9.12.19

Hikmah Hijrah: Sahabat Rosul, Kaab Bin Malik

(Kisah ini disadur berkenaan dengan materi Kuliah Online Bengkel Diri Level 1).

Kaab Bin Malik adalah seorang pemuda Anshor, yang hijrah karena kekhilafan. Salah satu dari tujuh puluh peserta Baiat Aqobat. 

Kondisi Kaab saat perang akan berlangsung:
Tabuk berjarak sekitar 500 Km dari Madinah.
Cuaca saat itu sangat panas (kurleb 50 derajat Celcius).
Medan menuju Tabuk sulit, banyak mafaza (gunung pasir).
Lawan perang adalah tentara Romawi yang kuat.
Di Madinah sedang panen kurma.
Badan Kaab sangat fit, dan saat itu kekayaan Kaab cukup untuk akomodasi perang.

Hijrah. As Seen On @tweedledew's IG.

Rosululloh sengaja mengumumkan rencana perang ini untuk menguji keimanan dan kesetiaan umat saat itu. Dan alhasil, saat itu banyak.. sekali sahabat yang ikut perang dimana saking banyaknya, jika ada yang tidak ikut pun, niscaya tidak akan ketahuan. Begitu besar perang tersebut dimana keempat sahabat nabi pun berlomba-lomba dalam kebaikan, dalam berperang dan berinfaq. Utsman berinfaq 1000 Dinar. Umar menginfaqkan 50% hartanya. Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya. Sementara Ali Bin Abi Talib diberi amanah untuk menjaga wanita dan anak-anak yg ditinggal perang di Madinah.

Kaab berujar bahwa ia pasti bisa menyiapkan perbekalan perang jika mau. Ia lupa bertawakkal dan mengucap insya Allah pada pernyataannya ini. Kemudian ia pun terus dan terus menunda mempersiapkan perbekalan tersebut hingga akhirnya, Rosululloh & para sahabat pun berangkat meninggalkan ia ke medan perang.

21.8.19

Kembali, Mungkin Terakhir Kali

Saya rada anti sama kata “terakhir”. Seringnya orang-orang menyebut kata itu dengan tidak benar-benar bermaksud sebagaimana seharusnya. “Janji, ini terakhir kali gue belanja online bulan ini.” Atau, “Terakhir makan mie instan kayaknya sebulan lalu sih”. Atau, “kamu adalah cinta terakhirku!” (Kemudian yang mendengar tersiksa harus menahan gumoh).

Tapi “Terakhir” juga sering dijadikan dalih, supaya orang jadi lebih waspada dan memanfaatkan momen. “Jangan sering-sering marahan dengan pasangan, kita tidak pernah tahu kapan momen terakhir dengan mereka akan terjadi”. (Yang ini jujur membuat pengetikan draft blog terganggu isak tertahan membayangkan betapa sedihnya jika ini terjadi).

Illustration by me.

Ya. Sebulan lebih kami ‘mengungsi’ di Sumedang, ke haribaan kenyamanan orang tua sebagai dalih membantu pengurusan si anggota keluarga termuda yang belum genap tiga bulan itu. Memang sangat nyaman, sih, ya. Saking nyamannya jadi keenakan. Kebiasaan! Makanya, begitu tiba di rumah (kontrakan) di Bekasi itu, perasaan aneh jadi membuncah. Sebulan saja tapi berasa lamaaa sekali. Seperti sudah setahun, dan kenangan akan kebersamaan di rumah itu menyerbu tiba-tiba. Terbayang, rumah sebesar ini, betapa sepinya, ditinggali oleh Apa-nya Faruki sendirian setiap Senin sampai Jum’at. Yang biasanya setiap pagi sarapan bersama masakan (coba-coba) istrinya, bareng-bareng kerjasama memandikan Faruki, lalu diantar berangkat kerja sampai gerbang rumah sambil dadah-dadah, dan setiap pulang kerja disambut segelas air berasa atau bersuhu, kemudian menutup hari melalui tidur dengan melihat istri dan anak di sebelahnya. Lalu tiba-tiba menghilang selama sebulanan ini.

