15.12.18

Berbincang Hijrah Kaffah bersama tERe - Empat Tahun Blogger Muslimah Berkiprah

Saya menemukan komunitas Blogger Muslimah pada saat saya iseng mencari nama Ibu Novia Syahidah di Google (ha-ha) kira-kira tiga-empat tahun lalu. Bagi pembaca yang pernah akrab dengan majalah Annida, sebuah majalah literasi Islami tahun 90-2000-an, tentu sedikit banyak pernah mengenal sosok beliau bersama dengan Ibu Helvy Tiana Rosa dan Ibu Asma Nadia. Makanya, sejak Annida memutuskan menjadi media berbasis daring, saya jadi "kehilangan". Itulah yang memutuskan saya mencari para penulis kawakan Annida di Google, dan mengikuti sosial media mereka bila ada. Benar saja, saya masih menemukan mereka terus menulis! Masya Alloh. Begitu tahu ada komunitas ini, tanpa pikir panjang, saya langsung ikut. Namun walaupun sudah lama ikut menjadi penyimak (kadang setor link, tapi saya tidak sesering itu menulis di blog), saya belum pernah betul-betul mengenal komunitas ini. Ada.. saja halangannya, setiap Blogger Muslimah mengadakan gathering atau acara bersponsor.

Pekan lalu akhirnya saya berjodoh dengannya.

Suasana di acara Milad Blogger Muslimah yang keempat. Digambar oleh saya, pada kertas A5.

Tanggal 9 Desember 2018, saya hadir dalam acara perhelatan Milad Blogger Muslimah yang keempat. Pesertanya dibatasi hanya untuk tiga puluh blogger saja - tentu semuanya perempuan. Tidak tanggung-tanggung, acara ini diadakan di Jakarta Pusat (anak Bekasi pasti suka kalau ada agenda main ke Jakarta, ha-ha) dengan acara seperti demo make up, door prize, berbagai perlombaan menulis caption, makan-makan (he-he) dan acara utamanya yaitu: ngobrolin hijrah bersama tERe! Benar, tERe yang itu. Zaman masih karaokean, lagu Awal yang Indah dari tERe menjadi andalan saya. Oh, jangan bandingkan suara saya dengan tERe - jelas jauh, ha-ha. Berkat acara inilah saya baru tahu kalau tERe telah menjadi mu'alaf. Tapi tunggu dulu, nanti saya cerita tentang ini lebih banyak.

10.11.18

Hutang

Sering saya berpikir, hutang saya pasti banyak sekali. Saya hidup sudah di ambang tiga puluhan. Pasti selama itu, teringat atau tidak, dan sengaja atau tidak, pernah saya berhutang pada orang lain. Yang kecil-kecil seperti jajan. Atau bisa jadi yang besar-besar seperti, well, hutang budi. (Yang ke dua ini hitung-hitungannya lebih susah).

Kebiasaan kita yang suka gampang banget bilang, “eh tolong bayarin dulu, 'gak ada uang kecil”. Kemudian besokannya lupa. Itu adalah kebiasaan yang tidak elok. Mengapa? Sedikit demi sedikit, lama-lama membukit. Kata orang sih begitu. Demikian juga hutang yang cuma “latte factor”. Saya merasakan ini banyak terjadi pas saya malah sudah bekerja. Waktu sekolah dan kuliah sepertinya tidak (kalau tidak lupa; dan kecuali hutang pulsa darurat - yang biasanya keesokan harinya saya bayar langsung). Karena zaman kuliah, semua terawasi oleh ibu.

Hasil latihan gambar dengan pensil warna. Gambar aslinya kecil sehingga agak kabur.
Setelah dewasa, semua tak terhindarkan. Ya tidak apa sih, selama ingat dan selama berniat bayar. Selama ada umur juga. Cuma yaa... suka lupa tadi karena sedikit-sedikit yang terhutang. Makanya ketika resign kemarin, walaupun kesannya basa-basi (ha-ha), saya bilang di email perpisahannya, “kalau ada hutang yang belum tertunaikan, mohon diikhlaskan atau diingatkan supaya bisa terbayarkan”. Entah hutang kerjaan sih ya! Yang besar-besar sudah selesai. Yang kecil-kecil? Saya lupa. Sekecil, “mbak tolong kerjakan itu”. Terus karena tidak terlalu penting maka saya iya-iya saja.

