8.5.19

The Ramadhan 1440 Preps

Last year I don’t really over think everything but we knew this year is going to be different. Not that I become lazy to wake up very early, or do stuff eagerly, no. I just quite lack the energy - I mean I still cook & all but the capacity is lesser. So yeah, I (& Mr. Darcy) tried it differently this year: we did a lot of preparation and we were excited. What are they? Common things, actually. Like, food stocking, cleaning, listing stuff, and decluttering.


Originally featured on Mosqetch, for sketching solidarity for NZ shooting. Drawing by me.
Since it’s Ramadhan day 3, and it’s not too late to start (or continue), we’re going to share a bit of our common preps - which we sure y’all already made steps ahead us.

Decluttering

verb
gerund or present participle: decluttering

  1. remove unnecessary items from (an untidy or overcrowded place).

    "there's no better time to declutter your home"
(from Google define).

Decluttering is fun. I’ve been doing it regularly since middle school. The reason behind it was because I was (and still) a messy person. So I need to sort things out every once in a while. I once became a shopaholic - believe me, I was - and things became stacked so much, too messy to handle. I forgot what I’ve owned and sometimes I bought things twice. Duh! So when I do the decluttering, I chose what I like best and kept it in my inventory, then gave away the rest to those interested. Year after year my stuff became lesser and lesser. Such a minimalist - this is also inspired by how Mr. Darcy has a similar experience (and troubles) and his decision to become one has been made up far long before mine. Now I only keep a small pile of outfits, shoes, make ups & bags in my closet.

12.3.19

Masih Butuh Bapa dan Ibu

Bapa

Kemarin, Bapa genap berusia enam puluh tahun. Iya. Sudah memasuki usia lansia alias lanjut usia. Berkat pensiun dininya yang menyebabkan beliau kembali menggarap tanah dan kebun, Bapa belum berhenti bekerja sampai sekarang. Bapa yang selalu tampak “muda” dan gagah di mata kami semua anaknya. Tidak pernah ada gurat letih sedikit pun. Juga tidak ada keluhan berarti yang terlontar dari lisannya. Sampai suatu hari saya tidak sengaja mendapati beliau sedang ganti baju. Oh, ternyata badannya sudah tak seprima dulu. Ada sedikit lipatan penuaan di sana. Juga warna tembaga berkat panggangan matahari selama bertahun-tahun. Tanda beliau pekerja keras selama hidupnya.

Bapa, Eneng, Aa, Ibu dan Ajang. Circa 1996.

Kalau mendengar cerita masa kecil beliau, rasanya suka malu sendiri. Walaupun kami tidak kaya, tapi hidup kami cukup-cukup saja. Senang-senang saja. Sekolah juga lancar. Sedangkan Bapa, untuk sekolah saja harus rela jalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya setiap hari. Kadang mengayuh sepeda tuanya, sambil jualan gorengan. Padahal kecerobohannya membuat beliau sering jatuh dan luka. (Kadang sekarang pun saya sering mendapati luka baru di badannya: bekas teriris golok di tangan, bekas tersabet kampak di kaki, dsb.). Hebatnya, beliau tetap jadi si nomor satu di STM itu.

Kami tiga bersaudara, besar dan tumbuh dalam lindungannya. Bapa tidak selalu banyak bicara. Kerjanya kena shift. Jadi di rumah lebih banyak tidur. Tapi sekalinya libur dan mendongeng apa saja, pengalaman sehari-hari di tempat kerja atau apapun, lucunya bukan main. Cerita-cerita sederhana yang penyampaiannya selalu membuat kami terpingkal dan selalu kami tunggu.

6.2.19

Kingdom - A Must Watch for Zombie Fetish

Sekitar tiga hari yang lalu, Irma, salah satu teman baik yang adalah influencer (yeaa) Korea-Korea-an zaman saya kuliah, bikin IG Story tentang film zombie terbaru di Netflix berjudul “Kingdom” di akunnya. Saya dan husbando yang memang hobi banget nonton film-film zombie ini seketika jadi penasaran. Agak ragu awalnya karena saya sudah lama “berhenti” jadi penggemar drama Korea. Ah tapi ini tentang zombie gimana doongs! Apalagi ternyata ada Ju-Ji Hoon yang maen (yeaa-2-). Akhirnya saya pun ngajakin husbando nonton dan akhirnya tiga harian ini kami binge-watching serial ini sampai tamat season 1.

Rasanya?

Paling pas menggambarkan zombie di filem ini. Tapi sebenarnya, inspirasi gambar ini datang dari XXXHolic dan Rumah Dara. Ilustrasi oleh saya, pada kertas cat air menggunakan pena, cat air dan cat akrilik.

