Wednesday, December 30, 2015

Reuni

Apa manfaat dari reuni?

Bertahun-tahun sejak saya berhenti berperan sebagai murid sekolahan atau mahasiswa, dari dulu saya bukanlah orang yang terlalu excited ketika diharuskan hadir di acara bernama "reuni". Alasannya sih banyak dan sepertinya sih alasan-alasan tersebut gak jauh beda dengan alasan reuni-haters kebanyakan. Mari kita telaah (pake cara saya ya).
Pictures from my school years.
Berikut adalah beberapa alasan yang berhasil saya rangkum dari baca dan mengamati sana-sini:
  1. Masa lalu kamu kelam! Kamu khawatir saat melihat temen-temen lama kamu, kamu hanya teringat masa-masa kelam di sekolahan/ kampus. OH NO.
  2. Lo introvert dan gak banyak omong. Krik krik banget kalau dateng.
  3. Temen lo gak banyak; akhirnya lo jadi nanya dulu siapa aja yang datang? Temen lo gak ada? Oke skip.
  4. Lo berubah. Sangat berubah dan lo lagi gak butuh ditanya-tanyain kenapa kamu berubah. Misal, dulu lo kurus kering dan sekarang gendut banget atau lo ganti agama gitu.
  5. Lo gak berubah. Yang lain udah ada kerja, sukses, bawa pasangan, bawa anak, bawa cucu, bawa pembantu.. lo masih sama seperti saat lo sekolah/ kuliah (oh awet muda itu).
  6. Kamu takut jadi korban prospek :( Ada kan, temen yang lamaaa banget gak ketemu. Begitu ketemu, padahal dulu gak akrab, tapi tiba-tiba sekarang nawarin produk jasa gitu :(

Familiar gak? Kalau enggak, selamat! Kamu punya "modal" yang cukup untuk datang ke reunian hehe. Tapi di sini saya bukannya mau ngeluh. Saya termasuk orang yang fobia reuni (udah dibilang di awal postingan keleus). Hampir semua alasan di atas jadi alasan saya untuk tidak perlu datang ke reuni. Tapi kali ini agaknya saya sedikit tercerahkan (ya kali).

Monday, December 28, 2015

The Duff Concept, and Social Life in General

This post was originally written last week, you know something about "fake persons and stuff", but then I fixed it here and there in less than 4 hours. And then everything just blank again, except that illustration I made. I didn't know why I drew that flower for I am not a flower-ish kind of woman, but I did it. In the end I just confused what will I write afterwards because that post earlier was kind of too sarcastic to be published. It felt not so much like myself. Perhaps I was upset and nobody write well while upset. Okay, I'm sorry. I always upset.

I love rose. Rose is hard to grow.
I don't know if this post will end up being published in the end because I am not feeling great. I wrote somewhere else but couldn't find anything fit to write here. So I took several days off away from my office, back to my hometown. The day after I arrived, I caught some flu lol and today I think I'm starting to be recovered. So lame. I rarely got sick (physical ones lol) and being sick during holiday is troublesome! Duh!

Okay but forget that blah-blah-blah intro.

I was wondering my life lately. So many things out of control, so many stuff left undone, so much sadness. I forgot how to be myself and I felt bad about it. I lost interests in so many things and then I think there's time to gather everything again. You know. Hobbies. Friends. Families. Etc. My hobbies don't include anybody in it: drawing, writing, reading. Hmm. Perhaps that was because I actually not really good with social interaction with human (of course!) to be honest. If I was walking alone I would keep my head down, avoiding any unnecessary interaction except if I met somebody that I knew (ain't everyone is?). I'd rather say hi to a stranger cat than a stranger human lol.

Monday, December 14, 2015

Current Instagram Fixation

Sebagai seorang blogger, butuh waktu lama bagi saya untuk menyadari bahwa sebenarnya saya lebih suka gambar daripada tulisan (sedih hiks). Jadi aktivitas blog walking saya lebih condong kepada pencarian gambar yang menarik mata saja. Hingga akhirnya saya pikir instagram adalah benda yang cocok buat memuaskan mata saya.

Penampakan IG saya. Silakan diliat-liat *malus*
Saya udah punya IG alias Instagram dari beberapa taun lalu. Sejak punya Android sih tepatnya. Hmm taun 2012 kayaknya. Tapi waktu itu bikin akun cuma biar nama @tweedledew gak ada yang make aja sih (padahal siapa juga yang bakalan make ya 'gak). Dulu saya gak tertarik sih. Pas baru lulus kuliah pas IG lagi rame diomongin orang, saya baru maenan Twitter. IG gak pake. Apalah daya HP saya cuma No*kia C3 yang buat FB-an aja lemah lunglai. Yah intinya gak bisa dipake IG-an. Terus pas saya udah punya HP lain, eh saya gak tertarik karena saya emang gak suka motret-motret. Bagi saya, motret terus difilterin sok-sok fotografer gitu dulu malesin. Moto buku di samping gelas, makanan, apalah apalah, terus difilterin. Semacam jadi profesional made gitu. Udah gitu hashtag bejibun bikin mata sepet. Huft. Saya gak anti membebek sih jadi waktu itu ya udahlah saya bikin, tapi ya cuma biar punya ajah. Gak dipake.

Bertahun-tahun kemudian saya tinggalin itu akun dan bingung mau saya apakan (karena saya juga lupa password-nya). Ngepost juga sepi likers. Eh taunya ternyata IG itu menarik sekali. Awalnya cuma dipake stalk akun artis (yailah padahal mau stalk siapa, waktu itu Ben Barnes gak punya IG hiks), terus follow-follow-an sama temen. Sekalian belajar bikin foto yang instagram-able haha. Lama-lama follow hijabers dan akun-akun modis. Sempet follow banyak akun olshop juga. Terus bangkrut gara-gara kebanyakan beli hijab huhuhu. *oke itu lebay*

Eh sampe sekarang jadi keranjingan karena hey, IG itu sangat informatif. Jadi buat orang yang suka ngetawain karena following saya lebih banyak dari followers saya, saya cuma mau nyinyirin aja, eh situ pake IG buat apa? Buat temenan? -_- Sorry kita beda prinsip. Hehe becanda. Bebas kok mau dipake apa. Buat saya, IG itu tempat nyari inspirasi, informasi, dan tempat curcol (for temporary posts sih haha). Jadi wajar sekali kalau followers saya jauh lebih dikit ketimbang following. Di samping itu, saya bukan selebgram apalagi seleb beneran. Bear with me. Got it, honey?

So, still about IG. Saya punya IG fixation sendiri. Beberapa akun di bawah ini adalah akun IG yang saya follow dan saya tunggu-tunggu banget postingannya. Here they are.

Wednesday, December 9, 2015

Proyek Marcapada

Saya baru saja menemukan sebuah istilah baru. Marcapada. Hehe. Sering denger sih soal "Mayapada". Tapi Mayapada kan artinya Khayangan. Lah ternyata dunia kita punya nama juga. Marcapada. Asik banget yak. Berasa di kisah wayang atau dongeng sasakala (aih ada yang tau arti "sasakala"? artinya "asal muasal" alias "legenda").

Mungkin sudah sering saya bilang kalau waktu SMP sampe kuliah orientasi seni saya lebih banyak ke komik. Saya ngegambar ya buat komik karena semua gambar saya ada ceritanya. Serius. Bagai punya dunia sendiri (ngek), saya punya "marcapada" saya sendiri. Dari kisah sci-fi sampe paranormal romance (ailah), sampe sasakala. Belakangan saya baru sadar kalau sasakala itu menarik. Gak kalah dari dongeng Grimm atau HC Andersen. Actually I love mythology. Indonesia punya banyak. Bukannya SARA tapi kebetulan saya orang Sunda sih jadi taunya soal sasakala alias mitologi Sunda aja. Itupun sedikit banget. Terus baru-baru ini ide itu muncul lagi di kepala dan saya pikir sudah saatnya eksekusi. Mudah-mudahan gak mati ide di tengah-tengah (saya gitu orangnya, seneng pas mulai doang ehhe).


Desain karakternya udah lama saya bikin. Tapi soal teknik saya masih kroco. Ciyus deh bukan merendah emang krotjo. Hmm. Biasanya saya paling males nge-share ide karena saya gak suka banget dengan aktivitas pencurian karya. Tapi apalah karya ini gak worth it buat dicuri juga haha. Cerita singkatnya sih tentang perempuan biasa. Tapi gak juga. Dia adalah perempuan ke tujuh dari ras Mayapada. Iyes. Bidadari broo. Dan emang terinspirasi kisah bidadari hehehe. Nah karena suatu kejadian dia dihukum sampe diturunkan ke Marcapada alias bumi dan di sana dia ketemu dengan seorang laki-laki desa yang misterius.