Wah. Banyak juga ya.

8.11.18

Pulang (III)

Setelah tahun kemarin, saya jadi punya tiga tempat pulang. Itu baru saya sadari sekarang, soalnya ketika saya bilang “pulang”, yang biasanya di Sumedang bagian rumah Ibu-Bapak saya (he-he), saya jadi aneh sendiri. Bagi suami, pulang mungkin artinya ke Sumedang bagian rumah Mamah-Papah (mertua saya). Jadi saya suka ralat. Kalau bilang pulang, saya bilang spesifik, pulang ke rumah Ibu atau rumah Mamah.

Rumah sisanya? Tentu rumah kami yang di Bekasi. Karena itulah tempat dimana akhirnya kami bersama-sama dalam satu atap sebagaimana seharusnya suami-istri. Jadi kalau kita bilang “pulang” tanpa embel-embel, berarti yang dimaksud adalah Bekasi. Ah, padahal hati kami masih sangat Sumedang, he-he.

Enam bulan pertama pernikahan, kami masih tinggal di tempat yang berbeda. Saat itu, arti “pulang” lebih bercabang daripada sekarang. Pulang ke mana? Siapa yang pulang? Gitu. Saya ngekos di Palembang dan suami tinggal di Bekasi. Pusiing.

Gambar cat air dan tinta pada kertas. Dibuat di Kuching.

Alhamdulillah, keruwetan label “pulang” ini berkurang setelah kami serumah. Itu adalah salah satu keputusan terbaik kami, saya khususnya, di tahun 2018.

Faedah serumah, kami jadi lebih sering bertemu, bertatap muka, dan jarang konflik yang disebabkan oleh kesalahpahaman tulisan di gawai. Haha ini beneran sih. Suami saya itu kalau nulis pesan pasti kesannya datar. Kalau tidak kenal, atau tidak pernah interaksi tatap muka, agak susah menebak nada bicaranya. Padahal aslinya ramah sekali lho.

Yah, kami menyepakati arti kata “pulang” pada akhirnya. Bahwa pulang adalah tempat kita kembali. Dan bagi kami, kembali ke tempat kami biasa bersama di dunia, sebelum kembali pada-Nya dan mudah-mudahan masih bersama-sama. Aamiin.

*tulisan ini ditulis ketika kami sedang berada di tempat pulang yang berbeda. Baru begini saja rasanya rindu pulang dengannya. Ah, kita.

6.11.18

Screen Time, Cringe Time

Beberapa bulan ini (yak, bulan!) rasanya saya sudah keranjingan gawai secara berlebihan. Ini tidak ditandai dengan ketergantungan seperti, tidak bisa berpisah dengan gawai barang 5 menit saja, atau semacamnya. Ini lebih buruk. Sampai di titik dimana saya merasa tidak punya kegiatan menarik lain selain mainan gawai! Walaupun saya tidak main gawai untuk swafoto (serius, saya ataupun suami sangat jarang swafoto, kami memang tidak sebangga dan senarsis itu dengan wajah kami, ha-ha) atau mainan daring, tetap saja, tidak baik. Makanya kemudian saya berpikir bahwa saya kudu-wajib-harus membatasi waktu menatap layar seminimal mungkin.

Untuk mulai membatasi screen time di gadget, pertama-tama perlu diselidiki dulu, sebenarnya apa sih, yang selalu saya buka di sana? Se-fomo (fear of missing out) apa sih saya sehingga harus selalu membuka gadget? Mari kita telaah.

Dibuat berdasarkan tokoh asli karya Shauncy Tan.

Yang Selalu Dibuka di Gawai

Pertama jelas Instagram. Saya berasa kuper banget kalau sehariii saja gak buka IG. Memang, IG adalah platform sosmed yang paling cocok buat saya, karena foto dan video bisa diunggah dalam satu postingan, dengan caption yang bisa sepanjang rel kereta api (ha-ha). Jujur ini bikin malas blogging sih.

