25.4.15

The Nightingale

This week hasn't ended, yet I feel so much pain in my stomach (OMG what is this thing to do with my stomach hee) and I cried a lot. Maybe I ate too much onions. Or did I forgot to eat anything? Hee hee. This is called "the anxiety". Familiar with the nauseous thing, like you're gonna throw up eventually while you're thinking or talking about something that is so hard to express? Yeah. That was it.


This was started last week. I've never been so scared of being left until that day. Sounds funny but it was true. I hardly believe it myself. I mean why? Have I lost my sanity? Perhaps, yes. It was so sudden. I have died trying to hide everything, yet he always guessed them (mostly) right. I have tried my best to find distraction, to find anything to keep me sane, to stay in the line, to hate him more and more ('cause it's a lot easier), but in the end I'll stuck again. The rest is this anxiety feeling. I'm lost in this dungeon.

It's only a drawing.

24.4.15

Persephone

Kadang-kadang (eh, sering?) dia picik. Berpikir bahwa semua orang akan seimpulsif dirinya. Ya kalau dia mah gampang marah, kesinggungan, ngeselin. Evil. Tapi gak semua orang akan melakukan hal seperti dirinya kan? Lantas apa yang membuat dia berpikir bahwa semua orang harus, atau akan seperti dia? Kenapa memikirkan hal-hal yang belum tentu dipikirkan orang lain? Sibuk sekali tampaknya, memelihara imaji. Memelihara ego. Sangat takut kalah, sangat benci dikalahkan. Padahal apa peduli orang lain? Dia hanya akan tersiksa dengan pikirannya sendiri. Menjadi bodoh, menjadi penjahat. Palsu. Whatever.

Would you want to meet someone as twisted as you?

The answer is no. She thinks - and really - she is the worst person ever. How dare her to ask people to be arround, whilst she did every-biatch-thing in the world and seems so proud?

Dua Minggu yang lalu dia pikir sudah kayak mau mati rasanya, ketika rahasia terbesar seseorang, terbongkar di waktu dan tempat yang salah. Mending rahasia orang lain atau acquaintances atau apalah. Ini rahasia sahabatnya sendiri. Yang bocorin gak tanggung-tanggung, salah satu orang dekat lainnya. Dia sholat, taubatan nasucha ceritanya. Ya Allah, saya tidak mau menjadi seperti ini. Betapa susahnya jadi orang baik dan bukan sok baik. Tapi kenapa lidah ini, tubuh ini, begitu mudah mengumbar cerita versi sendiri? Ya bukan bohong sih. Akan tetapi ternyata banyak hal yang lebih menyebalkan daripada kebohongan. Iya. Munafik versi seribu. Membelokkan pikiran orang. Sok baik. Sok korban. Anehnya masih aja ada yang kasian sama dia, beranggapan bahwa dia terlalu baik. Dia itu twisted for God's sake! Tinggalin aja napa. Blablabla.

Really, she is not a saint, and she would never be. And she screws up a lot. Yep, screw up is the only thing that she's best at.

Mungkin hal terjahat di dunia adalah pikiran jahat itu sendiri. Kenapa ya, seseorang yang punya seribu pikiran jahat, tapi masih banget ada yang mau nemenin? Harusnya sih bersyukur. Tapi dia selalu ketakutan. Dia sendiri takut kejahatannya akan berbalik padanya suatu saat nanti. Dan kayaknya sekarang deh, yang dimaksud dengan "suatu saat" itu. Berkali-kali dia ditampar dan disadarkan bahwa dia ini jahat. Palsu. Lagi.

Kadang dia lupa aja gitu. Segala yang tampak pada dirinya itu adalah rahmat-Nya. Bahwasanya Ia menutupi aib, dosa, cela, pikiran jahat dan perkataan jahat. Lantas kenapa dia masih bertahan menjadi orang yang gak baik?

Give a (wo)man a mask, and she will show you her real self.

Apa yang bakal terjadi nanti? Ngebayanginnya aja dia males. Takut. Sebal. Benci. Self-esteem menurun drastis. Ya gimana lagi. Salah dia sendiri kok. Mungkin sudah saatnya menerima akibatnya. Daripada di akhirat? Mau minta tolong siapa? Sebetulnya bukan orang jahat yang harus kita waspadai. Tapi orang yang kelihatan baik padahal jahat. Hati-hatilah pada orang seperti ini. Kalau bisa, jauhi. Sampai dia bener-bener sadar. Tapi sampai kapan?

Be the person you want to meet. (Hell no, she doesn't want to meet herself really).

Maaf.

20.4.15

Logika

Saya baru tau, membuka lembaran baru itu lebih susah daripada mencari pengalihan isu. Tidak semua orang bisa mengerti, tidak semua orang bisa memahami. Hanya, terkadang semua itu tidak logis. Untuk apa membela hati kalau bertentangan dengan logika? Saya ingin realistis. Dan itu hanya bisa dilakukan kalau saja saya membuka lembaran baru. Kalau saja.

