Friday, November 15, 2013

Dream Theater

This is not about music. In fact, I know none about that band. Yeah, this is about the dream theater, literally. Well, this thought has been wandering inside my head for quite some time. In my mind, I imagine myself as several persons who act in some kind of boring theater.

The first person is the artsy one. She loves to draw so much and can't live without it. She adores the freedom and whimsical artist life. The second is a nerd one. She's a geek who loves studying and will be very happy if she can enter prestigious college(s) until she's tired of schools. The third is the workaholic type who has ambition to reach as high as possible the carrier she's been living in. The last one (okay, I said I have SEVERAL, not only four, but let's face it I have to make this short and readable), is the phlegmatic-home based-peace lover-simple girl who will be very happy to live an ordinary simple life: doing house chores, a little busy by a small-wages-regular job, live with her parents until she's got married and think about nothing but her new family.

This is not a battle-themed theater, nor a boring satire (I already said boring, actually). Since all four of the roles are important, you might be wondering: Who's gonna win? Well, who's the heroine, actually?

***
And there are 4 persons in my Dream Theater. Illustration by Me.

Bayangkan sebuah teater dimana anda adalah sutradaranya. Sebagai sutradara, anda tentunya berhak menentukan pemeran-pemeran dalam teater anda. Anda juga bebas memilih kostum, memilih musik latar, bahkan merubah cerita dengan penafsiran anda terhadap skenario yang diberikan oleh sang penulis skenario. Tapi di sini, anda hanya diberi satu orang pemain, yang oleh karenanya terpaksa harus diminta melakukan monolog sekaligus berganti-ganti peran! Inilah yang terjadi, dimana keterbatasan tersebut harus anda manfaatkan secara kreatif agar orang tidak bosan dengan penampilan pemain anda yang itu-itu saja - sementara cerita harus terus berjalan. Yang lebih parah, anda yang sutradara ini, ternyata harus merangkap sebagai pemain! Betapa merepotkannya.
You're your own director! Sumber
Mungkin kira-kira begitulah analogi kehidupan kita - saya, khususnya. Ketika di pikiran ini banyak sekali peran yang ingin saya pilih dan mainkan, sementara saya hanyalah satu orang yang harus memilih peran. Ketika terpaksa harus berperan ganda, maka saya dituntut kreatif supaya manusia di sekitar saya tidak bosan. Celakanya, dalam pertukaran peran tersebut, bukan hanya orang lain yang bingung tentang "sedang jadi siapa anda sekarang" akan tetapi anda sendiri bisa saja lupa, "saya sedang jadi apa sekarang?"

Di awal tulisan ini saya sudah mengatakan, dalam pikiran saya, sedikitnya saya membagi diri saya menjadi empat peran utama yang mempunyai kegemaran serta mimpinya masing-masing (well, di dunia nyata, saya adalah saya, saya tidak punya kloningan yang bisa jadi cadangan manakala saya gagal dalam satu peran - makanya saya menamakan ini "teater mimpi"). Jika saya memerankan satu dari empat peran itu dengan maksimal, mungkin akan tercipta masa depan yang berbeda-beda. Oke, mari kita urut sedikit:

Sumber
Si nomor satu, karena dia seniman anti aturan dan pemuja kebebasan, mungkin dia akan menjadi pekerja seni yang tidak terikat waktu.
Sumber
Si nomor dua, karena dia suka belajar, mungkin dia akan belajar sampai tua, mencari banyak gelar (bukan gelarnya sih, lebih ke "bidang studi"), mencoba sekolah di berbagai tempat, yang akhirnya mungkin akan menjadi peneliti (di Indonesia? I don't think so) atau dosen.
Sumber
Si nomor tiga (yang paling mendekati keadaan sekarang) mungkin akan jadi orang sukses di karirnya. Berada di puncak manajemen, atau yah ... mencapai gaji tinggi mungkin.
Sumber
Terakhir, si "sederhana". Orang ini tidak terlalu mempedulikan remeh-temeh seperti nomor satu, dua ataupun tiga. Dia mungkin akan jadi perempuan biasa, anak rumahan biasa, yang suatu hari akan menikah dan punya anak, lalu fokus dengan keluarga, seperti orang tuanya memperlakukan dia waktu masih kecil dulu.

Pelik.

Saya tidak mencoba menjabarkan dengan jelas, tapi semua pasti mengerti bahwasanya semua peran punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Tapi inilah yang terjadi. Saat saya membaca keempat peran di atas dan segala kemungkinannya, ternyata saya tetap tidak bisa memilih satu peran pun!

Tidak biasanya saya membicarakan mimpi-mimpi saya. Apalagi dalam blog, dimana orang dengan mudahnya akan dapat mengakses tulisan ini, membuat persepsi, bahkan menghakimi. Namun beberapa hari ini saya mulai memikirkan hal ini secara lebih spesifik. Ini tercetus saat saya dengan seorang rekan kerja sedikit berargumen mengenai masalah mimpi ini. Saya tidak akan menceritakan isi argumen itu, tapi satu kalimat dia membuat saya meringis,

"IMHO, ketika kita membantu orang lain untuk mencapai mimpinya, insya Alloh jalan menuju mimpi atau cita – cita kita akan dilapangkan oleh-Nya".

Alangkah hebat, jika orang sudah menentukan mimpinya yang terbesar, dan fokus mencapainya dengan atau tanpa mengesampingkan kemungkinan lain dalam hidupnya. Saya yang belum yakin dengan mimpi saya sendiri, akan sangat curang rasanya ketika mencibir (gak sengaja) orang lain yang jelas-jelas sudah punya mimpi, dan sedang meniti jalan mewujudkan mimpi itu.
Tolong menolong itu viral. Sekarang kamu menolong orang lain, suatu saat Allah -melalui perantara orang lain- akan menolongmu. Sumber
Oke, kembali ke teater mimpi saya yang membosankan. Sesungguhnya, semua peran di atas punya porsi masing-masing dalam kehidupan saya. Saya tidak pernah benar-benar murni sebagai si nomor satu, atau fokus menjadi si nomor dua, bahkan memuja gaya hidup si nomor tiga, yang mana menjadi si nomor terakhir menjadi samar untuk terjadi. Well, untuk sementara tidak akan rugi rasanya jadi si nomor tiga jika dengannya mimpi orang di belakang kita (baca: keluarga, dsb.) akan terwujud.

***

Jadi, masihkah harus ada pertanyaan-pertanyaan ini: siapa yang sesungguhnya akan menang? Atau, siapa tokoh utamanya? Semua akan terjawab oleh-Nya melalui perantara waktu, dalam kehidupan yang sebenarnya, bukan teater mimpi.

Choose wisely, or blend it creatively. Sumber

1 comment:

  1. hmm ... tinggal dibalancing aja yuk ... tidak perlu ada satu atau lebih yang dikalahkan ... aman tuh yuk ...

    ReplyDelete

Hi! Thanks for your coming. Your comments are my pleasure. Nice to see you. :)