Friday, December 26, 2014

Otaku Life 1/3: Arfa

A dream isn’t something that someone tells you to go for. It’s something you fulfill of your own will. - Mashiro Moritaka (Bakuman).

If you take a look closer to my posts, you will realize that I spent so much time to write about my dreams. Yah.. memang menyenangkan dan gak pernah capek sih membicarakan mimpi. Apalagi jika mimpi (atau mimpi-mimpi) itu belum semuanya tercapai. Semacam, booster yang membuat kamu ingat kenapa kamu masih hidup, atau kenapa kamu masih bertahan di kehidupan yang sekarang. Lalu kenapa tiba-tiba saya mau ngomongin tentang mimpi lagi ya? Di umur segini, pas saya lagi pulkam nih, tiba-tiba saja saya keinget lagi mimpi itu. Betul. Saya punya satu mimpi yang saya pikir saya sudah lama menyerah. Sudah lamaa banget apalagi setelah sekarang saya punya kehidupan yang ini. Semuanya jadi terasa seperti fatamorgana. Dulu saya mau jadi apa ya?


Yuhuu. Komikus. *Rasanya sudah lamaaa sekali, semacam sudah lupa.

Hehe. Mungkin bagi para pembaca yang belum tau, bisa liat di sini atau di sini. Oh dan di sini juga. Yaaa memang penggemar manga seperti saya itu tidak bisa jauh-jauh dari yang namanya manga atau komik. Waktu saya baru pertama kali punya email (domain email saya waktu itu menggelikan: d2wizn_sasuke), saya langsung daftarin email itu ke milis komik indonesia (gak tau ya itu milis masih aktif gak sih soalnya email yang itu sudah dihapus). Tujuannya tentu aja: saya pengen buat komik! Ah gak penting sih mau komik apa manga. Apa bedanya emang?

Monday, December 15, 2014

High

I am conducting an experiment. Biasanya saya ngeblog saat hati lagi 'gak beres. Ah whatever. Minimal otak rada terganggu. Makanya alurnya selalu dan selalu, dari sok-sokan menyenangkan, beralih ke sarkastis lalu beralih ke down luar biasa. Hmm tapi ini gak tau deh. Dari tadi pagi kayaknya mood bagus banget gitu. Gak tau kenapa. Hahaha. I am feeling high for no reason.

Weekend ini saya gak ke mana-mana. Mencoba kembali jadi diri sendiri sih ceritanya. You know, ngulet di kasur, baca buku, nonton DVD, dengerin musik atau browsing-browsing. Sejak pindah ke kamar No. 2 sebulanan ini, saya jadi suka pengen cepet balik ke kosan. AC-nya dingin, ruangannya luas, terus wifi-nya kenceng. Kemaren sampai bisa download 4 film dan itu memuaskan banget! Film-film yang sudah lama saya pengen tonton sih soalnya dan saya gak tau cara download-nya (hadeh selama ini ke mana aja). Kayak gitu pun sudah bikin ketawa-ketawa sendiri. Hehe. Hmm mungkin karena saya tipe orang yang kalau sudah suka sama sesuatu itu bakalan sangat suka sampai terobsesi, makanya ketika kesampaian, yaah luar biasa senengnya.

My mantra.
Ah percobaan ini sia-sia. Ternyata saya gak bisa nulis kalau lagi high. Ha ha ha. Oke deh. maaf, satu postingan tidak menarik lagi. Semoga masih pada mau baca blog saya lain waktu ya. He he.

Sunday, December 14, 2014

Dear Anonymous

A not-so-kind comment was came uninvited to my previous post (pardon me, I've deleted it) last week. Unfortunately, this person (or robot, or alien, who knows?) forgot to write her/ his name on the comment. I've already got an "anonymous" commentator in my blog so I asked him directly if it was him. But now he said it wasn't him. Usually, I could find out who left the comment easily. I mean, most people are easy to predict, like from the writing style. At first glance I thought it was somebody on the blog, because it was so sarcastic (or I thought so?).
"A little advice to you, if you think your blog didn't 100% affect anybody or at least someone may read it, why don't you write in your own private diary that so limited only one or two people you allowed could read it?"

Gosh. Who are you?

Thursday, December 11, 2014

Bertaruh

*this post will be very annoying. It is highly recommended that you skip reading this post. Thanks.

Jika postingan ini di-publish mungkin ini akan menjadi postingan saya yang ke tiga malam ini dimana mungkin lagu Damn Girl dari Justin Timberlake yang dari tadi tanpa sadar keputer repeat di WMP, mungkin sekarang sudah 20 kali putaran.

HP masih mati. Saya masih gak yakin saya bisa bales line-line itu dengan "manis" kalau sekarang. Buktinya saya nulis tiga kali aja belum ada yang di-post. Yah mudah-mudahan tulisan yang ini gak separah yang dua sebelumnya. Yang saking sarkas-nya, levelannya udah bukan sarkas lagi tapi beneran harus disensor. Ih bukan lagi kesetanan nulis atau gimana. Lagi pengen curhat aja sih hehe. Blog is a good media because most people don't care about what I write. So if I want to blab like a thousand times, I guarantee, nobody cares. Hehe.

Blair Waldorf pun bosan.

KECEWA adalah kata yang berat. Semacam, gak suka banget gitu loh dengan kenyataan yang tidak selalu berbanding lurus dengan harapan. Misalnya saya berharap kehidupan B ini baikkk banget gak ada celanya sama sekali. Padahal sebenernya udah lama compang-camping. Hanya saja saya pura-pura sudah sehat. Lagian, mau saya sakit atau sehat, emangnya ada yang peduli? Seperti saya yang suka pura-pura peduli pada kesusahan orang yang akhirnya malah nyusahin diri sendiri. Kasian banget ya.