Monday, November 30, 2015

A is Sick

This morning I got call from my mom and coincidently (remember my last post about her?) she's been ill for almost a month. So sad. Last time I met her was a month ago and I thought she was just simply flue or cough. Turned out that she has a mild bronchitis. She has herself checked by the doc, also Rontgen-ed. I have no idea that she'd have that kind of disease. My hometown is always cold and we're adapted well with that situation. Hmm probably my mom has a lack of immunity against this terrible weather. Too bad for me, where have I been? So this is why I was so sad yesterday. Again. That mother-daughter unique bond proved its part again. I hope my mom will get better soon. So worried. :(

Sunday, November 29, 2015

A

Someone has just stumbled on my blog and left a nice comment on an old post. Believe me, any positive feedback would make me smile and feel "stronger". Some say it was a spoiling act. I say it's a motivating deed. I'm not a wood or stone. You don't need to carve me with a knive or any other sharp tools to build me.
 
I try to use my magic, but in fact I have no magic in me lol.
So then after I saw that old post, I scrolled down, seeing anything older. And suddenly my eyes saw this post, about the first time I was away from Java. My first office was in Medan, remember?

Yeah. That 7cm post. Here's the post.

It made me cry. Perhaps lately I've been so busy thinking about bad things and forgot what I need to do here. But the point is, I miss that life. I miss "kehidupan A" like so bad. Especially the thing with my mother, and my family in my hometown. As a reminder, here "kehidupan A" refers to my default life: a tiny creature coming from a small town, very ordinary, not a wanderer-type and very "indie".

Sunday, November 15, 2015

The Prodigy (Wanna Be) Story

Beberapa waktu ini lagi HITS banget yang namanya Stand Up Comedy (SUC). Saya udah lama juga jadi penggemar komedi tipe begini. Kalau lagi mumet-mumet, tinggal buka Youtube, terus search deh pake keyword: ge pamungkas, jui purwoto, yudha keling, dzawin. Ya sementara sih favorit saya ya mereka-mereka itu. 

Nah sejak ada kompetisi di Indos*ar inilah, muncul lagi komika-komika baru yang yah.. lumayan lucu-lucu lah. Satu yang menarik perhatian saya adalah adanya komika cewek bernama Mudzalifah. Lumayan lucu lho. Bahkan sampe dapet juara III. Belakangan saya baru tau kalau umurnya ternyata baru 17 taun! Muda sekali kamu dekk...

Tujuh belas tuh masih kecil banget lho (kata saya yang udah tua sih wkwk). Bayangin. Dia jadi komika di umur 17. Kalau dia bisa mempertahankan karir, bayangin berapa taun dia punya waktu sampai bener-bener bersinar. Intinya karena dia punya head start, maka dia punya banyak waktu untuk berkembang melebihi orang lain yang memulai semuanya dari umur yang udah agak tua. Ya 'kan? Yang artinya dia punya kemampuan lebih dibanding orang lain seusianya. Buat orang-orang seperti itu saya punya istilah: prodigy.


Ngomong-ngomong soal prodigy nih, saya dulu termasuk orang yang pengen banget jadi prodigy. Ya tapi gak di bidang SUC laah gak mungkin bingits hehe. Kenapa saya mau jadi prodigy? Saya adalah termasuk orang yang percaya dengan konsep bahwa semakin cepat kamu memulai, semakin cepat kamu selesai, dan dengan itu semakin cepat kamu dapat memulai step berikutnya dalam hidup kamu. Jadi ceritanya mau cepet-cepet gitu. Itulah kenapa saya selalu merasa diburu waktu yang mana akhirnya saya pernah kena batunya.

Ini ceritanya agak panjang sih.

Saya masuk TK umur empat setengah taun dan udah bisa baca (dulu kayak gitu aja termasuk head start banget). Karena udah punya head start sekolah dari masih kecil bingit (dan tetep kecil sih sampe sekarang wkwk) dan pernah nge-cut masa SMA juga (ngerti lah maksudnya apa), umur dua puluh saya udah lulus S1. Saya pernah punya target. Sebelum umur dua tiga saya harus udah kelar S2. Abis S2 nikah lah ya dan seterusnya (gak usah dibahas sih wkwk). Yah pokoknya step-step hidup saya itu udah saya rencanain dari lama. Tapi semakin hari semakin saya sadar bahwa emang bener, manusia cuma bisa merencanakan. Akhirnya Allah juga yang menentukan.

Ini saya rasain saat saya dulu nganggur.


Friday, November 13, 2015

Segitiga

Takahashi Shinji

"Itu bukan manis! Itu namanya menguntit! Apanya yang manis dari dikuntit?"

Koyama Nobuo

"Sejak jiwaku pindah ke tubuhnya Takahashi Shinji sepertinya semua orang mulai memperhatikan aku. Bahkan Maruyama yang suram itu. Dan rasanya akhir-akhir ini dia tidak terlalu suram. Sepertinya dia baik."

Maruyama Miho

"Dulu aku pernah berniat bunuh diri. Kemudian aku bertemu orang ini. Setelah itu hidupku jadi berwarna lagi. Aku pikir aku ingin terus hidup setelah itu."

Maruyama San. Artwork by Tweedledew. Inspired from The Dead Returns by Akiyoshi Rikako.

Monday, November 9, 2015

Kisah Sepatu Merah

Namaku Merah. Aku adalah sepasang sepatu merah yang dibeli oleh Dew beberapa hari yang lalu. Yah, bisa dibilang aku memang baru saja hadir di kehidupannya Dew setelah sekian lama teronggok malu-malu di sebuah sudut toko. Aku tau Dew sudah lama mendambaku. Maklum, matanya selalu berbinar melihat sepatu yang warnanya merah seperti warnaku. Dan aku tau ketika Dew memilihku, aku adalah sepatu yang sangat istimewa.

Aku juga tau Dew adalah seorang perempuan ceroboh dan akibat kecerobohannya itu dia sering mengalami kesialan yang bisa banget jadi bahan tertawaan. Ya udah sih, yang penting kan aku gak rusak atau dilupakan, dibiarkan berdebu di pojokan seperti sepatu lainnya :(
Aku.
Tapiii.. kali ini Dew sudah sangat keterlaluan.

Semua diawali hari Jum'at minggu kemarin. Hari itu diputuskan bahwa Dew mau dinas ke Jogja. Dimulailah beberapa persiapan. Khususnya dalam pemilihan sepatu. Karena bentukku yang sangat casual tapi tetap mencolok (gaya Dew banget), maka hari Jum'at kemarin Dew memakaiku untuk mudik sekalian dinas. Seingetku Dew kan baru dua minggu yang lalu mudik. Tapi biarlah. Rejeki banget. Dapet dinas ke Jogja dan bisa pulang dulu ke kampung halaman. Asik kan?

Thursday, October 29, 2015

Pilihan

Beberapa waktu ini saya banyak mendapat pelajaran. Saya punya banyak teori dari pengalaman dan bacaan. Bahkan teori 'gak berdasar yang dengan senang hati saya ciptakan sendiri. Beberapa dari teori itu benar. Beberapa ternyata salah. Kemudian beberapa di antaranya menjadi prinsip baru.

***

1
Saya sering bilang saya manusia yang cukup happy dengan hidup saya. Yah, memang sih banyak ngeluh. Tapi ya udah. Mengeluh terus menguap, gak ngendap. Kalau nguap ya hilang bersama udara. Kalau ngendap suatu saat dipanasin atau diaduk tuh bakal muncul lagi, mengaburkan lapisan jernih di atasnya.

Misal,
Kerja sebagai pengembara - ya daripada gak kerja.
Kerjaan susah dan dituntut serba mikir - ya daripada kerja repetitif dan bikin otak mandek.
Kerja di kota P - ya daripada di P yang lain.
Stuck dengan sesuatu - ya daripada gak ada sesuatu.
Bertahan dengan sesuatu - orang lain banyak yang lebih parah!

Ya. Alasannya, "it could be worse". Hey. It could be worse itu mantra orang malas. Dalihnya sih bersyukur. Tapi malas. Selain malas, ini juga cara orang bersyukur yang agak pengecut. Saya sadar banget saya termasuk orang yang punya kadar kemalasan dan kepengecutan di atas normal. Tapi masa menggunakan dalih-dalih bodoh itu sebagai cara bersyukur?
Me. Going to work with millions thoughts. Most of them are "lebay".