30.10.18

Pesawat

Pesawat (terbang) memberikan banyak sekali kenangan buat saya. Saya pernah jadi pengunjung bandara reguler selama hampir tujuh tahun, dan tentu semuanya sebagai penumpang pesawat tertentu. Menjadi petugas antar jemput tamu kantor hanya sesekali saja. Selainnya, dinas luar.

Saya tidak pernah pilih-pilih maskapai. Yah, ada sih yang saya pilih hanya jika tidak ada pilihan lain. Entah reputasi delay-nya, entah pertimbangan harga tiketnya. Yang jelas selebihnya buat saya semua pesawat sama saja.



Namun saya selalu sedih setiap berada di bandara. Rasanya sepi walapun di keramaian. Tapi senang ketika sudah berasa di dalam pesawat, karena tiba di tempat tujuan hanya kedipan mata saja. Secara harfiah seperti itu karena saya lebih banyak ketiduran di dalam pesawat. Hihi. Dan senang yang ke dua, adalah karena do’a orang yang sedang safar (bepergian) itu mustajab. Maka saya manfaatkan waktu terjaga saya untuk berdo’a macam-macam. Keselamatan, pasti. Jodoh, ya waktu belum menikah. Setelah menikah, do’a-nya lain lagi. Waktu itu, minta disegerakan dan dikuatkan untuk tidak LDR lagi. Kesehatan keluarga, juga. Dan lain-lain, sesuai keperluan. Namun yang paling utama, adalah do’a agar husnul khotimah.

Saya tidak pernah tahu apakah saya akan selamat atau tidak selama berada di dalam pesawat ini. Ibaratnya sebuah ruang tertutup. Terkatung di langit. Anda mau kabur kalau ada apa-apa pun, ke mana? Anda tidak bisa berharap pada apapun di sana. Semua protokol keselamatan sesuai arahan flight attendant saya kerjakan, dan lembar tata cara evakuasi sering saya baca. Penguat hati saya, salah satunya adalah bahwa secara statistik, orang lebih mungkin celaka pada perjalanan darat seperti di mobil atau sepeda motor daripada di pesawat. Namun walaupun begitu, memang kecelakaan pesawat biasanya fatal. Setelah itu, hanya pasrah. Maka tidak ada yang bisa diharapkan kecuali pertolongan-Nya. Ridho-Nya. Jika saya tidak selamat di sini, yang saya do’akan hanya agar saya tidak meninggal dalam keadaan tidak ingat Dia.

16.10.18

Searching: A Movie

How well do you know your kid?

You might know very well, that’s probably your answer. You meet him/her everyday. Of course you know him/her. You know what his/her favorite breakfast is, you know how sloppy he/she is about his/her laundry, and you know he/she always seek for grandparents’ approval (for extra allowance) for anything when you don’t give one. You know him/her that well!

But then look it this way, how much time in that day, that you really meet your kid? One to two hours before school, and then six to seven hours after school - you don’t count his/her sleeping hours, tho. That makes it nine hours. Nine hours times six days is fifty four. Add weekend to your calculation, if he/she doesn’t have any plan outside the house then it’ll add up to sixteen hours. So you only got seventy hours per week, facing your kid. And you don’t even talk that long. You probably have that quality time with him/her one to three hours per day. That makes twenty something hours per week. What does your kid do while he/she doesn’t talk to you? Do you know his/her friends? Off line or on line?


This is surely what makes a big question for parents (especially when they have teenagers in household) after watching this movie: Searching.

(In this you won’t find a common review about the movie, I just want to share my feeling towards it here).

9.8.18

Mengaji (Di Dunia Nyata)

Adab dulu, baru ilmu.
Kalimat ini sedang sering terngiang di telinga kita baru-baru ini. Ketika semakin banyak orang yang hijrah (alhamdulillah!) namun dampak hijrahnya ini berbeda-beda satu dan yang lainnya. Yang hijrah kemudian mengajak orang lain, banyak! Yang hijrah kemudian meneliti dosa orang lain, juga banyak! Bahkan dosa seorang ustadz yang bukan gurunya seperti yang ramai diperbincangkan kemarin. Tidak segan kita menguliti orang yang berbeda dengan kita tanpa ampun. Padahal edukasi tentang toleransi sudah diajarkan sejak SD. Budaya "main hakim sendiri" yang biasa disandingkan untuk orang-orang pelaku pengeroyokan saat ini sudah bergeser dari dunia nyata ke dunia maya: netizen. Kedoknya sama: hijrah. Bedanya, pengeroyokan di dunia nyata bisa bikin mati secara fisik. Kepada pencopet, kepada yang disangka pencopet, dan sejenisnya. Sedangkan di dunia maya, bikin mati secara psikis. Masa sih, hijrah malah membuat orang jadi hakim instan?