Saturday, December 6, 2014

Gara-gara Nila

Lucu sekali akhir-akhir ini rasanya. Capek. Bukan capek dengan kerjaan, atau pemberitaan miring tentang perusahaan tempat saya bekerja yang menjurus fitnah dari orang yang merasa dirinya "ahli" (terus yang menyebarkan sambil bernada provokatif padahal situ gak tau bener/ salahnya, saya tanya: "buat apa?"), atau musibah yang lagi menimpa kota asal saya. Itu lho, Cheribell, yang katanya sudah membikin 11 orang meninggal dan 70 lainnya dilarikan ke RS. Lagian sih ya, ngapain juga pada minum gituan. Biar gak stress? Jangan-jangan saya harus nyoba juga. Ah tapi saya gak se-stress itu.

Capeknya capek karena orang.


Kayaknya saya capek aja sendiri. Kayak antusias sendirian gitu. Hmm.. ternyata sering bareng-bareng aja gak cukup. Jadi bingung sih, apa di umur segini, ikatan seperti itu tidak ada?

Monday, December 1, 2014

The Employee Wears (No) Prada

No no no, I don't have any Prada with me. In fact the closest thing with that so-called branded thing in my closet are perhaps my low price Converse sneakers. Right. This is about the movie: The Devil Wears Prada. I watched it over and over again - especially whenever I feel my (career) life has reached the lowest point and well the best quote I found interesting (and to remind me why I am here for) is:

"A million girls job seekers would kill for this job." (it was said 3 times during the movie).
Warning: I'll mix the story about the movie with my current actual life.

Kendall Jenner as the model. But the outfit resembles our working outfit lol.

So today is apparently the 3rd year of me being here in the company. I mean it's not officially the third year because I've spent the first year (minus 10 days, you know why) only for my job training and the next years until now has been the real job. Well, if you've been on my blog since the beginning where I posted almost anything dramatically special (with a significant amount of whining lol) about how I get this job, you'd know that what I've been through is not always stagnantly nice. It was a lot of dynamics stuff combined into one and another satirical drama. Luckily, this year it wasn't so bad.

Guess what, I think I'm starting to enjoy this.

Friday, November 28, 2014

Wawancara dengan si Pembohong

Tau Usopp? Itu lho, salah satu tokoh di anime One Piece yang bawa-bawa katapel, terus ternyata ahli bikin senjata, dsb. Usopp digambarkan sebagai laki-laki yang hidung panjangnya membuat kita familiar dengan tokoh dongeng Pinokio. Iya, Pinokio si boneka kayu yang tiba-tiba hidup. Hmm.. namun ternyata kesamaan Usopp dan Pinokio tidak sampai di situ saja.

Usopp dan Pinokio, sama-sama tukang bohong. Ah tapi ini bukan tentang mereka sih.

Originally made in 2012. Perempuan ini sedang merasa bersalah. *alah, ini ngegambar Christina Perri sebenernya.
Lying, is defined, in most basic terms, as “to intentionally mislead others when they expect honest communication” (Sam Harris, sumber).
Pernah bohong?

Selain Rosul SAW (dan ahlul bait, dan nabi serta orang maksum lainnya), barangkali gak ada deh manusia di dunia ini yang gak pernah bohong. Pernah denger pembohong kompulsif? Mungkin waktu awal-awal masuk SD saya pernah jadi orang kayak gitu. Iya. Berbohong untuk kesenangan dan gak butuh alasan khusus seperti berkelit dari kesalahan atau menjaga imaji. Kayak Usopp. Bohongnya dia sudah jadi penyakit, yang hanya bisa berhenti kalau dia insyaf atau kena azab (what??). 

Kenapa sih harus bohong?

Kayaknya seru aja gitu, menciptakan realita paralel yang kita karang sendiri, hanya untuk melihat apa efeknya terhadap orang-orang di sekitar. Pada tahapan yang lebih parah, penyakit ini mendorong adu domba (kayak penjajah aja ngadu domba), bahkan fitnah (yang lebih kejam daripada pembunuhan brooo).

Rasanya berbohong?

Thursday, November 27, 2014

Suara Gitar dalam Hujan

*Di sini lagi musim hujan. Mudah-mudahan hujan ini rizki.
 
Ini tidak penting sama sekali. Tapi saya selalu jatuh cinta pada suara gitar akustik. Itulah sebabnya saya hampir selalu mencari versi akustik dari lagu-lagu favorit saya di Youtube. Hmm mungkin beberapa dari mereka sudah anda kenal. Misalnya Gamaliel-Audrey-Cantika, Boyce Avenue, Savannah Outen, Madilyn Bailey, dst. Jika Paramore bikin lagu dengan gitar seperti di lagu Misguided Ghost atau coveran Use Somebody-nya Kings Of Leon, saya bakal lebih jatuh cinta lagi. Ah, tapi saya tidak bisa main gitar (atau alat musik apapun kecuali suling bambu waktu SMP hehe).
Gak tau sih. Suara gitar akustik itu mendayu tapi tidak kaku. Mungkin juga romantis. Dan melankolis. Dalam hujan, ia jadi terasa magis.
Playlist saya saat ini.