*kemudian kata-kata ini melingkar lagi ke kalimat paling depan*
Start fresh, will you?

7.4.15

Baca Baca Baca

Tidak banyak pembaca blog saya yang tau kalau selain blog ini, saya juga menulis satu blog lain yang tidak kalah sarkas-nya (hehe) namun belum pernah saya perkenalkan sebelumnya karena saya jaraaaaaaaang sekali bikin postingan di situ. Nama blognya: Ikra Difa. Yup. Sesuai namanya, "ikra" merupakan pelesetan dari Iqra dalam bahasa Arab (mungkin artinya jadi berbeda ya tapi ya..tau apa saya dengan bahasa Arab? hehe) yang artinya "bacalah". Walaupun sedikit maksa, ikra pun punya arti lain yang saya susun sendiri yaitu: Intisari, Komentar, Resensi dan Artikel. Sementara "Difa", well, Difa adalah singkatan dari nama asli saya. Sengaja ditambahkan huruf "a" di belakang biar agak berima dengan ikra. Iya. Kalau disambungkan arti Ikra Difa menjadi:

Intisari, Komentar, Resensi dan Artikel (tentang buku) by Dewi Isnaini FAdhilah.
Find me on http://ikradifa.blogspot.com.
Saya suka banget dengan nama ini karena kesannya sedikit Arab-ish namun rasa Indonesia-nya gak hilang. Mungkin kalau suatu saat saya punya penerbitan buku atau perusahaan apa gitu, saya bakal namain Ikradifa deh hihi. Semoga saja saat itu nama ini belum ada yang nyatut.

Oke sekarang mungkin beberapa dari anda akhirnya kepo membuka blog saya yang itu. Tapi mohon maaf. Mungkin anda akan kecewa karena postingan terakhir saya di situ bertanggal di 12 Januari 2014! Haha. Iya. Sejak ditolak keanggotaan dari grup BBI (Blogger Buku Indonesia) - tears - saya jadi maleeees banget mau bikin resensi. Ada beberapa faktor kenapa saya membiarkan blog yang itu dan malah tambah rajin ngepost di sini. Salah satunya tentu saja: karena saya sekarang jarang sekali membaca. Hmm.. kalau ditelusuri lagi, kenapa ya jadi jarang baca? Padahal waktu kecil saya termasuk binge reader. Semua saya baca. Dari manga sampai Goosebumps, dari Bobo sampe buku-buku IPA tentang eksperimen sains gitu, dari Enid Blyton sampe Annida..- kecuali koran, sampe sekarang saya gak suka baca koran.

Saya akan sedikit introspeksi di sini.

1
Kerja
Taken from Beauty and The Briefcase.
Faktor utama jarangnya seseorang menekuni hobby biasanya adalah kesibukan bekerja. Seorang karyawati seperti saya biasanya melalui 5 hari dalam seminggu, menghabiskan waktu di kantor kemudian langsung pulang, capek, lalu ketidur. Sabtu-Minggu? Sebagai seorang perantauan, Sabtu-Minggu adalah harinya sosialisasi dan jalan-jalan. Baca buku? Duh kapan ya.

3.4.15

The Middle East

When I say middle east, I don't mean to say the real Middle East. Pardon me for this misfit term, but what I do mean here is Java Island. Since I've been living in Sumatera from 2012 till now, Java is like the Middle East to me, even if I was originally came from there. In 2015 I've been granted two business trip to the two beautiful cities in the middle east: Jogjakarta and Semarang. Jogjakarta was really nice and beautiful but I was only given the chance to visit the Prambanan (I know, I've never been to Prambanan before lol). Semarang was also nice and I've got the chance to visit many places (and took a lot of photos!) so here I'll just bring up my story mostly about Semarang.


Sebagai orang yang lahir dan besar di Pulau Jawa kadang-kadang saya merasa keki aja gitu karena perbendaharaan tempat (wisata) di Jawa yang pernah saya kunjungi itu sangat sedikit!! Maklum, sejak kecil keluarga kami tidak dibiasakan untuk travelling. Bapak kerjanya shift-shift-an sedangkan ibu super sibuk walaupun kerja di rumah. Susah banget nemu waktu libur bareng-bareng. Udah gitu kami kan keluarga hemat (if you know what I mean). Tempat terjauh yang kami jangkau waktu liburan keluarga itu mungkin Dufan - Jakarta (itu pun waktu SMP). Makanya, sejak kerja dan merantau ini, saya jadi lumayan suka travelling dengan catatan: no pantai, no laut (except kepaksa hehe).

Tahun 2015 ini dibuka dengan dua dinas ke Jawa Tengah: Jogja dan Semarang. Hehe. Believe it or not saya tuh mungkin salah satu orang cupu yang bahkan belum pernah menginjakkan kaki di Candi Borobudur dan Prambanan. Nah makanya biar kecupuan ini 'gak terus berlanjut, waktu bulan Januari kemarin saya sempet ke Prambanan (sayang 'gak sempet ke Borobudur sih) dimana di situ saya sekalian menghadiri rapat kerja yang memang diadain di Jogja.