Practicing Granny Pictures. Color pencil on plain paper by me.

Amit-amit, yak.

Tapi ini 'kan menyampaikan kebenaran! Kilahnya. Ya anda sendiri, menyampaikan kebenaran dengan cara melukai perasaan orang, bahkan cenderung merundung (bully), menurut anda itu sudah benar? Eh tapi dialog ini 'gak beneran terjadi kok. Hasil menyimak juga. Hasil menghakimi juga. Hakim-ception. Hah!

8.8.18

It's Not A Restart Even If You Thought So

When I first announce my resignation, people were like,

"Oh, I'm sorry to hear that", - yeah, you must.
"Is this a husband's order?", - enough to that. You don't know him.
"Why don't you be grateful? Your resignation means you have no gratitude," - actually, resignation is a form of my gratitude over my situation at the moment. And as to 'anything good for one person is not always good for another person' so call me a snob, but I didn't buy this.
"Be patient, money is not everything", - this kind of an insult.

And among those sorry comments, I hear one good support,
"Good decision! Insya Alloh you won't regret". (And mostly this came from the "husbands" employee - yeah, in my former workplace there's a lot LDR husbands located far from their spouse) - many thanks!

Menjadi salah satu panitia acara CIP pada bulan-bulan terakhir bekerja di Palembang.

The worst comment?
"You'll probably restart everything." - silence. This needs a long answer. As in this post.

1.7.18

A Very Married Woman (& Man)

If I get married, I want to be very married.  - Audrey Hepburn.
Thus, perhaps one sentence proving women are obsessed with marriage. Or wedding. Ah, forgive me, it was probably not. It was probably only me who kind of obsessed with wedding - a decoration of marriage, I must say, but most importantly to tell people that me & a man who's name written on the invitation are legally connected & have rights to proliferate in advance - and used to make effort to attend a lot of wedding of my friends just because I love wedding. I love seeing the bride & the groom changing smile to each other all day long with those dreamy look in their eyes. I love seeing the parents all dressed up to celebrate their children's big day, with tears of joy & perhaps they screamed in their mind, like, "Finally!". I love the kids who played their role as "pager ayu", all dolled up in beautiful dresses and suites. I love the ijab-qobul happening followed by relieved sigh from the invitees. I love them all about wedding. 

And today is mine. I am attending mine. 

(Finally!)



The Day Of
"Saya terima nikahnya..."
Kalimat itu terngiang di telinga saya yang tepat berada di samping kiri laki-laki berjas hitam yang mengucapkannya dengan tegas dalam satu tarikan nafas di hadapan Bapak dan Pak Penghulu. Saya sendiri menahan nafas. Segera setelah laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya, saya menghela nafas lega diiringi seruan "Sah!" dari para saksi. Kini laki-laki itu telah menjadi suami saya.

26.4.18

21.04.18 Mastertalk & Masterwork at Jakarta Creative Hub

Ternyata sudah hampir dua bulan saya menganggur  tidak bekerja kantoran. Tapi lupakan semua itu karena kali ini saya lagi tidak mau bahas yang kayak gitu - belum bisa menjelaskan kesannya sih karena sebulan pertama saya sakit habis operasi sesuatu. Jadi belom full-full amat jadi IRT. Efektif jadi IRT mungkin sekitar sebulanan ini yaa sejak 7 April 2018-an. Dan semingguan ini tukang sayur yang biasa lewat di komplek tempat saya dan suami tinggal lagi absen jualan - 'gak tau kenapa, 'gak muncul di Lamb*eturah sih beritanya - so saya udah belanja buat minggu ini dan lagi 'gak ngerjain apa-apa di rumah sehingga saya memutuskan segera nge-blog tentang: Mastertalk & Masterwork. *Again, bilang 'gak mau bahas tapi jadi bahas wkwk betapa tidak konsistennya seorang Dews ini.


