Saturday, September 16, 2017

How Not To Be The IT-zilla

So psyched these days because at times, everything needs to be on My way. With capital M, yes, referring to your ego. That's right, your ego doesn't help you but in this case you accidentally involves it one too many times. Let me tell you something, since the very beginning my friends tell me that six months isn't a good length of time to prepare this, I never really think about it until it happens to me - really to me lol (yeah, I still can't believe this, too) and I need to make it good. Look at the long shopping list with strikes here and there. So many items, so much asterix' (and footnote), and well, a lot of out-of-plan added stuff making the list longer and longer day after day.

And my weight!

My weight is up by 3 kg OMG. While so many others do the diet to be as slender as possible to celebrate it, me is originally this extra thin so I need to raise my weight - I never thought I'm going to be any fatter until today lol - but NOT THIS FAT OMG. Not to body-shame anyone believe me, but now I know how's the urge of "need-to-be-on-a-diet" feels like. Phew. So stressful.

Acrylic trial on ordinary paper.
I'm (still) a control freak. I need everything happen to be my way. Like an "IT-zilla" - clownish act may follow. That's why, I'm afraid I've become one - not a hundred percents one but still is. This stress, lead to reckless decisions happen in a very short period, making a huge questionable stuff happened in my head (and home). How did this happen? Organizing an event is not a new thing for me - still, I learn that every event has its own special manic character so to become "IT-zilla" is a dead-huge possibility.

(When I wrote this, I've already calmed down and hopefully sober enough from the "IT-zilla" symptom lol).

Ego No.1 - I Concept This

Saturday, June 3, 2017

Almost Ravenna

Ada yang pernah baca "titik"? Ya, sebuah tulisan semi asal-asalan yang saya buat dua bulan lalu, yang agak-agak semi curhat juga mengingat itu khas banget omongan mbak-mbak twenty something yang sok-sokan kuat padahal galau (apaseh), yang sebenernya saya udah lama banget pengen bahas dan isinya lebih luas dari yang kamu bayangin. That's right. Tentang sebuah kegagalan. Tepatnya, pembenaran terhadap kegagalan. Gak deng, saya gak seneng dengan kata "gagal". Saya bilang, sebuah ketentuan-yang-gak-persis-harapan-tapi-paling-baik-menurutNya-namun-belum-kita-mengerti-artinya. Such a phrase, ryt!

Tentang LPDP.
Selfie. That eerie portrait I drew to capture my feeling that day lol. Illustration by me. Watercolor and Ink on Regular Paper.
Ya gua pernah ikutan LPDP lohh btw. Dan misalkan elo search "LPDP" di Google pun, akan ke luar banyak bacaan, banyak yang bahas, baik yang berhasil maupun yang belum. IDK, perhaps LPDP is popular among bloggers? So walaupun saya tahu di luar sana banyaaaakk banget yang bahas ini, saya tetep akan bahas karena saya blogger, dan saya pernah ngomong kemarenan:
"That's right, successful or not, I'll be still own something to write on my blog".
Dan bener aja! That "not" was happened.

Rasanya sedih banget at the moment. Karena saya kayak udah merencanakan ini sejak lamaaaa banget. Sejak penghujung 2015 kali ya hehe. Butuh berbulan-bulan untuk saya berhenti menapakuri hal tersebut. What's wrong about me? Why did I fail? Something like that. I must say, something that a snobbish would say and I've said them a lot. Bukan gak terima sih, cuman kayak, self-esteem saya tuh pernah jatoh banget gara-gara ini. Well, kini gue nyesel sih udah mikir begituan. Gue lupaaa banget ada hal-hal kayak gue bilang di atas, hal-hal yang gak bisa kita kontrol seenak jidat, yakni ada ketentuan-yang-gak-persis-harapan-tapi-paling-baik-menurutNya-namun-belum-kita-mengerti-artinya. That Higher power. Ini salah satunya.

Disclaimer: buat temen-temen yang tersasar ke blog ini karena pengen tahu soal LPDP secara detail, my apologize, mendingan skip deh, karena saya gak akan cerita "how to" dan semacamnya. You know the result.

