11.2.16

Menjadi Bodoh

Ada kabar burung katanya kelas akselerasi di SMA saya bakalan ditutup. Hmm sampai tahun ini sudah dua belas generasi. Saya sedikit menyayangkan sih. Di mana lagi, orang-orang sombong yang merasa dirinya lebih pintar daripada orang lain, mendapatkan tempat yang sesuai dimana dia akan disadarkan kalau dialah yang bodoh kalau merasa lebih pintar dari orang lain?
That was true.
Sumber.
Saya punya temen di situ. Dia kayaknya gak punya pikiran lain selain dapetin rangking 1 di kelas. Sekolah bagaikan arena hidup yang levelnya naik terus. Ketika dia melihat kemungkinan untuk bisa rangking 1 lagi di SMA, dia senang walaupun kemudian dia membatin, "ah rangking 1 doang buat apa, kalau di kelas biasa." Sampai akhirnya muncullah pilihan untuk masuk ke kelas akselerasi. Iya. Dia angkatan pertama. Pas baru dibuka dan pas disebutin kalau IQ dia bagus banget, kepercayaan dirinya melambung dong. Sampai dia pun jadi mikir, "rangking 1 di kelas akselerasi. Ain't it fun?".
Tapi kemudian dia salah besar. Namanya akselerasi, semua penghuninya selalu rangking 1 dong waktu SMP. Ini lucu kali ya. Akhirnya dia belajar lebih keras dari orang lain. Shubuh-shubuh belajar. Malem belajar. Ya demi rangking 1. Apalagi SMA-nya favorit di kota itu. Bisa dipastikan yang masuk ke situ adalah orang-orang pintar dari SMP-nya masing-masing. Itu kelas biasa, apalagi akselerasi.

6.2.16

Berjilbab Itu Mahal

Membicarakan proses berhijab selalu menyenangkan bagi saya. Entahlah. Ada yang bilang ini usaha menyombongkan diri, riya' dan istilah lain sejenis (bukankah masalah terbesar orang yang menyampaikan kebaikan itu begitu? Dianggap sombong, riya', fanatik, militan). Tapi ya udah.

Back to topic, proses berhijab sudah pernah saya bahas sedikit di postingan yang ini. Hmm gak tau deh. Tiba-tiba aja saya jadi pengen bahas lagi. Mungkin karena saya abis nonton KMGP? Saya gemes ketika ada orang sudah berjilbab, terus mencela orang yang belum dengan kata-kata "ih apa susahnya sih jilbaban, tinggal pake doang". Itu salah. Karena berjilbab itu susah.

At least waktu itu.

1999

Di suatu tabligh akbar pas syukuran hatam anak-anak ngaji pas SD, ustadz-nya ngasih ceramah kayak gini:
"Menutup aurat itu perintah Allah dalam Al Qur'an. Gak laki gak perempuan semuanya harus menutup aurat kecuali di depan mahrom-nya. Aurat perempuan yang banyak. Seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Dan bukan cuma sholat atau ngaji aja perempuan harus menutup aurat"
Dalam hati saya:
"Hah? Berarti harus mukena-an gitu tiap ke luar rumah atau ketemu orang lain? Mukena kan buat sholat doang. Aneh."