Kadang saya lupa. Di balik it could be worse ada could've been better. Iya. Semua bisa lebih baik. Jatuhkan pilihan sekarang juga.

2
Memory block. Supress bad memories. Forgetting the pain, substitute that ugly memory. Klise ya. Tapi jika terus-terusan melihat ke belakang apakah kita jadi bisa maju? Sumpah saya mau lah kalau ada cara ngeblok beberapa ingatan jelek yang menahan saya untuk bergerak. Untuk berani bergerak maju. Ya tapi apa sih arti "berani"? Bagi saya, bahkan merasakan sakit tapi kemudian memutuskan untuk sembuh adalah tindakan berani. Kembali lagi. Ini semua pilihan.
 

Thursday, October 15, 2015

Thank You For Smoking

PROLOGUE

You may not know this but I REALLY REALLY hate smoking. I mean, come on. You put that cigarette on your mouth, and unlike Augustus Waters, you lit it, inhale it, and enjoy the smoke. Hey, perhaps you let it kill you in several years. Well, not everybody who smokes suffer from lung cancer or die faster than anyone who doesn't smoke. In fact I don't blame you if you enjoy your own smoke by yourself. But really, mind the smoke you produce by your smoking activity while you let it inhaled by people around you.

Itu baru asap rokok. Paling banyak kalau satu orang ngerokok bisa dibilang cuma 3 - 5 orang lah yang ngirup asepnya. Itu juga kalau dia ngerokoknya di tempat umum. Untungnya ada tempat spesial buat para perokok: smoking area atau smoking room. Yang dibakar juga cuma sebatang. Yang ngeluarin asep cuma alat pernapasan. Yang sakit paru-paru beberapa orang itu doang.

Gimana kalau yang ngerokok itu orang bego-rakus-penjahat dan yang dibakar itu berbatang-batang - bukan rokok - tapi pohon? HUTAN? Yang rusak hutan. Yang berasap beberapa provinsi. Yang sakit paru-paru warga negara yang tinggal di provinsi-provinsi tersebut. GENOSIDA.

Adek lelah diasapin bang. Hukz.

THE SMOKING AREA(S)


Sudah mau dua tahun saya mengembara di Palembang. Jadi sebenernya saya udah familiar dengan asap tahunan yang jadi penyakit di sini. Tapi ya sesuai sama yang dibilang di berita, asap taun ini memang spesial. Parah. Lama. Dan entah kapan kelarnya. Kalau dibilang sampe gak bisa napas ya enggak juga ya. Cuma baunya itu. Tapi kalau tiap hari terhalangi asap gini lama-lama ya sakit juga. Lebih ke sakit ati sih. Kok gini amat gitu kan. Mana bau.

Tuesday, August 18, 2015

Pulpen

"Barusan saya lempar pulpen ke orang gara-gara ada yang berisik di ruangan ini. Saya gak mau itu pulpen balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama kamu."
Betul! Lagi-lagi itu cuplikan dari film cinta-cintaan favorit saya, AADC. Hehe. Tapi kali ini saya gak akan bahas AADC sebagai film atau kisah cinta apalah. Sebenarnya postingan saya kali ini sama sekali 'gak ada hubungannya sama pulpen.

Rangga, dalam salah satu scene favorit dimana ia dengan sombongnya menolak diwawancara karena lagi baca buku. Artwork by me.
Belakangan saya lagi bete banget. Ya bukannya saya gak pernah ngomongin orang sih ya. Tapi ketika kadar ngomongin orang ini sudah di luar batas manusiawi, dimana orang-orang menganggap itu sebagai jokes yang setara dengan ngehina-hina fisik orang misalnya, hmm.. maka ber-ghibah menjadi gak menyenangkan lagi. Astagfirulloh. Menyenangkan saya bilang. Ya sebagai orang yang masih sering menggunjingkan kejelekan orang, saya sadar betul kalau ngobrolin hal begituan itu menghibur. Kayak, ih amit-amit ya untung kita gak gitu. Atau, ih jauh-jauh deh dari orang kayak gitu.

Padahal! Saya siapa?? Kamu siapa? Mereka siapa?

Sunday, August 2, 2015

Kucing Kumal

Betul sekali. Sengaja saya kasih judul Kucing Kumal karena saya memang baru saja menyelesaikan bukunya Raditya Dika yang judulnya Koala Kumal (baca resensinya di sini). Kalau kamu baca bab terakhir (eh, spoiler!) maka kamu akan sadar sembari mengangguk-angguk: oh iya ya, ini buku tentang cerita patah hati. Well, kamu 'gak tau kamu lagi baca buku apa sampai kemudian epilog itu menyadarkan kamu. Saya aja beli simply karena saya suka tulisannya Raditya Dika. Kalau dulu dia cuma bisa ngelucu doang, sekarang kelucuan dalam tulisan-tulisannya jadi tambah smart, dan apa ya. Dewasa.

Terus kenapa kucing? Ya saya lebih suka kucing daripada koala. Sorry.

Bastet. Colored edition. Original artwork by @tweedledew.
Patah hati.

Saya jarang sekali ya ngomongin hati. Terlepas dari ketidakpercayaan diri saya terhadap sesuatu yang bernama hati, you know, kayak, emangnya saya masih punya hati? Oh masih. Tapi dia masih berfungsi 'gak? *cie galau* Something like that. Ya memang di blog ini hampir semuanya bersifat pribadi. Kalau yang kenal banget sama saya di kehidupan nyata (atau maya?) pasti tau lah maksud di balik tulisan-tulisan saya. Ya sebenernya semuanya pribadi. Hanya saja saya lumayan suka main kode. Menyadarkan kamu sih, bahwa hidup kamu mungkin still a lot better hehe.
Maka, ketika dia sudah tidak bisa mencintai, mungkin dia tidak harus berurusan dengan hal-hal yang berhubungan dengan cinta. Seperti misalnya, mantan pacar yang masih sering ketemu. -P106

Tuesday, July 14, 2015

Surprise!

There are so many surprises this year. Yet it still July. IDK. Dinamika. Kali sih. Kehidupan B terutama. Kehidupan A masih gitu-gitu aja. Hmm. Kadang saya terlalu apa ya. Anxiety feeling. Something like that. Sering saya berjalan sendiri, sibuk dengan pikiran sendiri lalu bergumam dalam hari: "Ini beneran saya?".

Just like that.

Bertambahnya tanggung jawab adalah sebuah konsekuensi. Suka bingung sih, ini anugrah apa cobaan? Hmm. Sebenernya kan gini. Mau anugrah ataupun cobaan, jika keduanya bisa mendekatkan diri kepada-Nya, why bother?

Friday, July 10, 2015

The Glitch

noun
noun: glitch; plural noun: glitches
a sudden, usually temporary malfunction or irregularity of equipment.
A glitch is a short-lived fault in a system. It is often used to describe a transient fault that corrects itself, and is therefore difficult to troubleshoot. - Wikipedia.
Buat yang suka maen game pasti sudah familiar dengan kata ini. A glitch adalah penyimpangan gambar biasanya - saya 'gak tau ya kalau ada penyimpangan lain. Kalau mau liat contohnya bisa di-search di Google. Ya saya gak tau juga apakah saya menggunakan kata ini dengan benar atau enggak ya, tapi belakangan ini kayaknya saya lagi terkena sindrom ini. Kayak, ada glitch yang sangat besar di sejarah hidup saya. Terus saya bingung mau gimana dengan glitch itu. Mau dihapus? Direset? Atau dibenerin?

Should we hide the glitches, under our masks?

Delete

Waktu tidak pernah berjalan mundur (AADC quotes). Waktu yang sudah lewat akhirnya menjadi masa lalu. Dua detik yang lalu postingan ini masih kosong. Beberapa detik kemudian malah sudah terisi penuh dengan pikiran aneh. Hmm.. Imam Al Ghazali aja pernah menasehati, kalau hal yang paling jauh dari kehidupan kita adalah masa lalu.
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. (sumber).

Friday, June 19, 2015

Wounds

Every wounds will be healed. With time. The question is, for how long? What if the wounds are meant to be made? Like you made it yourself. You can cure it, you can prevent it, and drug yourself. But you'll never healed. You'll just unconscious, and then the wounds will be opened again. Even those bandages wouldn't affect a thing. Well. Who's to blame now? Suffer. Yes. But you have to survive. Again. The question is, for how long?