So finally last week I got a chance to attend one of interesting short courses (a mini workshop, actually) about arts and drawing in Jakarta Creative Hub, placed in Graha Thamrin. At the beginning of seeing the event flyer on instagram, I surely skipped some details here because what I was expected was slightly different from what I actually got. Yeah, the details were: it was held by college students - which means the attendants would be more from college students or real students (high school and alike lol). But don't worry, they are not some others college students: they are graphic design-ish college students from Universitas Multimedia Nusantara that invited Tomodachi Studio artists to deliver the lesson here. And I got a lot of insights because of attending this. The more interesting part was that the tutors are actually about my age - or younger, but judging from their favorite animes (YES! ANIMES) I thought I wasn't that fail. Supposed to be a mentor at my age, right? Only I have short experiences (if not nothing) in this so I wasn't very ashamed for still being an attendant haha.

Kalau melihat flyer-nya sih, saya berbinar-binar banget dan pengen banget ikutan. Karena, well, that was exactly my problem! Topiknya 'kan tentang bagaimana menemukan ciri khas desain. Kalau yang ngikutin blog (atau kenal saya di dunia nyata dengan karya-karya saya) pasti tau, bahwa karya saya itu lumayan berubah-ubah dari waktu ke waktu. Influence manga dan anime sangat kerasa sampe sekarang di karya-karya saya, walaupun saya pernah mencoba mengganti gaya dengan memasukkan unsur pensil warna, digital, dan cat air. Jadi tentunya saya butuh masukan tentang masalah saya itu.

29.3.18

Our DIY (Kind Of) Wedding Invitation

77 Days Before

"A, aku izin buat konsep undangan sendiri ya? Nanti aku kasih liat ke Aa supaya bisa dikoreksi kalau ada yang gak pas."

Gitu ujarku hari itu. Alhamdulillah calon suami langsung mengiyakan. Malah dia senang sekali karena nanti undangan itu bakalan jadi karya kita berdua yang perdana, hehe. Nah mumpung senggang, saya mau bahas khusus deh. Sengaja saya tulis agak detail di sini kali aja ada yang mau buat undangan pernikahan sendiri juga. Lebih puas loh kalau bikin sendiri hehe.

Tema besar dari semua benda "cetak" kami adalah biru dan hijau. Dominannya sih putih, biar kesannya tetap clean.

01 Cari Inspirasi

So tanpa banyak menunda, saya - yang memang sebenarnya sudah sempat riset sendiri soal undangan ini - segera mengirimkan link Pinterest Board saya ke calon suami. Btw Pinterest itu salah satu surganya inspirasi visual menurut saya. You could just insert your keyword there and they will offer you a lot of choices. Kita tinggal tandain aja yang kita suka dan bikin board sendiri. Kalau udah gitu, kali-kali dibutuhkan, kita bisa lihat ulang per kategorinya.

28.3.18

Adjusting, Adjusting, Adjusting

Was I hard to impress? Gak juga yah.. namun karena kebiasaan "mengatur" dan punya sifat agak-agak control freak dari lahir, akhirnya saya, atas kesepakatan bersama, berupaya "mengatur" pernikahan saya sendiri. By sendiri sebenernya tentunya berdua, dengan sang calon suami. Kita sepakat juga 'gak hire WO karena WO itu 'kan perlu banyak rapat - entah tatap muka entah via WAG tapi kami berdua 'gak akan sempet. Kita 'gak pernah bisa tinggalin semua ke WO - tetep perlu ada monitoring dan lainnya. Sementara saya dan suami tuh sibuk, dan ada di kota yang berbeda (saya di Palembang dan suami di Bekasi) sedangkan tempat walimah kami rencananya diadakan di kota asal kami: Sumedang. Ribet bukan? Terlebih, kasian kalau orang tua kami kudu direpotin untuk ngurusin pernikahan kami para lajang berumur matang ini haha.