Tuesday, May 9, 2017

01.04.17 Urban Sketching Report

At first it's quite a long tough thought to report this event (because it was happened more than a month ago lol), but then I decide to challenge myself to recall the memory because yeah, I LOVE THIS EVENT SO VERY MUCH - I think I can remember a lot of detail.

So let's begin with how I discover this event.

I've been following a lot of artsy Instagram accounts lately. If you look closely to my following list on my Ig (self-endorse detected lol) you can find them easily. And I don't follow only one kind of arts style, I follow a lot of them from comics to doodle, from fashion to children illustration, etc. and today I found out that urban sketching is also a thing! I was into architectural kind of drawing (did I tell you that I once wanted to be an architect? Too bad, I was really bad at mathematics and similar engineering-starter-pack stuff lol) for so long only I never knew that we can actually draw ones without: ruler!

Lol.

To be honest ruler and eraser are not my favorite drawing tools.

Long story short, I found that event on Indonesia Sketcher's instagram and at first I didn't interested because it was in Jakarta - too far from my place. Luckily, my boss asked me to attend a business meeting in Bogor two days before that event so I finally could join (yeayy!).

Dari sini gue pake Bahasa Indonesia ajalah lagi pusing kebanyakan kerja (pfft). Btw ini bakalan panjangg banget!

First time urban sketching at Pasar Palmerah.

Tuesday, April 25, 2017

Titik

Saya tidak terlalu paham bedanya anugerah dan ujian. Terutama dengan hal-hal yang secara kasat mata sempurna. Misalnya, karir bagus, harta cukup, disayangi banyak orang, pekerjaan yang nyaman, keluarga tanpa cela. Bukankah hal-hal seperti itu terlihat sempurna dan diinginkan banyak orang? Tapi ternyata tidak semua terasa sempurna bagi si pemilik hal-hal itu. Tidak bersyukur? Tidak bisa divonis begitu sih. Tidak puas? Juga belum tentu. Maka dengan demikian batas antara anugerah dan ujian pun melebur. Anugerah, karena semua terlihat sempurna (bagi orang lain khususnya). Ujian, karena kesempurnaan itu punya biaya yang mahal (bagi si pemilik kesempurnaan).

Saya termasuk orang yang percaya, bahwa ketika beberapa titik mempunyai skor yang lebih, ada titik (-titik) lain yang harus dikorbankan. Mengapa? Karena saya tahu Tuhan itu adil. Sempurna itu milik-Nya. Bukan makhluk-Nya.

Lizzie Bennet from Pride & Prejudice by dif. Watercolor on Ordinary paper.

Makanya ketika seolah-olah saya "membiarkan" beberapa titik yang skornya rendah, ya saya memang punya pertimbangan alias idealisme sendiri soal itu. Saya merasa cukup dengan beberapa skor tinggi yang saya punya di beberapa titik dan akan berusaha membuatnya penuh karena saya merasa mampu di situ. Kecuali, ketika saya merasa sudah saatnya memindahkan skor. Mengorbankan satu titik untuk memperoleh titik lain. Hasilnya? Naik level, mungkin. Demi mengejar keseimbangan yang baru. Kadang-kadang kita kudu milih karena memang tidak semuanya bisa punya skor yang tinggi.

Apakah saya terdengar pesimistis? Mungkin. Skeptis? Mungkin.

Dari sekian banyaknya titik-titik itu, ada satu yang warnanya abu-abu. Skornya ditentukan oleh apa atau siapa yang mengisinya. Sayang sekali, siapa atau apa ini, kadang-kadang sifatnya temporer. Dia mau ada di situ tapi tidak bisa lama-lama. Atau tidak sekarang. Atau tidak sesuai dengan konfigurasi titik - semacam potongan puzzle yang bentuknya tidak matched - salah alamat.

Well, saya gak percaya dengan sesuatu yang dari awal dilabeli temporer. Kita tidak merencanakan kesementaraan. Hidup saja sudah sementara. Fana. Tidak perlu lah ada sementara-sementara yang lain. Dalam kesementaraan ini saya tidak butuh variasi. Saya butuh yang sesuai konfigurasi - sesuai kehendak-Nya. Saya mau titik yang ini sempurna. Jika saya punya dua puluh titik yangmana saya tahu tidak mungkin semuanya sempurna, boleh dong saya minta yang satu ini sempurna? Iya, sempurna itu milik-Nya. Tapi boleh dong, saya minta skor yang sempurna dalam versi saya?