Saya gak terlalu picky soal musik sih ya.. apa yang enak di kuping ya saya dengarkan. Apalagi musik negeri sendiri, saya agak kurang paham. Mungkin selera saya tidak pas dengan selera orang-orang di acara Inb*x atau D*hsyat. Hmm tapi setelah ngulik-ngulik di Path (kebetulan ada yang nge-post lagu indie gitu) dan soundcloud (haha, cuma pendengar, saya gak ngepost track atau sejenisnya), ternyata ada juga lagu negeri sendiri yang bagus. Yaa mepet-mepet negeri jiran sih. Misalnya Shandy Sondoro, Payung Teduh, Noh Salleh, Sore. Adiktif di kuping. Teza Sumendra juga saya suka. Aduh tapi saya gak paham musik sih. Hehe.

Sukakah kau pada redup
Larut di dalam alam biru
Melukiskan mahligai di hampar guntur
(Sore - Musim Ujan)
 




Ya ampun, saya tambah terlena. Tolong beritau saya jika ada musik yang seperti itu lagi. Terima kasih.

Wednesday, November 26, 2014

Terbang

Kadang-kadang saya ingin terbang. Terserah angin mau bawa saya ke mana. Yang penting terbang.

Originally drawn in 2011.
 

Monday, November 24, 2014

Tentang Pulang

Dua hari yang lalu saya baru saja pulang kampung. Saya baru aja menjadi tante-tante beneran. Iyes. Ponakan saya lahir beberapa hari yang lalu. Alhamdulillah.
 
Berhubung harga tiket yang direct Palembang-Bandung itu sekarang full terus (adanya yang harga di atas sejuta-an busettt), sekarang paling banter pulang ya naek pesawat yang ke Halim. Alhamdulillah sih waktu perjalanan pulang dari bandara ke rumah bisa direduksi sampai dengan 1 jam (ya lumayan sih sejam juga), dan biaya perjalanan mencakup pesawat Halim-travel-DAMRI-angkot masih lebih murah dibanding pesawat Husein-taksi-DAMRI-angkot. Hehe.
From Beautiful Decay Web.
Setiap pulang kampung saya sekarang merasa aneh aja gitu. Ya kangen sih dengan keluarga. Ya kangen sih dengan kucing-kucing saya (sekarang tinggal dua, yang dua lagi sudah meninggal hiks). Ya kangen juga dengan teman dan "teman". Tapi gak tau deh. Saya merasa beban aja setiap pulang. Hati ini gak tenang. Harus selalu terlihat "happy", harus terlihat gemuk, harus terlihat.. yaa terlihat seperti sesuatu yang bukan saya. Padahal semua orang tau kalau saya ini brooding. Hmm apa ya istilahnya. Kalau temen saya bilang sih "apa-apa dipikirin, apa-apa dimasalahin". Iya ya pantesan aja kurus kayak model size 0.

Thursday, November 13, 2014

AADC dan Rangga Untuk Dimengerti

Masih mau ngomongin AADC??
BASI!! Blog-nya udah siap terbit!

Hehe. Agak 'gak ngeh saat seorang teman (yang penggemar berat AADC dan hapal quote-quote-nya segala) tiba-tiba ngasih screenshot yang sangat eye-catching di Line. Saat itu saya bingung aja gitu, "ini ada apa sih?"


Saya tetep bingung. Line for iOs atau Line for Android itu apaan yaa?? Haha. Ternyata itu kayak official account gitu. Mungkin saya belum add atau gimana waktu itu karena saya gak inget aja gitu ada account seperti itu. Setelah ketemu account-nya, langsung saja saya ketik sesuai instruksi teman saya itu. Lalu JRENG JRENG. Ternyata itu gambar nge-link ke sebuah video di Youtube (klik di sini).

Ya ampun RANGGAAAAAAAA.
Ini muka saya waktu lihat AADC mini drama:

Friday, October 31, 2014

Krisis 24 Tahun 9 Bulan

Akhir-akhir ini saya gampang sekali marah.

Gak ngerti deh, jangan-jangan saya lagi memasuki fase krisis seperempat abad?? Umur belum dua lima sih (tapi bentar lagi, huhu). Tapi mungkin karena kebiasaan berada di lingkungan (dan kelas) yang orang-orangnya satu dua tahun lebih tua di atas saya, mau gak mau saya jadi sok tua dan sok dewasa. Tapi lupakan tentang itu. Ini tentang krisis yang lain, yang lagi menyerang otak dan hati saya sampai-sampai susah kerja, susah tidur, juga susah makan (lebayyy).

Clue yang pertama: "Buat apa sih curhat?"

Sudah lama sih pengen bahas tentang curhat-mencurhat ini. Saya termasuk tukang curhat sih, tapi selalu ada beberapa rahasia yang saya simpan untuk diri saya sendiri, misalnya keburukan-keburukan saya, pikiran-pikiran buruk, dsb (dan belakangan yang ini sering kebongkar sendiri). Bukan songong atau apa, tapi saya lebih banyak dicurhatin daripada curhat. Dan dari situ saya berpikir, ternyata, 90% curhat sebetulnya bukan mencari solusi, tetapi mencari afirmasi.

Lho, statistik dari mana itu? Hehe. Maaf, itu hanya angka asal-asalan berdasarkan observasi pribadi. Makanya saya biasanya memperhatikan pola si pencurhat ketika menceritakan sesuatu. Dia itu sebetulnya ingin mencari pandangan (walaupun saya jarang bisa ngasih solusi), atau cuma ingin didengarkan? Bahkan ada juga yang suka curhat dan cuma ingin mengeluh seolah dia orang paling menderita di dunia ini. Untuk yang ini biasanya sih saya hindari. Hehe.

Kalau mau sih saya pengen tutup kuping aja, ketika ada curhatan yang saya gak suka (misalkan dari tipe pencurhat nomor tiga tadi). Tapi ternyata saya gak bisa secuek itu. Saya kasihan.
When your words mean nothing, I go la la la (Naughty Boy ft. Sam Smith - La La La).

