaya apa, akhirnya pasti ketemu juga.

    ReplyDelete
  2. Kebalikan dari tokohnya ya..umur kurleb segitu saya lagi senang-senangnya berkarir dan say big NO for marriage..pengin 30 lebih saja nikahnya, karena karjaan lagi moncer-moncernya.
    Tapi akhirnya bertekuklututlah saya sama seseorang yang cuma ketemu 3 kali langsung minta ke orang tua saya..Jadi buyar, nikah umur 26 ..kwkwkw (16 tahun lalu) nikah jadinya..:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengaruh lingkungan juga, mungkin. Di tempat saya mah banyak yang usia belasan udah nikah. Saya udah kesalip berapa orang hihi.

      Delete
  3. Saya kurang lebih sama mba. Tapi pas udah nikah mah saya ketawa ketawa sendiri aja kalau diingat-ingat "kenapa saya mesti galau sih dulu" :D

    ReplyDelete
  4. saya nikah diusia tepat 20 tahun mba malah gak bisa nikmatin masa muda banget hihi :D karena pas suami melamar tanpa basa basi saya terima mengingat kami menjalani hubungan sudah cukup lama padahal target saya usi 25 itu nikah dengan kondisi karier saya sukses namun namanya jodoh sudah ada didepan mata jadi buat apa nolak:D
    Tapi saya sangat bersyukur setelah menikah dan dikaruniai putri yang cantik serta menggemaskan rasanya ingin menikmati masa muda itu sirna mba...

    ReplyDelete
    Replies
    1. AMinnn amiin mbak. Semoga saya juga demikian.

      Delete
  5. Saya juga pernah ngerasain yang mba rasain. Suka galau sih di dalam hati. Tapi, tapi tiba-tiba ada yang datang ngajak taaruf dan kita ga kenal sama sekali. Tiba-tiba yang waktu itu galau langsung berubah statusnya setelah menikah. Hahhh jodoh itu memang terkadang begitu tiba2 hadirnya dan ketika hadir di saat yang tepat dan cara yang tepat, ia jadi terlihat begitu special ❤️

    ReplyDelete
  6. cwiiit...cwiiitt....its all about him anyway...

    ReplyDelete
  7. Sama mbak menjelang seperempat abad saya udah mulai galau2nya pengen segera nikah, liat teman2 seumuran udah pada nikah makin baperlah saya, hehe tp yaa rencana Allaah memang selalu indah ya mbak. Dia memberikan kita jodoh di waktu yang tepat. Mungkin bukan di waktu yang kita harapkan tp itulah waktu yang menurut-Nya terbaik. Baik di mata Allaah sudah pasti baik untuk kita , hamba-Nya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, dan kalau saya sih cuma "pengen" aja waktu itu, makanya bersyukur juga nikahnya agak mateng karena banyak waktu untuk belajar dan benerin niat nikah. Subhanalloh, timing-nya Allah memang paling baik.

      Delete
  8. lagi ada di masa "pengen nikah" nih aku :'D jadi merasa hehe

    ReplyDelete
  9. Umur 25 merasa sudah berani dalam ambil keputusan dan mapan. Mungkin ini dasar untuk menikah.

    ReplyDelete
  10. Jadi senyum sendiri bacanya. Alhamdulillah masa galau itu sudah lewat yaa.

    ReplyDelete
  11. Menurut saya jodoh itu kayak kepingan puzzle yang kembali ke tempatnya. Bayangin, ketika sudah nikah kami baru tahu bahwa kami menyukai lagu-lagu yang sama, membaca buku yang sama, bahkan cerita wayang yang sama. Sekarangpun kadang tak perlu bahasa verbal untuk tahu keinginan pasangan. Itu kalau lagi nggak PMS sih :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah ini nih #realtionshipgoal hehe. Iya mbak lama-lama memang jadi gitu. Mudah-mudahan terus gitu (juga kalau lagi gak PMS wkwkwk).

      Delete
  12. Istikharah serahkan sama Allah, kalau tidak belum ketemu jodoh saat ini maka Allah sedang menunda sampai kita bersabar

    ReplyDelete

WOW Thank you!