7.2.19

Kentang Ingin Terbang

Adalah sejenis umbi yang hidup di dalam tanah. Biasa digali dan dipanen apabila telah besar dan dewasa. Lalu dianggap cukup untuk memberi makan setengah perut orang dewasa. Bisa menggantikan nasi kalau sedang tidak ada nasi (walaupun sebenarnya harga kentang lebih mahal; nasi tetap juara makanan pokok di Jawa Barat).

Belakangan kata “kentang” dijadikan istilah prokem untuk menyatakan sifat “tanggung”. Kentang-gung. Ini yang saya rasakan beberapa pekan ini. Saya merasa seperti kentang. Tapi dalam pengertian barunya di dunia prokem ciptaan netizen tukang gosip.

Ilustrasi gambar untuk proyek. By tweedledew.

Saya suka sekali menggambar. Tentu ini ketahuan jelas. Karena tulisan saya dalam blog biasanya bergambar - dan gambarnya, saya juga yang mengerjakan. Kadang gambarnya sudah ada duluan. Tulisannya dicomot melalui cocoklogi. Semisal, mungkin gambar ini cocok untuk ilustrasi tulisan ini.

Namun saya juga suka menulis. Dalam Instagram, saya melakukan keduanya. Mengunggah gambar, lalu memikirkan caption setengah mati supaya tetap selaras dengan gambarnya.

Beberapa bulan lalu saya sadar. Kedua hal di atas tidak ada yang menonjol. Baik. Menggambar mungkin lebih menonjol sedikit. Saya ikut Pameran Sketsa di Galeri Nasional, juga terpilih menjadi peserta Pelatihan Menulis Cerita Anak di Dewan Kesenian Jakarta. Dua hal itu tidak membuat saya sangat bangga. Senang sih. Tapi dua-duanya menyadarkan saya akan betapa kentang-nya saya.


Gambar saya tidak terlalu bagus. Menulis apalagi. Untuk kemampuan-kemampuan yang berangkat dari kesukaan seperti dua hal ini, saya sulit merasa “syukur” atau “qona’ah”. Soalnya semakin tahu banyak, semakin merasa kurang tahu.

Rasanya sama dengan beberapa tahun lalu ketika memutuskan masuk kelas akselerasi. Betapa yang biasanya saya sangat syukur dan qona’ah dengan nilai akademis saya telah ditampar hebat kenyataan: saya tidak sehebat itu dan saya tidak bisa sesombong itu. Yang lain pintar-pintar. Jauh di atas saya. Di titik ini saya belajar, jadi ‘orang biasa’ tidak asyik, tapi tidak apa-apa. Dan saya jadi tidak ‘tantrum’ kalau tidak menang kompetisi (karena sudah dibiasakan tidak ‘menang’ di sini).

Pameran Sketsa Galeri Nasional (PSGN) dan Cerita Anak Dewan Kesenian Jakarta (CADKJ) juga memberi pengalaman serupa. Ikut yang pertama, tersadar bahwa gambar saya tidak sebagus itu (ayolah, semua seniman itu snobs pada awalnya). Masih banyak yang harus dipelajari dan ditingkatkan. Ikut yang kedua juga sama: kemampuan menulis saya (ternyata) masih jauh di bawah rata-rata. Teman-teman di kelas yang ini sangat istimewa semuanya. Beberapa bahkan sudah menerbitkan buku mereka sendiri. Mentornya apalagi. Telat, karena baru tahu betapa istimewanya beliau saat kelas akan berakhir sebentar lagi. *Tapi kisah yang ini nanti saya tulis khusus (kalau tidak malas).

Menjadi kentang sesungguhnya asyik kalau ego bisa ditekan. Kentang menjadi barometer, supaya sadar kalau diri kita tidaklah sebagus itu - dalam arti yang optimis, supaya tetap belajar dan naik tingkat. Mungkin lain kali, setiap saya merasa sudah keren di satu bidang, saya benar-benar harus masuk di lingkaran orang keren di bidang itu - maksud saya, yang benar-benar keren. Saya harus mempertahankan perasaan menjadi kentang itu supaya tidak cepat puas (dan sombong).

“Enjoy whatever you do”. Katanya. Tapi jika tolak ukur enjoy adalah pada saat sudah merasa sangat keren, saya kira enjoy akan berujung pada feeling superior. Saya tidak akan memilih itu. Setidaknya saat ini. Jadi? Tetap menjadi kentang. Siapa tahu nanti bisa terbang. Yuk.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!