Monday, September 22, 2014

Mengunjungi Kompetitor: Day 3

Before reading this post, it is suggested that you read these posts first:




SAYING GOODBYE

Memang sudah direncanakan dari awal berangkat sih, kalau di hari ke tiga ini, kami gak akan serombongan lagi. Kami punya tujuan masing-masing. Aku lupa teh PI tujuan ke mana, yang jelas aku cuma punya beberapa jam lagi sebelum pesawatku terbang lagi dari KL ke Palembang. Ya..selain lebih murah, besok kan Senin, jadi harus kerja dong ya. Makanya lebih enak pake direct flight. Penerbangannya jam 12, jadi aku harus nyampe bandara jam 11 siang.

Saturday, September 20, 2014

Mengunjungi Kompetitor: Day 2

Postingan ini fotonya bakalan buanyakkk banget. So, get ready ya.. Yang belum baca bagian pertama, mangga atuh dibuka dulu link yang ini.


HOTEL BUDGET INN

Yup. Itulah nama hotel tempat kami menginap kemarin malam. Setelah sholat Shubuh, jam 6 pagi kita sudah turun sarapan. Sarapannya nasi uduk gitu sih sama teh manis. Sederhana sesuai harga kocek. Namanya juga backpacker-an ya. Pas kita lagi makan itu kita agak-agak lirik-lirikan juga sih sama beberapa orang yang kebetulan sedang makan juga. Kita pikir jangan-jangan mereka nih teman-teman trip kita. Hehe. Untungnya Sheila akhirnya nyalamin kita duluan. Pantes juga dia mengenali kita karena kita (terutama aku) pake foto asli di Watsapp.

Ternyata yang ikutan trip ini total 11 orang. Nih dia ilustrasinya hehe:

Wednesday, September 10, 2014

Mengunjungi Kompetitor: Day 1

Kenapa diberi judul mengunjungi kompetitor? Hehe. Agaknya pembaca (yang sudah lama menjadi pembaca terutama) sudah tau ya.. Yah pokoknya beberapa waktu lalu alhamdulillah saya diberi kesempatan untuk menjelajahi sebagian kecil negeri Jiran tempatnya perusahaan kompetitor itu berjaya. Karena postingan ini akan menjadi postingan yang sangat panjang, saya potong jadi beberapa bagian kali ya. Perlu saya ingatkan di sini bahwa saya gak akan ngasih tips traveling atau guide-post semacam itu. Saya hanya akan menceritakan sudut pandang saya. Jadi, kalau masih mau baca.. Enjoy, then!

PROLOG

Jiaelah pake prolog segala dah.. hehe. Tapi ini penting juga sih. Semua dimulai dari sebuah Line (Apa Whatsapp ya? Lupa sumpah) dari seorang teman, PI, sekitar bulan Juni tiba-tiba ngajakin pergi jauh. Jauh.. jauh ke luar kota. Ke Luar negeri malah. Hehe. Yups.

KL.

Backpackeran lah. Saya yang cupu dan jarang pelesiran apalagi backpacker-an ini karena keahlian teh PI untuk mempengaruhi, akhirnya saya terpengaruh dan mau ikutan. Yaaa sambil ogah-ogahan juga sih. Backpacker itu kan artinya saya harus repot sendiri, gak ada guide, harus berat-berat bawa tas sendiri (gak ditaro di mobil gitu), dsb. Bahkan cari jalan pun sendirian, atau nanya-nanya orang lokal. Saya gak jago English nih, jadi bayangkan betapa awkward-nya ntar kalau harus nyepik. Dan sejuta keraguan lainnya sampai..

Thursday, August 28, 2014

Together Forever

It's been a while since I finished my drawing. And today I got a little bored, so..okay, this one is my submission for Illustration Friday this week. I was inspired by Bastet, a cat Goddess in Egypt and at first I tried to draw it (look at the necklace!). But then it turned out like this, so yeah..this was unplanned. I'll leave it to you to interpret the meaning of the illustration.

2B Pencil on a plain paper. Retouched by Photoshop CS6.
By the way, I posted the drawing process on my Instagram (yeah! I'm on Instagram, too). Feel free to visit and you can follow me if you like (I mean, WITH PLEASURE!). :))

Wednesday, August 6, 2014

Memilih Lingkaran

in·ner cir·cle
noun
  1. an exclusive group close to the center of power of an organization or movement, regarded as elitist and secretive.

Sejak jadi pengembara, bisa dikatakan saya beberapa kali berganti teman, atau kerennya sih "inner circle" alias lingkaran orang-orang yang sering barengan, kalau gak dikatakan geng. Walaupun tolok ukur jumlah teman tidak bisa dilihat dari jumlah teman di FB, follower di twitter ataupun Path. Well, mostly, teman di FB adalah semua orang yang kita kenal ditambah dengan orang yang punya teman yang sama dengan kita (mutual friends, dan jumlahnya bercabang-cabang), plus orang yang punya bisnis terus nge-Add kita, dsb. Twitter, lebih ke selera juga sih. Kadang orang-orang yang nge-follow kita itu entah siapa lah. Path? Dalam kasus saya, Path selain isinya teman seangkatan kuliah, seangkatan kerja, dan beberapa alumni satu sekolah (yang masih deket), isinya juga partner kerja yang kita kenal dan kebetulan pas hang out, dia ada dan mau di-tag gitu. Terus karena saya sudah pernah mutasi beberapa kali, maka teman kantor saya menjadi banyak banget. Ya.. gak semuanya dekat. Kenal biasa aja kebanyakan. So, where are my real friends?