Sport jantung bok! Zombie yang kita temui di film ini bukanlah zombie yang jalannya pelan-pelan sempoyongan layaknya di Resident Evil atau semacamnya. Iya. Yang ini larinya bahkan lebih cepet dari Lalu Zohri. Semacam di World War Z dan Train to Busan. Tapi tentu ada bedanya, dong. Kalau di World War Z, zombie-zombie tidak menyerang orang sakit dan di Train to Busan mereka hidup siang dan malam, di Kingdom ini zombie-nya “tidur” di siang hari dan aktif di malam hari. Mirip vampir. Bukan vampir versi Stephenie Meyer tapi ya.

1.2.19

Berhala dan Idola

Idol, dari arti katanya saja, dalam bahasa Inggris, salah satunya adalah: berhala. BERHALA, lho.

i·dol

Hasil kamus untuk idol

/ˈīdl/
noun
  1. an image or representation of a god used as an object of worship.
    sinonim:icon, god, imagelikenessfetishtotemstatuefigurefigurinedollcarvingLainnya

    • a person or thing that is greatly admired, loved, or revered.
      "movie idol Robert Redford"

      sinonim:heroheroinestarsuperstariconcelebritycelebutanteLainnya


noun
  1. 1. idola
  2. 2. berhala
(Definisi disalin mentah dari Google).

Makanya saya setuju ketika kita punya idola, di saat cara kita mengidolakannya itu sudah kelewat batas, maka yang terjadi adalah, kita seperti mem-berhala-kan orang yang diidolakan tersebut. Makanya lagi, entah sejak kapan, saya mulai berhenti mengidolakan sesuatu - atau seseorang. Bagi yang mengikuti blog ini agak lama, pasti tahu betapa saya sangat mengidolakan beberapa musisi, penulis, bahkan komika. 

Ketika dirunut bagaimana semua berawal, tentu karena lingkungan dan pergaulan.

Ilustrasi asli oleh @tweedledew . 
Musisi, karena saya tumbuh sebagai remaja penggemar musik. Beranjak SMP, saya mulai mendengarkan band lokal. Sederhananya hanya karena teman-teman saya mendengarkan itu. Rasanya tidak gaul kalau tidak suka musik. Begitu pun sampai saya kerja. Musik dan nyanyi bagaikan pelipur lara dan penat. Apalagi ketika sudah mengenal asyiknya berkaraoke. Memperbarui daftar lagu yang bisa dibanggakan dengan suara seadanya di karaoke adalah mutlak perlu. Kalau tidak, saya tidak bisa menikmati apa pun, bukan?

27.1.19

Akhirnya Pameran di Galeri - Laporan Rekreasi Garis 2018

Suatu hari, Mayumi Haryoto, seorang ilustrator kawakan, berbagi tentang tujuan jalan hidup seniman: mau berakhir di galeri atau di industri? (Ada juga sih yang bisa dua-duanya. Tapi, biasanya orang fokus di salah satu).

Waktu itu yang terpikir oleh saya, tentu ingin di industri. Sepertinya asyik, ketika hobi menjadi pundi-pundi materi. Tapi jadi seniman galeri juga keren, sangat keren bahkan. Karena punya kesan serius. Saya dulu ingin jadi seniman serius. Yang seperti Pak Raden Saleh atau Affandi. Yang membuat lukisan penuh arti. Yang intelektualitas dan kreativitasnya tinggi.

Kemudian saya pikir seniman industri dan galeri ternyata punya kesamaan. Sama-sama butuh kesungguhan, ketekunan, dan yang paling penting: komitmen.

Hayo.. yang mana karya saya..
Sebenarnya, menjadi seniman bukanlah profesi favorit generasi baby boomers seperti orang tua saya. Panjang sekali waktu yang dibutuhkan untuk mendapat restu mereka. Terutama ibu. Padahal kegemaran saya menggambar (dan menulis) semuanya menurun dari ibu. Ibu bilang, bekerja di bidang seni dan literasi tidak menjanjikan. Padahal berprestasi di bidang akademis atau sains di zaman sekarang tidaklah lebih berkelas dibanding bidang lainnya seperti anggapan zaman dulu. Hari ini orang bisa hidup dari mengunggah konten di kanal sosmed, lho! Mungkin juga seniman sedang jaya-jayanya. Konten menarik memiliki nilai sendiri saat ini.

Kemarin sebuah pencapaian itu datang. Salah satu karya saya terpilih untuk dipamerkan di Galeri Nasional, dalam rangka Pameran Rekreasi Garis 2018. Hampir dua tahun ini saya memang belajar urban sketching. Pernah ikut workshop dan lihat pamerannya beberapa kali. Sebenarnya saya mengirim dua karya, tapi yang terpilih hanya satu. Itu saja sangat tidak disangka, dan sudah terasa menyenangkan!