Can't be a good witch. Perhaps in another dimention.

Thursday, June 18, 2015

Ramadhan, According to D. Isnaini Fadhilah

First of all, I want to say apologize, humbly apologize for all the things I've wrote those perhaps annoyed some readers here (if any, and I'm pretty sure there are several of them), you know this is my blog and I pretty much wrote anything in my head (or heart) without thinking thoroughly. Enough with the brooding. So.. here's I'm going to write several things about Ramadhan according to D. Isnaini Fadhilah (it's me! hehe) and here's why I love (aren't we all?) Ramadhan so much.
 
Elsa versi Hijabers. Edited with Photoshop CS7. Fast edit hehe.
Ramadhan. Hmm saya sih gak akan bahas apa itu Ramadhan atau gimana ya. Sudah jelas banget bukan kalau kamu Muslim pasti sudah tau dong tentang QS Al Baqoroh (2:183) yang menjadi dasar diwajibkannya shaum di Bulan Ramadhan. Yep. Bahwasanya sebagai orang yang beriman maka diwajibkan untuk berpuasa agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Karena, bukankah semua manusia itu sama kecuali yang taqwa dan yang enggak? Jadi, buat saya Ramadhan menjadi bulan yang spesial yang bikin saya melakukan beberapa hal sebagai berikut:

1
Ganti Playlist

Sesederhana mengganti playlist di HP dan laptop. Sesederhana itu pula perubahan itu akan mendatangi kita kalau memang kita niat. Apa ya. Sebenernya 'kan hukum mendengarkan musik itu masih keombang-ambing (walaupun lebih banyak dibilang, kalau bikin terlena ya sebaiknya ditinggalkan), nah makanya sebagai pecinta musik seperti saya sih harus banget mengurangi hal-hal itu dengan mengganti playlist dengan music yang lebih berbobot. Yang syairnya syiar. Contohnya Raihan dan Cinta Rosul (1 sampe 6?).

Trivia aja nih, waktu SD saya sempet tergabung dalam group nasyid gitu. Dulu 'kan sempet booming album Cinta Rosul-nya Haddad Alwi dan Sulis. Nah waktu saya kelas 5 s.d. 6 SD makanya sempet jadi team koor. Sempet disuruhin jadi Sulis-nya (lead vocalist) gara-gara apal semua lagu tapi pleassee saya nyadar sekali sama suara saya hehe jadi saya 'gak mau. Sedikit cerita tentang group nasyid tersebut ya. Perebutan posisi "Sulis" sempet bikin berantem dua orang vocalist sih - dan saya jadi penengah yang gagal (as usual) sehingga sempet sih ada musuh-musuhan antar cewek gitu hiks. Masalah ini terselesaikan dengan baik, alhamdulillah. Namun kemudian group ini bubar karena perseteruan para ustadz (yang notabene masih usia 20-an awal, belum pada nikah) dan santriwati, say, complicated love-circle. Hehe. Absurd ya tapi emang kejadian lho. Saya mah masih kecil mana paham yang gituan waktu itu (enggak sih, saya ngecengin salah satu Aa Ustadz juga haha). Sayang banget sih padahal kita sempet roadshow ke mana-mana (Bandung Sumedang aja ding wkwk).

Sunday, June 7, 2015

The Fantastic Pentatonix: On My Way Home Tour in Jakarta; Special Report!

Guess what? GUESS WHAT?!!!

Hee hee. Pardon my overwhelming opening sentences but I really really super excited because yeah, I watched them performed back on June 3 in Balai Kartini, Jakarta. OMG I was super duper excited because let me tell you something, I've been their huge fan since I first saw their Video Clip covering Radioactive by Imagine Dragons, featuring the violinist Lindsey Stirling on Youtube (circa 2012)! I've been falling in love with them ever since. I've saved all of their MV on Youtube and listened to them like everyday. They have this fun element on their arrangement. I mean, I love a capella (but not the main stream a capella, this one has beat box in it!) and I love Disney. I think Pentatonix has both my favorite elements in it. No wonder I love them SO MUCH OMG.

Pentatonix squad. Left to right: Avi, Scott, Mitch, Kirstin, Kevin. Artwork by me.
So yeah, I first saw the announcement on their Facebook around April and I was excited so I posted it everywhere on my social media accounts. I want to watch it so much but has no idea who'll join me. I didn't want to come alone (as if!). Besides, it'll be my first time ever attending event like this. I mean, I know some people who might like their music by the "like" they gave every time I posted their music stream on my social media page. But perhaps they don't like it too much to watch Pentatonix live on stage. But I do. So I asked around and at first nobody wanted to join T_T. Until I remembered one of my college friend (a close one) who has hobby to watch concert (she is a K-pop-ers - I don't know how I call them - and has watched several K-pop concert) and after some of negotiation, she finally accepted my invitation. Yay!

Saturday, May 30, 2015

Vanished

Originally written on May 30, 2015
At your absolute best, you still won't be good enough for the wrong person. At your worst, you'll still be worth it to the right person.

1. They always make you feel inferior, and that was not even the worst part. They (think) they are perfect. You are not. How to change it? Nothing. You wish they tell you that you have something to proud of. But they didn't.
2. You ask them, what is it in you that is so precious to them? They didn't answered. You asked them again. Still no answer. They only say "Do Your Best." Okay then. You're not worth it (for them).
3. Be better, change yourself, they said. Repeatedly. You've tried, but they seem didn't notice at all. And then they noticed, but it seem never enough.
4. They said they need you to not to surrender. You've tried. Many times. Again, it seem never enough. Perhaps you've been invisible all these times.
5. How many times they tell you to leave? Hundreds. And then you've tried not to leave. They didn't ask you to stay, but you stayed anyway. You were the one who always struggle to reach them.
6. You stay. Again, betting on something you've been struggling for. But then they tortured you, telling you to go, telling you that you're never good enough, and then the worst part was when they said: "a person like you, wanting to be kept? I'll say NO." Suddenly you feel not worth it. At all. And that'll be enough reason for you to leave.

Think about it. They are good. Too good for you, to be honest. They loved you more than you'll ever know. They loved you even when you still hate them. Now that you love them, too - too much - they just treat you like you have thousand flaws. You love them. And still. But have they ever - I mean, EVER - asked you, what do you want? Did they know that you need them to be the same? Did they know that you need them to believe that you are precious? Did they know that you want them to tell you to stay? And did they know that you didn't like to be asked to leave? Perhaps they are right (I mean, they are always right). You're not worth it to keep. You better leave, and vanished. They'll said: Bye. Have fun. Etc. You don't have to come back.

Thursday, May 21, 2015

Teru Teru Bozu

"Hei, kenapa menggantungkan itu?"
"Biar hujan nggak turun"
"Memangnya kenapa kalau turun?"
"Aku akan keburu mati sebelum aku bunuh diri"
"Kamu mau bunuh diri?"
"Ya, asal nggak hujan."

(DHBP - 2007).

Jadi tiba-tiba saya teringat dengan salah satu novel favorit saya: Dan Hujan Pun Berhenti karangan Farida Susanty. Saya tertarik melihatnya karena cover novel itu bergambar boneka kain putih yang digantung di atas langit-langit. Iya. Kalau suka nonton anime atau baca manga pasti familiar dengan boneka tersebut. Dialah si teru teru bozu. Ah tapi saya gak akan bahas buku itu. Mungkin lain kali ya. Lagian blog ini tidak spesifik bahas-bahas buku atau apa. Hanya coretan dari pikiran-pikiran aneh, kadang gak ada artinya.
 
Teru Teru Bozu. My version. Terlihat cute padahal tidak berguna.
Katanya sih, teru teru bozu itu adalah semacam simbol atau jimat penghalau hujan. Orang-orang Jepang percaya bahwa boneka itu mewakili biksu di zaman dahulu yang pernah menjanjikan akan menghentikan hujan kepada petani. Hehe. Kalau saya sih gak percaya ya. Dan gak mengamalkan juga. Saya sering bikin waktu kecil dan hanya nganggap dia boneka untuk main-main saja. Tapi tidak menjadikannya teru teru bozu beneran. Dibilang just for fun juga gak boleh 'kan. Namanya beragama gitu. Cuma saya tertarik aja dengan filosofi di baliknya.