Did I have my own criteria for the so-called dream wedding? Ya dan tidak. Ya karena ada beberapa hal yang saya tidak akan pernah mau dan tidak, karena ada beberapa hal yang saya mau-mau saja. Jadi 'gak ada kemauan spesifik sih sebenernya. Cuma saya "gak mau"-nya lumayan banyak! Haha. Suami saya pada dasarnya orang yang sederhana dan tidak banyak maunya. Namun sekali ada kemauan, pasti dia akan usahakan sesempurna mungkin - ini agak beda dengan saya yang maunya apa-apa cepet dan ringkas hihi. Tapi itu seninya. Perlu musyawarah dan komunikasi yang baik. Toh selalu tercapai kata sepakat dan selalu kompak pada akhirnya. Alhamdulillah.

Did our parents had their own rules for us having our wedding? Hampir tidak ada! Bahkan alhamdulillah banget kami tidak "dipaksa" menentukan hari baik segala macam. Simply melihat hari libur dan permainan tanggal belaka hehe. 'Gak ada juga keharusan menyewa pawang hujan - what's that for anyway! Mereka benar-benar helpful tanpa mengatur yang berlebihan, namun tetap menyediakan saran dan nasihat bermanfaat setiap kali diperlukan.

So semuanya tentang penyesuaian: adjusting, adjusting, adjusting. Jika tidak, maka susah buat progressing dan khawatir akan keteteran. Jadi di sini kita akan membicarakan beberapa adjustment yang kami lakukan dalam merencanakan walimahan.

Again, kami sibuk dan berjauhan. Jadi waktu kami yang sudah sempit itu jadi tambah sempit dalam mengurus pernikahan ini. Tapi apapun itu, we should start somewhere, right?

139 Days Before

So then we started with.. menentukan mahar. Lha iya, yang penting dulu nih yang diurusin yaitu syarat sah nikah hihi.

Ilustrasi by @tweedledew.

27.3.18

The First Milestone - Lamaran

This is the reason why I posted "How Not To Be The IT-Zilla" earlier hehe. Because 6 months for a wedding preparation (yeah you know now, "IT" refers to Bride - I was just too shy to mention it), as they always say, is too short. I didn't hire any wedding organizer so you could imagine the chaos. So here are how the journey progressing till the date. This is not The Sims 3 so if you failed, you can never start it over.

Lupakan euforia bagaimana Mr. Darcy telah memilih saya dengan cara yang begitu ajaib dan super fairy tale-ish (hehe). Selanjutnya mau 'gak mau saya kudu mikirin teknis. Menye-menye-nya sudah habis (pending dulu sampe resmi menikah), karena yah, bagaimanapun saya dan dia memilih tidak menunda lama karena kami khawatir akan berujung "pacaran". Saya pribadi udah ogah banget kalau kudu nikah pake jalan pacaran. Rugi waktu, rugi hati (bahkan tenaga wkwk) - dosa pulak. So akhirnya saya dan dia segera membicarakan tanggal.


Ada dua tanggal yang kami bicarakan yaitu tanggal lamaran dan tanggal akad-walimah. Hmmm kenapa ada lamaran? Toh saya sebenarnya udah dilamar. Dua kali, malah (wink). Hmm.. sebelum menjadi orang tua, kita adalah anak dari orang-orang tua kita yang pasti punya keinginan tertentu untuk anaknya. Saya anak perempuan satu-satunya dan dia anak lelaki satu-satunya. Jadi tentu ada beberapa penyesuaian supaya semua kehendak bisa terfasilitasi. Ini ternyata ada seninya sendiri. Kita gak boleh egois, misal gak mau tunangan, pengen langsung nikah aja, atau misal gak mau pesta besar, karena pengen private party (yuhu), namun ternyata keinginan orang tua beda. Kudu sabar dan tetap bermusyawarah tentunya. Di sini potensi tergelincir ke arah dosa lumayan besar. Orang bilang, mau nikah itu godaannya banyak. Kami rasain memang bener. Tapi alhamdulillah semua sudah terlewati.

Satu hal yang selalu kami ingat, bahwa "menikah itu mudah". Maka tugas kita adalah untuk tidak mempersulitnya.