Sumber
What we see isn't always what it means to be. Seperti, ada temanku yang kurasa cukup populer. Orangnya juga asik. Setiap nge-post di Path pasti emoticon atau komennya banyak. Ya.. yang komen sih biasanya itu-itu aja. Tapi tetep aja kalau gak temennya memang tukang komen, dia mungkin populer. Tapi tau nggak, ternyata pas kemaren kita ngobrol yang serius, dia gak ngerasa teman dia sebanyak itu. Dia bilang "susah berteman sama aku". Hmm.. sama sih aku juga gitu soalnya haha. Ya maksudnya 'gak gampang nganggap seseorang itu teman walaupun dia sudah merasa kita itu sahabatnya (pernah ngalamin sendiri ini!).

Monday, July 28, 2014

24th Ramadhan

Assalamu'alaykum, how's it going?

First of all I want to say, Happy Eid Mubarak 1435 H for everyone, may Allah accept our prayers, our ibadaat, and our good deeds.


This year's Ramadhan was very different within my 24 years life in this dunyaa. Well, I don't know. It's not like my first time I was away from my hometown or anything. In fact this was the 3rd time and I didn't feel bothered at all. Two years ago I was in Cilacap while the next year I was in Padang. This year? Obviously, Palembang. So, why should I bothered?

Perhaps, what makes this year's Ramadhan different was:

Thursday, June 19, 2014

Para Pencuri Mimpi

Juni 2014

Pernah 'gak sih kamu punya teman, dan teman-temanmu itu, saking luar biasanya, bikin seolah-olah kamu ingin jadi dia?

Oke. Itu lebay. Mungkin 'gak sampe pengen jadi dia sih. Cuma pengen kelebihan-kelebihannya itu menular juga ke kamu. Oh enggak, bukan dengki kalau ini namanya. Murni iri, tapi mungkin irinya positif. Eh 'gak juga sih. Kalau sampai mengganggu pikiranmu, mungkin 'gak positif lagi. Ya ampun aku ngomong apa sih. (Maafkan ke-plin-plan-an hamba, pembaca).

Aku punya teman kayak gitu.

Saking inspiratifnya, aku 'gak mungkin 'gak iri sama dia. Bayangin! Mereka sudah mencuri mimpi-mimpiku!


Monday, June 9, 2014

The Futur Path

Akhir-akhir ini saya lagi futur dan saya lagi keranjingan Path (lah apa hubungannya??).

*membaca kalimat di atas barangkali anda akan langsung berpikir "oh, ayolah. Postingan keluhan lagi??"

Enggak sih. Enggak lagi pengen ngeluh kok. Lagian saya udah terlalu banyak ngeluh sejak keranjingan dengan yang namanya sosial network sekarang ini: Path, Twitter, FB (ohyaaa saya masih buka FB. Terutama menjelang pilpres ini. Rada-rada mencari sudut pandang sih), even BBM dan Line. Jadi, masa sih di blog juga mau mengeluh??

Gara-gara Path di Smart Phone.
Tapi bener sih. Saya memang lagi sangat futur. Beberapa minggu terakhir ini saya merasa 'gak produktif. 'Gak semangat, males-malesan dan bosen parah. 'Gak cuma soal kerjaan, tapi juga soal ibadah dan hidup. Bayangin. Masuk kantor tiap hari tapi kadang 'gak menghasilkan apa-apa. Ibaratnya teman-teman di kantor itu sudah punya ritme masing-masing, sudah ada track-track-annya dan tinggal lari aja. Lah saya? Saya masih liat-liat aja. Ini track-nya bener gak? Terjal apa licin? Lurus apa belok? Terus ntar bakalan ada lobang gak?? Kemudian, ibadah. Astagfirulloh banget ini. Gak dibahas aja ya soalnya menyedihkan banget kualitas ibadahku hiks hiks. Soal hidup juga sama. Teman-teman saya kayaknya udah punya track sendiri-sendiri (terbukti dengan membanjirnya undangan nikah - glekk - dan foto bayi-bayi yang mukanya mirip dengan temen-temen saya - yaiyalah kan anak mereka). Lha saya? Sejak rencana hidup saya berantakan sejak 2004 itu (eaaa) maka saya jadi bingung dengan arah hidup saya yang entah mau diapain ini.

Monday, May 19, 2014

Hello Linda!

I come to giggle when this video came into my social media feed:


Yeah, can you see? This boy made my day. He was very funny, arguing with his mother like a grown up. Hee hee. But let's focus on other things. There are Linda(s) around us! "Listen, Linda, Listen!" Why can't you listen, Linda?

***

I don't know Linda or a person like her, at all. I just want to share a little about my opinion. Well, let's say that I have this ability to interrogate people or anything alike, but if I close enough to somebody, the right question will lead them to talk and they will eventually tell me anything. Well actually, I don't try too hard or force people to do it because I actually don't care too much about people's businesses. If they want to talk then they will. That simple.
Do you want to talk?
Sometimes I wonder why they do it. Am I a comforting person? (And I think the answer is no, since I am a very awkward person - almost meanie). Maybe, I just can't help myself seeing people hurt with no one to talk to. I am like, "okay, why with that miserable look on your face? Come talk to me if you want". And then if they trust me enough they will tell me everything. Sometimes I enjoy it (like a freak) but mostly I feel like being punched in my face and I'm not allowed to scream. I am quite sensitive so your experience somehow influence my heart, too. Like, when you told me about your parents' separation then my head will spin, almost crying.

Monday, April 21, 2014

Bagaimana Rasanya Merantau?