Menggantungkan harapan lewat sebuah simbol, ialah si teru teru bozu itu. Kita tidak mau hujan datang. Jadi kita berharap. Lewat apa? Gantungkan teru teru bozu supaya langit bisa lihat. Tipulah ia supaya ia ragu menurunkan hujan. Padahal langit itu pintar; tidak akan tertipu oleh sepenggal teru teru bozu. Gini deh. Di mana logikanya, langit akan menuruti teru teru bozu? Dia hanya sebuah boneka kecil. Kenapa bisa berharap dengan sebuah boneka kecil tanpa daya? Mungkin kita sedang sangat lemah dan desperate.

Berharap. Ya. Berharap. Semua orang perlu itu. Tapi kepada teru teru bozu? Sia-sia saja. Hujan akan tetap datang. Jadi kamu akan keburu mati bahkan sebelum ia datang. Tapi ya sudah kan. Asal gak bunuh diri.

"Aku adalah hujan. Kalo kamu gak suka, gak apa-apa. Silakan berteduh."
- Pidi Baiq.

Saturday, April 25, 2015

The Nightingale

This week hasn't ended, yet I feel so much pain in my stomach (OMG what is this thing to do with my stomach hee) and I cried a lot. Maybe I ate too much onions. Or did I forgot to eat anything? Hee hee. This is called "the anxiety". Familiar with the nauseous thing, like you're gonna throw up eventually while you're thinking or talking about something that is so hard to express? Yeah. That was it.


This was started last week. I've never been so scared of being left until that day. Sounds funny but it was true. I hardly believe it myself. I mean why? Have I lost my sanity? Perhaps, yes. It was so sudden. I have died trying to hide everything, yet he always guessed them (mostly) right. I have tried my best to find distraction, to find anything to keep me sane, to stay in the line, to hate him more and more ('cause it's a lot easier), but in the end I'll stuck again. The rest is this anxiety feeling. I'm lost in this dungeon.

It's only a drawing.

Friday, April 24, 2015

Persephone

Kadang-kadang (eh, sering?) dia picik. Berpikir bahwa semua orang akan seimpulsif dirinya. Ya kalau dia mah gampang marah, kesinggungan, ngeselin. Evil. Tapi gak semua orang akan melakukan hal seperti dirinya kan? Lantas apa yang membuat dia berpikir bahwa semua orang harus, atau akan seperti dia? Kenapa memikirkan hal-hal yang belum tentu dipikirkan orang lain? Sibuk sekali tampaknya, memelihara imaji. Memelihara ego. Sangat takut kalah, sangat benci dikalahkan. Padahal apa peduli orang lain? Dia hanya akan tersiksa dengan pikirannya sendiri. Menjadi bodoh, menjadi penjahat. Palsu. Whatever.

Would you want to meet someone as twisted as you?

The answer is no. She thinks - and really - she is the worst person ever. How dare her to ask people to be arround, whilst she did every-biatch-thing in the world and seems so proud?

Dua Minggu yang lalu dia pikir sudah kayak mau mati rasanya, ketika rahasia terbesar seseorang, terbongkar di waktu dan tempat yang salah. Mending rahasia orang lain atau acquaintances atau apalah. Ini rahasia sahabatnya sendiri. Yang bocorin gak tanggung-tanggung, salah satu orang dekat lainnya. Dia sholat, taubatan nasucha ceritanya. Ya Allah, saya tidak mau menjadi seperti ini. Betapa susahnya jadi orang baik dan bukan sok baik. Tapi kenapa lidah ini, tubuh ini, begitu mudah mengumbar cerita versi sendiri? Ya bukan bohong sih. Akan tetapi ternyata banyak hal yang lebih menyebalkan daripada kebohongan. Iya. Munafik versi seribu. Membelokkan pikiran orang. Sok baik. Sok korban. Anehnya masih aja ada yang kasian sama dia, beranggapan bahwa dia terlalu baik. Dia itu twisted for God's sake! Tinggalin aja napa. Blablabla.

Really, she is not a saint, and she would never be. And she screws up a lot. Yep, screw up is the only thing that she's best at.

Mungkin hal terjahat di dunia adalah pikiran jahat itu sendiri. Kenapa ya, seseorang yang punya seribu pikiran jahat, tapi masih banget ada yang mau nemenin? Harusnya sih bersyukur. Tapi dia selalu ketakutan. Dia sendiri takut kejahatannya akan berbalik padanya suatu saat nanti. Dan kayaknya sekarang deh, yang dimaksud dengan "suatu saat" itu. Berkali-kali dia ditampar dan disadarkan bahwa dia ini jahat. Palsu. Lagi.

Kadang dia lupa aja gitu. Segala yang tampak pada dirinya itu adalah rahmat-Nya. Bahwasanya Ia menutupi aib, dosa, cela, pikiran jahat dan perkataan jahat. Lantas kenapa dia masih bertahan menjadi orang yang gak baik?

Give a (wo)man a mask, and she will show you her real self.

Apa yang bakal terjadi nanti? Ngebayanginnya aja dia males. Takut. Sebal. Benci. Self-esteem menurun drastis. Ya gimana lagi. Salah dia sendiri kok. Mungkin sudah saatnya menerima akibatnya. Daripada di akhirat? Mau minta tolong siapa? Sebetulnya bukan orang jahat yang harus kita waspadai. Tapi orang yang kelihatan baik padahal jahat. Hati-hatilah pada orang seperti ini. Kalau bisa, jauhi. Sampai dia bener-bener sadar. Tapi sampai kapan?

Be the person you want to meet. (Hell no, she doesn't want to meet herself really).

Maaf.

Monday, April 20, 2015

Logika

Saya baru tau, membuka lembaran baru itu lebih susah daripada mencari pengalihan isu. Tidak semua orang bisa mengerti, tidak semua orang bisa memahami. Hanya, terkadang semua itu tidak logis. Untuk apa membela hati kalau bertentangan dengan logika? Saya ingin realistis. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau saja saya membuka lembaran baru. Kalau saja.

*kemudian kata-kata ini melingkar lagi ke kalimat paling depan*
Start fresh, will you?

Tuesday, April 7, 2015

Baca Baca Baca

Tidak banyak pembaca blog saya yang tau kalau selain blog ini, saya juga menulis satu blog lain yang tidak kalah sarkas-nya (hehe) namun belum pernah saya perkenalkan sebelumnya karena saya jaraaaaaaaang sekali bikin postingan di situ. Nama blognya: Ikra Difa. Yup. Sesuai namanya, "ikra" merupakan pelesetan dari Iqra dalam bahasa Arab (mungkin artinya jadi berbeda ya tapi ya..tau apa saya dengan bahasa Arab? hehe) yang artinya "bacalah". Walaupun sedikit maksa, ikra pun punya arti lain yang saya susun sendiri yaitu: Intisari, Komentar, Resensi dan Artikel. Sementara "Difa", well, Difa adalah singkatan dari nama asli saya. Sengaja ditambahkan huruf "a" di belakang biar agak berima dengan ikra. Iya. Kalau disambungkan arti Ikra Difa menjadi:

Intisari, Komentar, Resensi dan Artikel (tentang buku) by Dewi Isnaini FAdhilah.
Find me on http://ikradifa.blogspot.com.
Saya suka banget dengan nama ini karena kesannya sedikit Arab-ish namun rasa Indonesia-nya gak hilang. Mungkin kalau suatu saat saya punya penerbitan buku atau perusahaan apa gitu, saya bakal namain Ikradifa deh hihi. Semoga saja saat itu nama ini belum ada yang nyatut.

Oke sekarang mungkin beberapa dari anda akhirnya kepo membuka blog saya yang itu. Tapi mohon maaf. Mungkin anda akan kecewa karena postingan terakhir saya di situ bertanggal di 12 Januari 2014! Haha. Iya. Sejak ditolak keanggotaan dari grup BBI (Blogger Buku Indonesia) - tears - saya jadi maleeees banget mau bikin resensi. Ada beberapa faktor kenapa saya membiarkan blog yang itu dan malah tambah rajin ngepost di sini. Salah satunya tentu saja: karena saya sekarang jarang sekali membaca. Hmm.. kalau ditelusuri lagi, kenapa ya jadi jarang baca? Padahal waktu kecil saya termasuk binge reader. Semua saya baca. Dari manga sampai Goosebumps, dari Bobo sampe buku-buku IPA tentang eksperimen sains gitu, dari Enid Blyton sampe Annida..- kecuali koran, sampe sekarang saya gak suka baca koran.

Saya akan sedikit introspeksi di sini.