92 Days Before

26.3.18

When In Doubt, Ask HIM

Saya termasuk orang yang paling risih jika harus membahas "pernikahan". Soalnya jaman-jamannya saya pengen nikah banget tuh pas umur 25 wkwk (which is, 3 tahun lalu). So ketika "target" ini lewat, ya sudah saya tidak ada keinginan membahasnya lagi dengan terlalu menggebu-gebu. Abisnya, bayangin aja, kita kalau liat feed instagram, atau status WA, atau FB, apalah namanya, dari single ladies yang "kelihatan" banget pengen nikah, galau, mellow, hmm awalnya sih simpati ya tapi lama-lama kok ya annoying banget. Seolah-olah seluruh dunia harus tau banget gitu kalau dia menderita karena belom nikah. Emangnya dengan kayak gitu, bakalan ada "pangeran berkuda putih" dateng, gitu? Ngajakin nikah biar elu 'gak sedih? 'Gak akan layaw.. Gimanapun, bentuk "ikhtiar" dengan cara gitu tuh gak saya banget (jomblo penuh harga diri wkwk).

Intinya saya anti banget kelihatan begitu. Umur 25, tidak ada tanda-tanda diajak nikah ama siapa-siapa. Deep down inside sesungguhnya saya sangatlah galau. Terlebih saya anak perempuan satu-satunya dan bapak saya sudah tua...

Lalu bentuk ikhtiar apa yang pantas, atau bisa, saya lakukan? Toh, saya ini selain punya harga diri tinggi, juga kurang suka "jemput bola". Saya 'kan perempuan, salah-salah, niat menjemput jodoh, atau menikah, malah diterjemahkan jadi ajakan pedekate, ajakan pacaran - which is a BIG NO, karena buat saya "pacaran" itu merendahkan perempuan serta institusi pernikahan. So akhirnya saya hanya banyak berdo'a, namun bukan berdo'a segera menikah, tapi minta diberikan situasi dan kondisi yang pas - which is sudah pasti Allah akan berikan yang seperti ini.
Maka, dia pun muncul di do'a-do'a saya. Gak tau juga gimana caranya, pokoknya nama dia masih terselip di sana. Bukan sebagai istikharah, toh belum ada tanda-tanda apapun waktu itu. Hanya, dalam usaha saya berdamai dengan diri sendiri dan situasi terjelek dalam hidup saya pada saat saya berumur dua enam waktu itu, saya cuma ingin "diselamatkan". Namun ada rasa miris dan sedih di hati, karena pengalaman hidup membuat saya berubah dan makin skeptis tentang pernikahan. Kok ya kasian, jika dia harus merasakan pahitnya hati dan pikiran saya waktu itu.

8.3.18

30 Days to BPS Diary - The Final

PROLOGUE
They say, winner never quits, and quitter never wins. This, I believe, can't be applied in to all situation. There are times you should quit a thing to pursue another thing - which is better - and you're still able to win. So yeah, this is the drama. I wrote this on my Whatsapp and kept it updated day by day. For any blank days, it meant I was busy doing the rest of my work before my leaving.

Artwork by me.

H - 30
I finally had the courage to hand over the letter to my superior. Yeah, the letter that’s been in my draft since two months ago. I almost had a teary feeling especially when my superior told me that he’s already have plans to fill in after my leaving approved. But then I was okay. He’s so considerable and I was lucky to have a boss as wise as him.


9.2.18

Menantikan Umar

Assalaamu'alaykum, Umar!

Sebenarnya Ambu belum tahu kamu itu laki-laki atau perempuan. Tapi berhubung Ambu sangat ngefans dengan Umar Bin Khattab, R. A. dan Umar Bin Abdul Aziz, ya sudah sementara ini Ambu panggil Umar dengan sebutan Umar, ya. Hehe. Ambu tahu nanti Umar akan menjadi orang yang tangguh dan berjiwa pemimpin, namun tetap takut kepada Allah SWT dan cinta keluarganya. Hmm tapi Apa' bilang sih sebaiknya Ambu manggil Umar dengan sebutan Kafa. Singkatan nama panjang Umar nanti. Tapi Ambu masih lebih senang manggil Umar hehe. Gak apa-apa ya?