Kebeneran nih, hari ini Hari Kartini. Entah kenapa saya jadi tertarik baca-baca soal emansipasi dan feminisme. Tapi karena pemahaman saya masih dangkal.. yah.. let's skip that part. Yang jelas, saya 'gak tau ya apakah RA Kartini itu secara signifikan membantu kebangkitan hak-hak kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan, tapi well, it's a good hype. Alhamdulillah saya hidup di zaman sekarang dimana kesempatan belajar (dan bekerja) terbuka seluas-luasnya buat para perempuan. Dan di kerjaan saya yang ini, saya dituntut untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikir oleh saya sebelumnya: merantau. Orang-orang sering nanya ke saya:

Bagaimana rasanya merantau?


Hmm.. gimana ya jawabnya. Jujur ya, dulu, waktu saya masih kecil, masih jadi mahasiswa, saya seringkali 'gak habis pikir dengan teman-teman saya yang merantau cuma buat kuliah doank. Mending ya kalau dia berasal dari daerah yang memang gak ada kampusnya. Lha kalau yang berasal dari kota besar dengan kampus mentereng? Agak ajaib memang mengingat sebenernya mereka bakalan banyak hemat macam-macam kalau seandainya gak merantau.

Eits tapi jangan pada nyinyir dulu baca paragraf awal tadi. Karena pikiran tersebut benar-benar sudah kadaluarsa alias saya sudah berubah pikiran. Kenapa? Well, sudah saya bilang di awal.. sekarang saya juga merantau! Saya pengembara! (kemudian saya langsung inget Kenshin si "kakak pengembara" hehe..absurd).


Terus gimana rasanya mengembara?

Wednesday, April 9, 2014

Kategorisasi: Salah Kaprah?

"Golongan darah kamu pasti B ya?"

"Kenapa emangnya?"

"Ya pas lihat baju kamu kemarin yang rada-rada mencolok itu, menunjukkan kalau kamu suka banget diperhatiin dan akan jealous kalau perhatian tersebut gak kamu dapatkan. Terus lihat sifat kamu yang akan sanguine di zona nyamanmu saja, kayaknya kamu beneran B. Bener kan?"

"Kok gitu?"


Kemudian percakapan berlanjut. Teman baruku, atau lebih tepat dibilang, rekan baru di kantorku, menjelaskan bagaimana dia bisa tahu golongan darah orang dari sedikit observasi saja. Saya hanya mengangguk-ngangguk karena tebakan dia bener soal golongan darah saya. Terkesan sih. Walaupun gak semua yang dia bilang betul. Ni orang berarti daya observasinya bagus nih, pikir saya.

Saya juga jadi teringat betapa waktu SMP saya sangat tergila-gila dengan Astrologi alias Horoskop. Saya berusaha menghapus ingatan itu tapi ya gimana lagi, saya terlanjur ingat semua. Jadi kalau tanpa sengaja saya tahu tanggal lahir orang (dan tentu jadi tahu zodiaknya juga) maka alam bawah sadar saya langsung mengkategorikan orang tersebut ke dalam sebuah list di pikiran saya. Jadi ada daftar "orang yang bisa diajak berteman" dan "orang yang kayaknya gak bakalan nyambung". Itu terjadi begitu saja!

Sunday, March 9, 2014

Traveled by Accident

This was originally written around 19 February.

An abundance of traveling has colored my last week. I still surprised of how much I traveled - mainly as business trip - during the month, as I remembered that I am still pretty new in the office. Yeah, we sort of short of employees here so everyone has a double job descs, double hard works. The most interesting part is that everything was happened spontaneously. I mean, what is more daring than doing something unplanned and just let it flow, and you kind of let the worrying thing haunting but you enjoy that?


30 Januari 2014

Dua minggu yang lalu sebenarnya saya sudah diberitahu bahwa akan ada dinas yang semi-semi reward night gitu, di Batam. Reward apa sih, you may ask. Jadi semua lokasi di perusahaan saya sedang ditarget untuk ikut PROPER, semacam award untuk pembinaan lingkungan gitu, yang mana penargetannya gak hanya dari perusahaan akan tetapi juga Badan Lingkungan Hidup punya. Dan itu tuh susaaah banget. Menyita waktu dsb. Makanya ketika target itu tercapai, perusahaan memberikan reward yang lumayan lah buat para PIC yang mengerjakan selama setahunan itu. Well, back to topic, dinasnya hari Jum'at malam sehingga di hari Sabtu-nya kami bisa nyebrang rame-rame ke Spore (so this is the reward: Spore trip for two days! Yay!). Lalu saya sudah merencanakan bahwa saya akan menolak reward itu. Alesannya simple sih:

1. Saya sudah mutasi ke Palembang (the reward is targeted for the achievement that was reached when I was in Teluk Kabung).

2. Saya. Tidak. Punya. Paspor.

Friday, March 7, 2014

A Bitter Story

I have this weird fondness for everything dark, bitter, and has "emo" feeling in it. Like gore themed movies, dark illustrations (as if you don't know already *lol*), emo music, horrific mangas, and suicidal novels. Well if you read my other blog, it'll be obvious that my reading choice is always dark and specifically suicidal.

There's no particular reason about my guilty pleasure except that I consider happy-themed films (and books) are only too good to be true (it's not that I don't like them, I just take the dose at the minimum level). They will just make us envy. And then you'll start to imagine things, something happy that you already know it couldn't happened in your real life. I mean, think about it: when you look at something horrible you'll start to be grateful of your current state, that your actual life is far better than everything told in the story. Some kind of dopamine that turn my fear of life into the smallest kind, and I'll be relieved for it.

I'm that bitter.