1
Kerja
Taken from Beauty and The Briefcase.
Faktor utama jarangnya seseorang menekuni hobby biasanya adalah kesibukan bekerja. Seorang karyawati seperti saya biasanya melalui 5 hari dalam seminggu, menghabiskan waktu di kantor kemudian langsung pulang, capek, lalu ketidur. Sabtu-Minggu? Sebagai seorang perantauan, Sabtu-Minggu adalah harinya sosialisasi dan jalan-jalan. Baca buku? Duh kapan ya.

Friday, April 3, 2015

The Middle East

When I say middle east, I don't mean to say the real Middle East. Pardon me for this misfit term, but what I do mean here is Java Island. Since I've been living in Sumatera from 2012 till now, Java is like the Middle East to me, even if I was originally came from there. In 2015 I've been granted two business trip to the two beautiful cities in the middle east: Jogjakarta and Semarang. Jogjakarta was really nice and beautiful but I was only given the chance to visit the Prambanan (I know, I've never been to Prambanan before lol). Semarang was also nice and I've got the chance to visit many places (and took a lot of photos!) so here I'll just bring up my story mostly about Semarang.


Sebagai orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa kadang-kadang saya merasa keki aja gitu karena perbendaharaan tempat (wisata) di Jawa yang pernah saya kunjungi itu sangat sedikit!! Maklum, sejak kecil keluarga kami tidak dibiasakan untuk travelling. Bapak kerjanya shift-shift-an sedangkan ibu super sibuk walaupun kerja di rumah. Susah banget nemu waktu libur bareng-bareng. Udah gitu kami kan keluarga hemat (if you know what I mean). Tempat terjauh yang kami jangkau waktu liburan keluarga itu mungkin Dufan - Jakarta (itu pun waktu SMP). Makanya, sejak kerja dan merantau ini, saya jadi lumayan suka travelling dengan catatan: no pantai, no laut (except kepaksa hehe).

Tahun 2015 ini dibuka dengan dua dinas ke Jawa Tengah: Jogja dan Semarang. Hehe. Believe it or not saya tuh mungkin salah satu orang cupu yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Candi Borobudur dan Prambanan. Nah makanya biar kecupuan ini 'gak terus berlanjut, waktu bulan Januari kemarin saya sempet ke Prambanan (sayang 'gak sempet ke Borobudur sih) dimana di situ saya sekalian menghadiri rapat kerja yang memang diadain di Jogja.

Thursday, March 26, 2015

Membalikkan Kebiasaan

Teorinya, manusia bisa mempunyai kebiasaan baru ketika sesuatu diulang-ulang selama minimal 6 hari. Versi dosen pembimbing saya dulu sih, 7 hari atau 7 kali.

Betul tuh, saya lagi "lelah" dengan yang namanya "kebiasaan". Terlebih, saya juga gak yakin ini baik atau buruk.

Gambar sederhana ini hanya bonus. Cermin dari kebingungan seorang manusia. Pulpen dan Pastel di atas kertas.
***
“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
– Menjadi Tua di Jakarta, Seno Gumira Ajidarma
Saya tidak kerja di Jakarta sih. Tetapi kerja kantoran dari jam 7 sampai jam 4 is definitely not my favorite thing. Terlebih ketika setiap hari harus ketemu dengan kerjaan yang itu-itu juga, dengan orang yang itu-itu lagi, dan membahas topik yang itu-itu terus. Celakanya, karena hal ini sudah berlangsung lima hari dalam seminggu dan (dalam kasus saya) terpelihara selama lebih dari tiga tahun, kerja rutin sudah menjadi kebiasaan yang gak bisa ditawar-tawar lagi. Ya bagaimana lagi. Kita tidak melakukan sesuatu sesederhana atas dasar suka atau tidak suka. Orang dewasa punya pikulan yang disebut "tanggung jawab". Kepada siapa? Dirinya. Keluarga. Tuhan.

Saturday, March 21, 2015

Bad Blood

Small fact about me, I love Taylor Swift. I put a lot of her songs in my playlist and often sing along with it for her songs have not much too high or too low note. I have some favorite songs from her albums and currently I'm in love with everything in 1989 Album. Especially Bad Blood.

My attempt of drawing Taylor Swift. Pen and oil pastel on a plain paper.

bad blood
noun
  1. ill feeling.
    "there has always been bad blood between these families"

Here I'm not gonna tell you about her, tho. Yet I'm not going to write another random opinion about the song but this post is a lot related with the powerful meaning of the lyrics. Well, I found the song is interesting since it has a girl to girl relationship. We girls hate each other, they said. We stare at each other to validate something, judging each other and at some point when we don't like what we see, we'll be like, "Ew! I'm still better" (sort of that). That's not entirely true. We girls compete with each other - that's true. That's why we wear make up and wear brands, right?

Thursday, March 19, 2015

The Coward's Vanity

Perhaps your anxiety over how others perceive you is just a coward's version of vanity. - anonymous.
Emang bener sih. Terlebih bila ini tentang diri kita sendiri, bahwasanya kenapa kita sangat "pemikir" dan seolah-olah sangat gak pede itu ternyata adalah bentuk lain dari kesombongan seorang pengecut. Iya. Kita terlalu mikirin gimana orang akan mandang kita sehingga takut dan malu untuk ngapa-ngapain. Padahal sih ya udah. Kamu 'kan 'gak harus ke-pede-an sampe-sampe ngerasa orang akan capek-capek menilai. *Iya sih, orang yang tukang menilai sih adaaaa tapiii memangnya harus peduli sama mereka?
Those who mind don't matter and those who matter don't mind - anonymous.

Skip it. Itu cuma intro.

Kehidupan B sekarang agak aneh dan membingungkan. Yah, mungkin waktu itu beberapa orang sedang mengalami gejolak remaja - entahlah, saya 'kan bukan remaja - terus saya kena imbas, atau memang saya-nya aja yang kebanyakan tingkah. Tapi yaudah, no big deal.

Wednesday, March 11, 2015

Mengelola Ekspektasi

Orang yang tidak suka dibohongi, sudah pasti tidak akan berbohong. Begitu juga dengan orang yang tidak suka dikasih janji-janji palsu (emangnya kampanye), insya Allah tidak akan mengobral janji sembarangan. Lantas bagaimana jika orang yang benci kebohongan dan benci janji palsu, tapi masih tidak bisa menghindar dari berbohong atau ngobral janji?

Kemungkinan besar orang ini akan dicap munafik.

Tapi mari berpikir bijak. Segala sesuatu tidak ada yang instan. Yep. Semua orang butuh proses. Hanya saja, jangka waktu berproses ini yang beda-beda tiap orang: ada yang lama, ada yang cepet. Ada yang progress-nya kelihatan, ada yang enggak. Sekali lagi, kita semua berproses.
Yuno Gasai. My current anime obsession.
Beruntunglah kita yang sempat mengenal orang-orang seperti ini karena kita jadi bisa mengelola ekspektasi. Lho iya kan? Apakah kita akan mengharapkan orang yang hobby ngaret untuk on time? Apakah kita akan mengharapkan orang yang suka bohong untuk jujur? Apakah kita akan mengharapkan si ceroboh untuk teliti? Hehe maaf kalau analoginya tidak apple to apple. Tapi makes sense kan?

Monday, March 9, 2015

Analisis Gerbang

Setelah diamati dengan seksama, ternyata tingkat popularitas blog ini sangat berbanding lurus dengan semua akun sosial media yang saya punya. Gak bisa dipungkiri sih, kebanyakan pembaca saya datang dari Facebook, dimana saya cuma iseng-iseng naro link dan tidak terlalu berharap ada yang datang (karena sekali lagi, saya tidak berteman dengan 700 orang di situ), tapi ternyata banyak juga yang klik link itu. Kemudian gerbang ke dua ternyata adalah Path. Iya, suatu sosmed yang ceritanya buat private sharing yang mana jumlah teman di situ dibates cuma 500 orang. Hmm sebenernya sudah sangat lama saya gak pake gerbang yang ini. Sudah terlalu banyak teman kantor (yang lagi-lagi, tidak 200 orang itu saya kenal benar) yang kayaknya gak terlalu berhak disuruh baca blog saya yang aneh ini.



Mau lebih parah? Dulu ada gerbang ke tiga, saya sering taro link blog saya di status BBM. Sekarang sejak bos saya ada di situ saya jadi mikir seribu kali hehehe. Twitter sih sudah di-set biar otomatis naro link saya jadi itu gak dihitung gerbang masuk blog yang "sengaja" di-unlock. Google juga menempati posisi atas bagaimana blog ini bisa terbaca orang. Saya tau banget sih, nama dan alias saya ini sangat Google-able. Dan memang sengaja juga sih dibikin unik biar beda gitu (hoho).