Umar sekarang udah berusia 5 minggu 4 hari looh. Kata dokter Casa, dokternya Ambu pas lagi hamil Umar, saat ini Umar baru sebesar biji jeruk! Hihi. Ukuran Umar baru 0,9 cm saja. Tapi Umar sekarang memang lagi bikin Ambu mabok dan tiba-tiba benci sama bau kencur (literally kencur). Membayangkannya pun Ambu mual huhu. Sabar ya, Umar. Kita 'gak akan makan yang ada kencur-kencurnya dulu kok. Kita makan yang lain aja. Dari kemarin kita cuma makan apel sama buah pir. Sesekali makan kemplang. Itu loh, kerupuk Palembang yang enak banget itu. Ambu harus ngunyah terus nih biar kita gak pusing dan mual.
Ambu, Apa' dan Umar.

Untungnya, Apa' baiknya di luar batas kewajaran hehe. Walaupun sekarang Ambu dan Apa' lagi jauhan (Apa' di Bekasi, Ambu di Palembang), Apa' 'gak pernah marah-marah sama Ambu kalau Ambu lagi moody karena hormon kehamilan ini. Lagi males makan, lagi mual... Apak tetep baik dan sabar. Apa' selalu menyemangati Ambu supaya kuat dan tangguh. Supaya gak boleh kalah ama hormon, 'kan kita punya Allah SWT yang Maha Kuat, yang 'gak bisa dibandingin ama hormon hamil doang. Apa' sayang banget sama Ambu dan Umar. Alhamdulillah ya.

Tapi sebelum ini, sebetulnya Umar pernah ada di rahim Ambu lho.

22.1.18

Working Today

It feels incredibly refreshing, starting to arrive early in the office like what happened in my early years of working here (I mean, until the midyear of 2016 I still arrive at the office before 7 AM sharp). Don't get me wrong, my office has a flexible entry time ranging from 7 AM to 7.30 AM so when I say I don't arrive early, it means I arrived like 7.30 AM-ish. And then this noon I received this job-anniversary certificate, stating that I've been working here for five years.

FIVE YEARS!!

Wow! If they include those OJT year it supposed to be 6 years, no? How time flies...


Oh and so you know again, I've been stagnantly here for 4 years now. So basically I've spent most of my entire career here in Palembang. And to be honest, it equals with, growing older (and wiser? dunno) here. Like my adulthood is starting and progressing here from 24 to 28 yo of my age (I'M THAT OLD, I KNOW!). Ah.. what is it with Palembang? Sometimes it feels bleak and empty. Especially when my mood is in some kind of juggling state. Up and down and up and down. Often it felt like it was gonna break into pieces.. but it didn't.

This city has became one spot of comfort zones. Four years is not a short period. If it's a relationship then it'll be time to decide whether we should continue or just cut it.

Continue. Or Leave.

Of course it's never been an option for me, as a corporate worker whose the fate decided by those upper-level-men. But I don't know. I feel like I have a choice. By choice I mean I have another life to consider. The new one. (So basically it's not even a choice). I need to take a step and I know this time I won't be alone.

2.1.18

The Expected Uninvited

I was in the middle of rushing to catch a usual homecoming flight from Palembang to Bandung when suddenly one of my colleagues called me - a way too long one - on the phone. Because of this call, I didn't hear my name being called many times on the PA announcing they would fly soon if I didn't rush. And so just it.

I skipped the flight.

In my right hand I still had my freshly packed pempek for my family. God knows what was the history behind that unearthly box (okay, I was slipped on the wet floor - with no "caution wet floor" sign on it - with a small sick muscle and big embarrassment while exiting that pempek shop). So I was just there. Sat for a while mourning my incapability of hearing (was my ears covered with extra wax or something that moment? eww) that important thing, until I realized that something else - bigger one - was about to happen.

Artwork by Me.

201 Days Before

Karena gagal pulkam di sebuah long weekend nahas itu, akhirnya saya memutuskan untuk ke luar kamar - maksudnya, saya akan "terjebak" di sini selama tiga hari lagi dan saya harus punya kegiatan dong selain hanya tidur dan makan di dalam kamar. Jadi saya pun berencana untuk ke toko buku yang dilanjutkan dengan acara menggambar siang, dan yaah kayaknya oke juga kalau diakhiri oleh pijit refleksi (saya sama sekali gak cinta sama yang namanya pijit-memijit, namun peristiwa "jatuh" terpeleset di lantai basah di toko pempek itu mengakibatkan bahu kanan saya memar dan kaku hikss) di dekat kosan saya.

Tampak seperti rencana yang bagus, bukan?