16.8.19

Sim, Salabim, (Besok Gede) Jadi Apa? Prok.. Prok.. Prok!!

Belum genap lima bulan punya anak (bayi), akhirnya pelan-pelan saya merasakan kemunculan benih-benih ambisi mamah-mamah zaman now sebagaimana dicontohkan secara nyinyirly hilarious oleh akun IG @mamambisius. Iya, fenomena “pamer anak” di sosmed masa kini memang seambisius itu. Apa saja dipamerin. Baru lahir, pamer melahirkan gentle birth. Katanya, anaknya nurut afirmasi positif emaknya sehingga lahirannya gampil. Hm. Oke. Beberapa bulan kemudian, milestone terdokumentasikan: berhasil berguling, tengkurap, tiarap, merangkak, jalan kaki, jalan jongkok.. dsb. Sudah rada gede nih, anaknya ternyata mau main mainan Montessori yang tidak terlihat menarik itu (sehingga itu sebuah prestasi). Balita, berhasil masuk ke sekolah usia dini yang daftarnya saja waiting list dari zaman orok belum lahir. Kemudian tiba-tiba si anak ngomongnya sangat keminggris. Orang tuanya mah kalah dah. De es be, de es te.



Salah? Gak ada yang bilang salah sih. Bagi netijen julid berpotensi iri dengki mungkin salah. Yang lainnya, jadi sebuah inspirasi. Kadang jadi patokan perkembangan anak gitu. Semacam, anaknya Andien ‘gak nangis kalau jatoh, berarti anak gue juga harus demikian. Hm. Oke. Buibuk, setelah saya mencapai milestone menjadi mamak-mamak anak satu (ciye, mahmud abas cie.. eh iya gue gak muda huhu), barulah saya sadar bahwa social pressure semacam itu memang nyata adanya. Gak usah jauh-jauh nengok sosmed deh. Tetangga kita punya anak dengan kegendutan pesat saja, kadang lihat anak sendiri jadi berasa kerempeng. Padahal pertumbuhannya normal-normal saja, sesuai kurva pertumbuhan anak. Atau lihat rambut anaknya jeng-jeng komplek sebelah sudah jabrik sedari brojol, diri ini pun lihat anak berasa botak banget. Jadi gak sabar mau lihat rambutnya tumbuh barang semilimeter gitu. Atau lihat anak lain dipakein turban lucu-lucu, jadinya kepengen padahal anak ini laki-laki yang notabene pilihan aksesorisnya terbatas.

Apa ini namanya? Social pressure menular ke anak? Gejalanya begini amat memang. Gejala-gejala kufur nikmat. Hiih.

15.8.19

The Eclipse

Writing keeps me sane; as I repeatedly suggest myself lately, and it does. Remember my writing about escaping motherhood? That was what exactly how I felt about it before this one particular day. The day that changed me and how I see things forward. About how I see Faruki.

Several days after he was born, this evil thought came to my mind: this baby is a bundle of joy, but for how long? He’d be only a big business to tend to the day forward. Could we really do that?

To remember that such thought really existed, I feel sad and guilty. Seeing Faruki’s photos on his early days, small and fragile, made me really upset like, why did I feel that way? I read it somewhere that it was normal - named baby blues, and all. But still, it gave me chills every time I remember it.

Illustration by me.

It happened not long ago, actually. That particular day I was talking about. So since he was about two weeks, Faruki known for his cranky behaviour, agreed by both his grandparents. Yeah. Faruki cries a lot. And I mean, A LOT. It made us the parents - well, me - really unconfident especially when the grandparents were around. We were always extra prepared for whatever bad things a.k.a that regular arsenic hours happen every night. We need to be fit and healthy, only to tend one child! We were really tired and cranky sometimes (I, cranky a lot). That was why, I decided to have time out: sleeping day and night for one to two hours undisturbed everyday, passing Faruki to his Apa & grandparents. I only allow them to wake me up when Faruki needs to be fed.