Saya mau titik ini anugerah. Bukan ujian.

Itu.

Saturday, April 15, 2017

Garis

Untuk seorang teman.

Garis-garis itu berwarna merah atau hitam, beberapa berwarna cokelat atau kelabu dengan ketebalan berbeda-beda, berukuran sekitar lima sampai delapan sentimeter, dan jumlahnya lebih dari sepuluh. Ami bilang garis-garis itu indah, makanya ketika aku menyuruh dia berhenti membuatnya, Ami bisa saja berang dan aku akan menyerah. Kemarahannya sering membuatku pilu. Aku pernah bertanya mengapa, tapi Ami biasanya hanya tersenyum misterius dan bercerita sambil lalu. Ami bilang, masing-masing garis punya arti sendiri-sendiri. Misal yang hitam, yang dibuat tiga bulan lalu, berarti “bodoh”. Atau yang kecokelatan, dibuat lebih lama dibanding yang hitam dan lebih samar (mungkin waktu dan cuaca menghamburkan semuanya), artinya “lemah”. Sayang sekali aku tidak pernah sempat memergoki saat Ami membuatnya. Kalau saja waktunya tepat, seharusnya aku bisa mencegahnya, dan mungkin garis-garis itu tidak akan jadi sebanyak ini.
Ami masih terduduk, menunduk sambil memeluk lutut di atas dipan yang beberapa hari ini tidak pernah ditinggalkannya. Beberapa detik yang lalu padahal dia masih menatapku tajam karena aku merebut benda kesukaannya: penggaris terkutuk itu. Sekarang bisa kupastikan bahwa dia sedang menangis tanpa suara. Walaupun keras kepala, Ami malu kalau ketahuan menangis. Kadang-kadang dia akan menggambar garis lagi – untung saja penggarisnya sudah kusita. Ingin kusentuh kepalanya, sekedar menghibur dan meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.

Tapi aku pun tidak yakin kalau semua akan baik-baik saja untuk Ami.

Ya, setelah sebulan yang lalu garis-garis itu dilihat orang – tepatnya tak sengaja terlihat orang (ngomong-ngomong aku masih menyalahkan diriku sendiri soal ini, andai bisa kucegah), Ami jadi tak percaya lagi pada siapapun. Orang-orang itu mengurungnya di sini. Karena aku satu-satunya yang mengenal Ami dengan baik, mereka mempercayakan Ami padaku. Aku marah sekali sebetulnya. Mereka pikir, aku bisa berbuat apa? Ami menolakku. Tidakkah mereka tahu?

Kamu harus berhenti,

Ujarku dengan hati-hati pada Ami. Ami menjawab,

Kamu tidak mengerti.

Apa yang aku tidak mengerti? Bukankah kita selalu bersama?”, tanyaku.

Iya, tapi kamu cuma tahu isi kepalaku, tidak dengan hatiku.” Lagi-lagi Ami menatapku tajam. Pipinya basah.


Kalau begitu beritahu”, ujarku lembut. Aku berharap, kelembutanku bisa menyentuh hati Ami seperti dulu. Seperti dulu lagi.

Saturday, March 18, 2017

Ketika Semangat Berliterasi Pergi - dan Kembali

Ada dua alasan utama mengapa kita pada umumnya mengenal lalu mencintai dia. Satu, KMGP - Ketika Mas Gagah Pergi; dan dua, Annida. Kebanyakan orang memilih yang pertama daripada yang ke dua. Tetapi yang ke dua tidak bisa terlepas dari yang pertama karena genre baru (baru, pada waktu itu) yang dilahirkannya muncul subur pada yang ke dua. Sementara saya, waktu yang pertama muncul saya mungkin masih SD. Dunia saya masih sangat sempit sesempit majalah Bobo dan Donald hehe. Makanya, ketika saya SMP (sekitar 2002), saya pernah les bahasa Inggris dimana sang pemilik mempunyai sebuah perpustakaan kecil yang sering saya sambangi - dengan koleksi buku yang saya belum pernah temukan sebelumnya bernama "fiksi Islami"; maka di situlah akhirnya saya diperkenalkan dengan yang ke dua. Ya. Berkat alasan tersebut saya jadi jatuh cinta dengan beliau: Helvy Tiana Rosa.