But really, I never expect something like that to happen in my real life. As if my life is not horrible enough *chuckles*.
Epicish.
***
"Hi. I think he doesn't want me anymore. I think his family will never notice me as their member. I think nobody needs me anymore. I wonder what he'd be doing when he come home seeing me as a body with no soul. With no life."
Silent.
I re-read the text again and again and again. Because I've just wake up and I haven't got my mind clear enough to read something like that.
"What do you mean?" I replied.
"I don't know if I could be around anymore. I'd better die."
I hold my breath as my heart beating so fast and I started to shiver. I called her cell phone. She didn't picked up. I text-ed her again.
"Whoa. Don't do anything stupid. Istighfar. Please don't."
She didn't reply. I text-ed her again.
"OMW to your place."
***

Monday, January 27, 2014

Palasara Kid

Pangeran Palasara merawat burung di atas kepalanya.
(Prince Palasara tends a bird on his head).
Pencil color and marker on plain paper, finalized with Photoshop.
That is a part of an Indonesia's fairy tales (for your curiosity, you can simply click this to know the story but it's in Bahasa Indonesia..sorry!) fragment I used to see on the narration of a milk ad when I was a kid. As I got so inspired and a bit tickled by the impossible premise (come on, who's gonna keep a bird on the head?), so then I drew this kid, with a pinch of dirt on his head. But instead of keeping a bird, he is apparently surprised himself with a fairy appearing from the small bush on his head! Weird, I know. But I think it's quite fit with this weeks' topic of IF: disguise. Happy illustrating! :)

Thursday, January 23, 2014

Siklus

A bahasa Indonesia post, finally..

Mari bernostalgia sedikit. Inget 'gak sih waktu sekolah dulu? Misalnya pas SD. Masih seragaman putih-merah. Bayangin anak kelas I SD yang masih cupu, masih dianter orang tua, bahkan masih manja. Baju seragam aja udah gak karu-karuan dengan noda jajanan dan (kadang) ingus (hehe). Kelas II, baju rada bersihan dikit, tapi masih cupu. Kelas III, IV dan V, masih jadi anak cupu tapi baju udah bersihan. Yang cewek mulai jadi keliatan lebih tinggi dari cowok. Terus kelas VI, tau-tau rasanya anak kelas I atau II itu terlihat sangat bocah dan kita bete liatnya. Semacam, "ya ampun tu bocah males banget ya tumpahan jajanan dimana-mana". Pokoknya jadi senior itu berkah, apalagi mulai kelas VI itu mulai rada-rada saling taksir-taksiran dengan teman (hehe).
That sight.
Lalu tibalah saat masuk SMP. Yup, kita jadi kelas I lagi. Artinya, jadi junior lagi. Tiba-tiba rasa "belagu" waktu kelas VI itu nguap. Kenapa? Karena kita jadi yang paling kecil lagi. Di atas kita masih ada kelas II dan III. Rasanya jadi cupu lagi, walaupun 'gak ada noda tumpahan makanan di baju tapi di antara manusia-manusia yang menjelang akil baligh itu, kita jadi anak ingusan (hey! de ja vu dengan cerita Diary of A Wimpy Kid 'kan?). Begitu seterusnya sampe kita kelas III SMP jadi senior lagi, lalu masuk SMA jadi junior lagi, dsb. Enak kayaknya jadi anak kelas II. Gak perlu ada rasa-rasa kayak gitu, iya 'kan?

***

Ini sebenernya sebuah refleksi. Dalam hidup kita gak pernah stagnan di atas. Selalu ada masa jadi junior, lalu jadi senior, lalu jadi junior lagi, dan seterusnya. Kayak roda. Kayak siklus. Dunia kerja apalagi.

Sunday, January 19, 2014

Shockingly Sherlocked

When you have eliminated all which is impossible, then whatever remains, however improbable, must be the truth.
Sherlock. Pen on paper, touched with Photoshop.
This famous quotes I first found in the Detective Conan manga series was suddenly appeared again in one of the most anticipated serial nowadays: Sherlock on BBC. I blamed myself for not letting my best friend, Azizah, when she tried to persuade me to watch the serial in 2010. That day I got an issue with detective stories, I once liked it very much until I entered high school and one particular event changed my life and made me stop liking any of it. Besides, I didn't get into trends. But last week when I accidentally stumbled upon the first season DVDs I have since a very long time, yeah, A Study In Pink, I suddenly became shockingly "sherlocked"!

Saturday, January 18, 2014

Sketching The Way You Sketch

Lately I saw the artworks of Thomas Chian in Doodlers Anonymous web and suddenly have this de ja vu feeling. I also love to draw something like that while I'm bored. I compiled them somewhere I forgot but I still have one or two. I must tell you that I really love the water color illustration because I haven't mastered the technique yet! And let me introduce you some of the artworks of Thomas Chian, my newest favourite inspiration.



Here's what I've made (but this one is a little unfinished):


Friday, January 17, 2014

First Day First

Because I always brag about my moving to Palembang, some of you might wondering how do I endure my first day? Okay, this blog has no many readers but whatever, I've got to say what I have to say, right?

So, last Tuesday I took flight from Padang to Palembang, via Jakarta. They ran out of tickets so I've got the last flight on the night. I've finished my packing thing just 3 hours before departing. I've already order the cab, and getting ready while my friend called me and said he will drop me to the airport. Whoa, this was unexpected. So I canceled the cab and accepted the offer. And then after doing so many errands: bought the gifts for my new colleagues-to-be, posting some of my excess baggage, and bought my friends the lunch, we went to the airport.

Everything was fine and the airplane got a 15' delayed but I arrived in Sultan Badaruddin II Palembang safely. Two of my friends had waited me there and then they dropped me to the hotel. It was eleven in the night and I was very exhausted. But tomorrow is the day so I have to sleep!