Terus pas saya liat-liat statistik blog akhir-akhir ini ternyata menurun. Terutama buat postingan yang baru-baru saya tulis - yang isinya kebanyakan aneh dan satire. Yang sering naik daun justru ya yang masih nangkring di FB. Atau yang keyword-nya sangat mudah ditemukan seperti yang ada hubungannya dengan film atau fenomena masa kini *cielah. Buktinya bisa anda liat di sidebar kanan. Itu urutan entry populer per harinya. Saat entry ini ditulis sih yang The Employee Wears (No) Prada itulah yang di atas. *makes sense, right?

Saturday, February 28, 2015

The Point

Uncle Frank: You got any friends, Andy?
  Andrew: No.
Uncle Frank: Oh, why's that?
  Andrew: I don't know, I just never really saw the use.
Uncle Frank: Well, who are you going to play with otherwise? Lennon and McCartney, they were school buddies, am I right?
  Andrew: Charlie Parker didn't know anybody 'til Jo Jones threw a cymbal at his head.
Uncle Frank: So that's your idea of success, huh?
  Andrew: I think being the greatest musician of the 20th century is anybody's idea of success.
Jim: Dying broke and drunk and full of heroin at the age of 34 is not exactly my idea of success.
  Andrew: I'd rather die drunk, broke at 34 and have people at a dinner table talk about me than live to be rich and sober at 90 and nobody remembered who I was.
Uncle Frank: Ah, but your friends will remember you, that's the point.
  Andrew: None of us were friends with Charlie Parker. *That's* the point.
Uncle Frank: Travis and Dustin? They have plenty of friends and plenty of purpose.
  Andrew: I'm sure they'll make great school board presidents someday.
Dustin: Oh, that's what this is all about? You think you're better than us?
  Andrew: You catch on quick. Are you in Model UN?
Travis: I got a reply for you, Andrew. You think Carleton football's a joke? Come play with us.
  Andrew: Four words you will never hear from the NFL.
Aunt Emma: Who wants dessert?*
Source.
*Quotes from Whiplash (2014). Ah, don't swallow everything. See the point?

Monday, February 16, 2015

S

We can never know when we will die.
 
Malu rasanya ketika menyadari bahwa selama ini yang dipikir adalah, kenapa belum gajian, kenapa belum dapat bonus, kenapa belum nikah, kenapa di Palembang, kenapa gak pindah-pindah, kenapa tahun 2017 itu masih lama, kenapa dibenci si A, kenapa menyukai si B, kenapa dicuekin si C, dan kenapa-kenapa remeh lainnya. Pernahkah berfikir: kenapa masih hidup? Kapan meninggal?

Pagi ini saya dikejutkan dengan berita meninggalnya seorang teman dekat waktu kuliah. Jujur saja, mendengar kabar bahwa dia meninggal saja saya masih belum bisa percaya karena berasa baru kemarin kami bertemu dan bercanda. Harus percaya itu pula? Tapi memang benar. Sekarang saya masih di kantor dan saya kesulitan konsentrasi memikirkannya. Masih sedih sekali rasanya.

S (perempuan), teman saya itu, adalah salah satu teman dekat waktu kuliah. Karena NPM (Nomor Pokok Mahasiswa) kami berdekatan, waktu tahun pertama kuliah itu kami bahkan sekelompok di praktikum. S itu anaknya polos banget. Bisa banget kita bully-bully karena dia juga gak pernah marah. Sering juga jadi tempat curhatnya anak-anak. Jadi temen nge-warnet pas dulu-dulu nge-net malem-malem karena lebih murah, temen Friendster-an, yang dikit-dikit minta testimony biar halaman FS-nya penuh, ah pokoknya anaknya lucu dan baik banget. Waktu saya masih OJT di Jakarta, dia bahkan teman kuliah pertama yang saya ajakin ketemuan di Jakarta. Ya emang karena kosan dia deket juga sih dari kosan saya.

Terakhir ketemu adalah di bulan Oktober 2014. Sempet selfie-selfie-an beberapa kali. Sekali lagi, S itu anaknya asyik banget dan polos. Gak heran temennya banyak.

Ah..

Masih sedih. Terlebih lagi tidak bisa ber-takziah ke rumah duka. Memang benar seperti janji-Nya, bahwa kematian itu pasti. Masalahnya kita gak bisa pernah tau kapan. Pernahkah kita berpikir lebih, berusaha lebih, dan berdoa lebih, untuk mempersiapkan kepulangan kita ke hadirat-Nya? Ini adalah cerminan. Selamat jalan S. Di usiamu yang baru 26, semoga husnul khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Semoga kami, teman-teman yang sangat menyukai kamu, diberikan hikmah atas kedukaan ini.

Teringat display picture Whatsapp terakhir S:
Kecilkan dunia, besarkan akhirat. S (last seen yesterday at 10:01 PM).
Semoga amal ibadahmu diterima di sisi-Nya. Aamiin.

Saturday, February 14, 2015

Be Nice?

I have been growing up with this thoughts people been telling me to live by:
"Don't do something nice unless the person is nice."
I never agree with that, tho. If we do nice things to people based on that thoughts, wouldn't that be insincere? Are we waiting to be treated nice before doing something nice? Aren't we should be giving before taking?

This scene is captured from The Grand Budapest Hotel, one of my favorite artsy movie. Plain paper, sketched with pen and colored with pastel.

These days I found the thought seems appropriate.

I realized that I am not a very nice person. I rarely trying too hard to be nice. I only nice to people I consider nice. I think, even if one million people told me someone is bad but he/she's nice to me, then I will consider him/her as nice. So when I do good deeds to a particular person and he doesn't appreciate it (although I always consider him/her as nice), I feel ditched. Why did they do that? Even something interesting I mentioned in my previous post became lame because of it. Hmm.. I guess I need to see a psychiatrist (or pray harder - I am in the state called "futur" perhaps) for having too much negativity in my head.

Wednesday, February 11, 2015

The Sporty Doesn't Sport

Iya gaya gue sporty. Tapi gue gak suka sport lho (ih so what banget sih).

Dulu pas Medical Check Up pas baru mau masuk kerja, saya pernah disuruh ngulang lari dua kali gara-gara katanya sih kurang bugar - secara saya gak suka olahraga apapun. Eh pas kemarin hasil MCU tahunan ke luar, ternyata permasalahan saya tetap sama: kurang bugar dan harus banyak olahraga. Nah masalahnya saya orangnya sangat tidak hobby dengan yang namanya olahraga. Terus gimana dong??

Ini lho yang saya bilang sebagai kegiatan yang bikin keringetan. Kode-nya: Bintang - inside joke kami aja sih wehehe.
Dulu saya tuh mikirnya, olahraga itu buat mereka yang ingin membentuk badan atau ingin diet. Lah saya? Saya kurus banget! BMI aja satu point di bawah normal T_T. Saya suka takut aja gitu kalau badan saya tambah menyusut gara-gara olahraga. Atau tiba-tiba badan saya jadi berotot kayak Korra - ya ampun kecil-kecil berotot, mikirnya aja merinding.

Ternyata pikiran itu SALAH. Olahraga itu bukan semata-mata biar kurus atau biar six pack kayak Agnezmo gitu ya, tapi yaaa biar seger aja, gak gampang capek, ngeluarin hormon bahagia (endorphin) dan bikin awet muda (katanyaa). Lagian gak semua jenis olahraga itu bisa bikin bisep-trisep gembung atau betis menggelembung juga kan.

Saturday, February 7, 2015

To Be Liked - Or Not

What is it the essence of being a likable person? Why do people trying so hard to be liked?

I don't care if people like me or not. What I do care is when they show so much disrespect towards me as if they try to emphasize their dis-likeness to me. I know myself very much, along with my inability to be easily liked. Do you think I like myself?

I am not a likable person. That is why I am aware when a particular person dislikes me - perhaps the code is very subtle, but I can feel it. Somehow I don't care. But at other times when people start questioning - I am like, man it's hurt. The most humiliating feeling is when your closest friend also judge you and asks you to think about why that particular person doesn't like you. Because at times it seems that I was the one who doesn't like that person.

A: "I think he doesn't like me."
B: "Stop it. He is a natural kind."
A: "So is it my fault then if he doesn't like me because he is kind and I am not?"
B: "I'm just saying that he is kind. It's kind of strange when you don't like him."