HTR as seen on IG, as drawn by me.
Membicarakan Bunda Helvy, sebagaimana beliau biasa disapa oleh penggemarnya, memang selalu bikin saya terharu dan excited sendiri. Bagaimana tidak, bisa dibilang, kesukaan saya menulis, walaupun tidak benar-benar berawal darinya akan tetapi banyak sekali dipengaruhi oleh beliau. Ah, sebenarnya Annida secara umum sih. Tapi sebagai salah satu pendiri Annida (dan FLP), bagaimana kamu bisa tidak kagum dengan beliau yang tetap teguh menulis sambil berdakwah lewat karya-karyanya yang demikian indah nan menggugah?

Ketika SMP saya menemukan banyak majalah Annida edisi lama di tempat les tersebut - Oxford Course namanya, saya seringkali meminjam majalah tersebut ke rumah. Tidak jarang juga saya bawa ke sekolah dan ditunjukkan ke teman saya yang juga senang membaca - sebut saja Risma. Sampe hapal waktu itu, siapa saja yang sering nulis di situ dan cerpennya seperti apa. Biasanya setelahnya kita akan membahas cerpen-cerpen di dalamnya terutama cerpen karya Bunda Helvy. Kita memang sama sekali bukan apresiator yang baik apalagi kritikus hehe. Tapi kita sebagai anak SMP saja tahu kalau cerpennya beliau itu tidak hanya keren secara bahasa akan tetapi juga cerita. Kalau sekarang kita perhatikan ya, beberapa penulis (fiksi, terutama yang genre-nya Islami) banyak yang terjebak pakem berlebih-lebihan dalam mempuitisasi tulisan. Padahal ceritanya biasa aja (imho looohh) terus gak tau kenapa, dia best seller zzzz. Hmm saya berani bilang, karyanya Bunda Helvy itu tidak demikian. Semuanya serba pas dan tidak berlebihan. Termasuk, kandungan dakwah di dalamnya.

Sunday, March 12, 2017

Weird Habit(s) on How I Read Book(s)

Remember that I once ranted about how much my interests in reading keep lower and lower these days and I feel sad about it. I mean, reading is one of my proudly bragged hobby (lol) and if I don't read, what will I be? Last year I possibly only succeed to read one book or two (Lame, no?). Think about it, I might have a lot of spare time and those time I mostly overuse it for (sigh), yeah, fixated on my cell phone - while I could have a lot of stuff added into my brain by reading my piling books. Well, most of them are fiction but I always believe that every book has its lesson and the worst thing in life in my opinion is when you fail to use the most of your resources - mubazir-ism heheh. So, not reading your purchased books is one deed of mubazir-ism and we don't want that to be happened again, do we?

So fortunately my reading-passion (forgive my bad naming for this lol) is actually increasing since early this month. Until today I've finished reading 6 books (yayyy): Jodoh Monica by Alberthiene Endah; 19+ by Boim Lebon; Wanita Muda Di Sebuah Hotel Mewah - Kumpulan Cerpen by Hamsad Rangkuti; Klub Solidaritas Suami Hilang - Kumpulan Cerpen Kompas 2013; Kau Sudah Mati by Jack Lance; The Ghost by Robert Harris. Not to mention about those half-read books piling beside my pillow on my bed. Yes, my copy of Pulang by Leila S. Chudori that has not finished yet, along with Kamu by Sabda Armandio that I've been lost interest to since I don't remember when. Such an achievement if you remember my laziness of reading last year.

My books are beside me.
Told you my hobbies are seasonal. I even haven't made drawing again since February :( And before my reading-hobby decided to dormant again, let me tell you about my reading habit and how it is difficult for me to pick where I left of when reading discontinuously. Oh, I forget to tell you that I need extra focus when I read and when I stop more than a week, I probably forget what I've been reading. Here's why.

First

I have to pick which book I have to read. This depends on my mood, tho. Like last week I want to read short story so I picked one (that Hamsad Rangkuti book). And this week I've been craving for thriller - darker, better - so I chose Jack Lance's. Etc.