Tuesday, January 14, 2014

The Mourning Bay in a Glimpse

Apparently yesterday is my last day of work in Teluk Kabung (I translate it as "The Mourning Bay", but perhaps it's not that suitable lol). The night after, we had this farewell party held by my office mates in a nice and small caffe called Palanta Roemah Kajoe. Did I ever mention that I don't like farewell party or anything alike? (now you know that I have SO MUCH stuff that I dislike -_-). I'm not good with socialization and also hate to do a fake thing as a good-kind-hearted girl because that makes me feel very awkward. Yeah. I'm that kind of creature.

Teluk Kabung

The Mourning Bay is the name of the place as I made fun of its original name because of the surprising fact of my sudden mutation in the late of March 2013. The original name is Teluk Kabung and if you translate it literally it's indeed fit with the English name: The Mourning Bay (Teluk means Bay and Kabung means Mourn). I don't know why the place is named with that sad phrase but let's not talk about that thing. So the first reaction I got when I heard about my mutation that day was, I was upset. Okay I have predicted this mutation, I mean, I wasn't put in a right place from the beginning for God-knows-what reason, but I never have any idea that the place is The Mourning Bay. I've been told sarcastically about how dangerous and anarchy and vandalism and everything-bad the place was. Even one of my friends that seems to be placed in a dangerous area (according to his constant whining and complaining about the place) told me that he was okay because his area isn't that bad compared to The Mourning Bay. And I was like, WHAT?!

Sunday, January 5, 2014

Flawsome

Day fifth of 2014. I was done packing 60% of my stuff and currently am thinking about the gift(s) I should wrap for farewell presents. What I will give them? Well, as I haven't bored yet talking about my last year, I suddenly realize what is my biggest and fatal-est flaw during 2013 (actually, it's my whole life fatal flaw). And as I've seen this word on ANTM Season 20 (yeah! I'm into that kind of dull thing), I decided to make it as my big topic.

Flaw plus awesome = flawsome!

(From here, I'll write in Bahasa Indonesia. Sorry!)

Karena terlanjur keduluan nge-post mengenai "perjuangan" saya dan dua orang teman ke Kebumen (as promised in my latest post), well saya tidak akan menceritakan keseluruhan kisah tersebut. Basi juga kalau dibahas di sini lagi, so bagi yang penasaran, silakan meluncur ke blog teman saya, di sini. Anggap aja ini adalah kisah epilognya. Kenapa? Setelah stasiun Pasar Senen, kami kembali ke tempat masing-masing. Satu orang ke Kramat, satu orang ke Johar Baru, dan saya, yup, ke Soetta. Jadi, ini kisah saya. Hehe.

Saturday, January 4, 2014

2013 in a Wrap

This is a late post of my kaleidoscope of 2013. but well, better late than never, right?


2013 for me is a very strange year. It's my first year as a full time employee in my office, and what makes it so strange is I switch my job position like three times. If you're new here, then you'll be wondering if my boss didn't like me that much so I've set to different places. You can speculate your assumption, whatever. Hehe. But since I've got so many experiences with the places I've traveled and people I met, well everything has paid.

Well as I always say, picture speaks thousand words. So here are everything I got (uh oh not everything because sometimes I forgot taking pictures!) during 2013:

P.S: This is a very long post and so many pictures below. Enjoy!

Friday, January 3, 2014

If Happiness and Grief Should Be Combined

So, yeah, I'm 24 now. And it's like an obligation for me to write about my last year and resolution and whatsoever similar, on the 3rd of January, right on my birth day. But today is not the happiest day of my life since yesterday my Grandma has passed away. It's quite a surprise because the one who has been sick is my Grandpa, not her. And she was just suddenly left us. Yeah, it's that sudden and what a surprise - I really don't like surprises and heck this is an ugly one. 

Image Source
From now on, I'll remember my birth date as my Grandma's funeral date, too. :(

The last time I met her like, two weeks ago when I took my first leisure day-off, she asked my mother about my marriage plan. I refused to answer it because well, I hasn't plan any (a note: I don't talk about my private life in this blog). It's a common question for girls my age and I don't really bothered. What really bothered me is, when people keep talking about "that plan" whilst they passed away like one by one. It really is a grief. Back to the topic, so my Grandma, she's my father's mom. My elementary school is just in front of her little shop. I used to visit her in my break time, along with my childhood friend, and my cousins. We used to sleep over in her house and listen to the stories my Grandpa told us. She spoiled us all, especially me. We have a lot of similarities. I even imagine myself as her when I grow very old. Yeah, we're that similar.

But now she's passed away. Today is her funeral and I can't make it to attend. As you know that I live in Padang, and my hometown is Sumedang, and I have to take flight to Bandung or Jakarta to get there. The time is just not enough to make it. It's so hurt when I call my father and hear his shaking voice and told me to calm. Instead, I was upset. And the reason I was upset is confusing, is it because: I can't make it to her funeral, I didn't get to see her for the last time, or the fact that my birth day is ruined?

By the way, last December I got so many dreadful (did I say dreadful?) experiences. I won't tell you everything but my carelessness was finally caught me. So my resolution to 2014 is, to be least careless and minimize my rush-ness behavior. Uh, I don't know. I can't really write anything useful right now because of my grief. Well thank you for all your kind attention to congratulate and pray me. You don't know how much it means to me. And please, please, send my Grandma your prayer too. Today is my birthday, but also my Grandma's funeral. So you're gonna pray us both. Thank you again for reading this. :)

P.S: Don't worry, I didn't write this during my work hour, everyone here is doing our aerobic activity and since I'm not in the mood to do it, I wrote this super quick post. Thanks.