Oh yeah. It seems so abnormal when this particular person doesn't like me. What did I do? It's not that I care. I just, well, people questioning, and I felt judged and being (wrongly) judged is not that comfortable.

It was funny when, you know, I once trying to be as bubbly as that person - or groups. But I am bitter inside. Here's the thing. I am not interested in any forced relationship - and this is applied in every aspect: love, life, friendship, sisterhood, you named it. If you don't like me, I don't care, do as you please. I don't think being a good person means you can't unlike anybody or anything. Same as being disliked doesn't mean that you're bad. So it's not your fault if you don't like me while I try to dislike people as few as possible - yeah I have the list.

Hey, I know a thing. Why bother so much? Yes. Stop it. Because the answer is always this: I could care less.

Sunday, January 25, 2015

Palembang: Episode Satu Tahun

Tidak terasa ternyata saya sudah berada di tempat ini selama lebih dari satu tahun. Tepatnya tanggal 16 Januari 2014 lalu saya mutasi dari Padang ke Palembang. Sekarang saat tulisan ini ditulis, sudah tanggal 25 Januari 2015. Exactly. Satu tahun lebih. Parahnya, belum sekalipun saya menulis tentang kota ini.

Kepindahan saya ke Palembang, seperti yang mungkin sudah dibahas di beberapa postingan sebelumnya, sempat menimbulkan euforia yang campur aduk dengan kecemasan. Jangan tanya saya kenapa, karena saya juga nggak tau. Hehe. Sebetulnya saya kemaren sempat sekali mengincar Jakarta - dan gagal hiks. 

Episode satu tahun Palembang.
Kosan

Kosan Bu Hajjah, tepatnya di kamar nomor 2 baru-baru ini telah dinobatkan sebagai tempat favorit saya. Alasannya sederhana, kamar yang ini lebih luas dan AC-nya sadis sehingga saya lebih sering membiarkannya mati. Sinyal wifi jangan ditanya. Koleksi film dan musik yang bertambah, juga postingan blog yang semakin sering adalah buktinya. Keistimewaan saya sebagai orang yang sangat mager (malas gerak -dew) menjadikan saya semakin bahagia berada di tempat ini. Dulu sempat ragu memutuskan akan milih kosan yang mana walaupun pada akhirnya pilihan pertama saya nge-kost di kosan Bu Hajjah (nama kosan ini aslinya "Adinda", Bu Hajjah itu pemiliknya) ternyata tidak salah. 

Thursday, January 15, 2015

Dijah Yellow, Flu, Bystander Apathy dan Ridwan Kamil

"Silakan aja kalian haters mau ngomong apa, karena aku ini apa adanya, aku sih bodo amat yaa.. karma nanti berlaku. Haters, hati-hati semua berbalik ke kalian lhooo.." - Dijjah Yellow, 2014.
Mungkin agak basi yaa membahas fenomena Dijah Yellow. Hihi. Bagaimanapun dia itu salah satu manusia yang patut diacungin jempol lho. Dengan modal pede badai plus bakat ngelucu (hmm.. the jokes never get me yah, tapi kadang sesuatu yang terlalu garing itu malah jadi lucu - imho), terus smartphone seadanya, dia bisa lho jadi seleb dadakan. Udah gitu harga dirinya tinggi banget! Bagus bagus. Ini namanya konsisten hihihi. Tapi sebetulnya fenomena Dijah Yellow ini cuma contoh aja.

Kalau ditaro foto asli gak enak ah, nanti bisa dituntut hahaha. Sumber.

Semua berangkat dari pembicaraan dengan teman, dimana kadang kita berpikir, kenapa sih harus peduli banget sama omongan orang? Sejauh apa kita harus peduli sama orang lain? Dan suatu opini lucu bahwa sebaiknya saya tinggal di negara lain seperti Amerika gitu yang gak pedulian satu sama lain (looks like that). Padahal, berdasarkan fakta di lapangan, teman saya yang kuliah di luar negeri menyebutkan, bahwa hidup di luar negeri dengan orang-orang yang tidak pedulian itu sama sekali gak enak. Mungkin karena kita terbiasa hidup di negara Indonesia yang gemah-ripah-loh jinawi, gotong royong dkk. Jadinya gak enak aja gitu kalau gak peduli.
Yearly influenza epidemics can seriously affect all populations, but the highest risk of complications occur among children younger than age 2 years, adults aged 65 years or older, pregnant women, and people of any age with certain medical conditions, such as chronic heart, lung, kidney, liver, blood or metabolic diseases (such as diabetes), or weakened immune systems. - WHO.
Saat ini ada banyak hal yang berkeliaran dalam pikiran saya. Misalnya kenapa orang masih meremehkan sakit flu. For God's sake, flu itu menular lho. Dan taukah anda bahwa ada ratusan, even ribuan jenis flu yang memiliki gejala hampir sama namun setiap orang bisa mengidap lebih dari dua kali per tahun? Itulah uniknya flu. Dengan mengandalkan dua jenis protein haemagglutinin dan neuraminidase saja dia bisa bermutasi jadi ratusan jenis sehingga tidak akan punah dan tetap gak kehilangan tajinya untuk mengganggu sistem pertahanan tubuh. Makanya ada yang namanya flu shot alias vaksinasi terhadap flu (influenza sih) yang dilakuin setiap 6 bulan sampai dengan per tahun (penjelasan lebih lanjut bisa Googling sendiri ya hehe). *ceila malah jadi ceramah. Ya pokoknya jangan pernah meremehkan flu.

Friday, January 9, 2015

Elastic Art Block

This is a super quick post, so there will be error here and there. But I need to write this down.
I am stuck. I found it is hard to keep our enthusiasm into art when the art itself has no longer been an interest, but changed into assignment. Yeah, I got this task to make a great publication that will be expensively huge-printed - means, I can't fail this! This made me think, what will happen if only I make my hobbies as my job? It probably won't work for me. Except this blog, this blog always work for me.

So then what I'd do next is just, derping around my friend, G, who has a more neat and commercial vision of publication art. He even made me some graphics which was believed to help my publication to be better looking. The result is I even more confused. He often discussed his work with me, you know, to find another ideas or even just affirmation words. It turns out that it didn't result the same with me. Perhaps I am lack of working together ability. Combining ideas didn't work for me. I got ideas, but I am bad at executions, while he got ideas and then talked about them, but he could make a great execution based on the discussion.
Multitasking story, the routine working on the right and my project on the left (the project is also an assignment from my boss).
AAAARGGH I AM STUCK!! *The deadline itself is originally yesterday evening but I couldn't make it right so the project was delayed by - I don't know - one or two more days. Here I just posted my frustration here, sorry. I wish this art block were not elastic so I don't have to make it stretch to find the flaw and could easily break it with some cool insights. I need new perspective.

Well another story is, the Elastic Heart official video has been uploaded to Youtube since yesterday morning. The video was so scary and sad, yet the lyrics were so deep and relatable. Here's my drawing of Maddie Ziegler, the dancer in the video (you've seen her in the Chandelier, too). I am her fan officially now.

My representation of Maddie Ziegler as seen on Chandelier video clip. Sketch on plain paper using drawing pen 0,7 mm; background texture taken from here.
And I might have thought that we were one
Wanted to fight this war without weapons

I know I am a big procrastinator. Here I just drawn something unrelated with my assignment, only because I am easily distracted for something I like so much. Until then.

Saturday, January 3, 2015

Twenty Five

And here we go again. Time flies so fast I almost surprised. Last year was a very long one, heck I wonder why this year felt like a flash. A spark I almost forgot to adore. A bliss I hardly accept. A crazy year with ups and downs. Nothing was actually experienced by myself. I was just absorb and felt too much empathy towards others' drama. But let's skip that. That phase is over.

So yeah. I am twenty five now. OMG TWENTY FIVE! If I were a cat I may be 3,5 years old LOL.
Sailormoon versi gueh. Belakangan lagi suka lagi sama tokoh ini. Otaku alert!

***

Sengaja saya tulis intro dengan bahasa Inggris supaya pembaca saya yang bukan orang Indonesia (kalau saja mereka masih baca ya hehe) bisa tahu kalau ini postingan tahunan yang biasa saya tulis di tanggal segini. Perlu saya tambahin juga, ini saya bikinnya nyicil beberapa hari dan nge-post-nya mungkin akan dijadwalin otomatis. Yah.. saya merasa dua puluh lima adalah angka yang spesial. Seperti angka tujuh belas atau dua satu.