Saturday, February 4, 2017

That Just-In-Case Stuff and Where You Put Them

This is very embarrassing but after all these years of denial, I finally need to agree with them easy-going-don't-care-for-style girls and have to reconsider my choice of: BAG. Yes, bag is an essential part of women (hehe) like we cannot going around without carrying our bags. For a woman who works like me, choosing a bag is one factor because I walk about 300 meters from my place to the office everyday carrying my bag (full of my 'just-in-case' stuff). I don't really carry a lot of stuff, tho. But still, the right bag is necessary.

And why do I suddenly think this way? I don't really have problems with my daily bag before today. Yeah. Another clumsiness kills so I have this aching right shoulder for two weeks (tears).
My daily bag.
Yaaa jadi ceritanya dua minggu lalu saya jatuh terperosok ke dalam lubang yang dalam (jirr bahasa apa ini). Saya lupa yaa waktu itu memang 'gak seberapa sakit sih tapi malunya lebih nyakitin karena diliatin orang-orang haha. Pas nyampe kosan, saya baru sadar kaki saya lebam binti lecet dengan tangan kanan yang tiba-tiba pegel kayak mau copot.

Sehingga saya 'gak bisa pake tas kerja saya yang biasanya: that brown Mayonette handbag I adore so much (huhu). Ini juga menyadarkan sih bahwa sebelum saya jatuh itu saya memang kadang sakit bahu yang kemungkinan besar disebabkan oleh pilihan tas yang kurang ergonomis.

Barang bawaan saya cukup banyak sih. Orang bilang, isi tas kita itu isinya barang-barang just-in-case semua. Siapa tau butuh gitu. Tapi gak benar-benar selalu diperlukan. Kayak saya, selain dompet dan hand phone, isi tas saya itu ya benda-benda untuk aktivitas "menunggu". Hand phone, headset, pulpen, sketch book, note book, just book, hehe. Makanya karena isi tas saya gak bisa diringkas lagi, akhirnya saya memutuskan pake tas punggung. :(

Buat saya ini tuh lumayan big deal sih.

The just-in-case stuff I can't simply left them home!

Maksudnya, saya tuh udah 'gak pernah banget pake tas punggung sejak SMA gitu looh. Pas SMP pun pake backpack tapi makenya cuma dicangklongin sebelah. 'Gak ada banget anak perempuan di kampus (jurusan deng) yang pake tas punggung kecuali tomboy kali ya. Masalah culture mungkin kalau ini. Saya gak girly juga sih tapi hmmm tas punggung tuh BIG NO deh kalau buat pemakaian regular. Intinya saya gak mau terlihat childish dan bungkuk. Kemudian setelah jadi perempuan kantoran, tambah 'gak mau pake tas punggung kan. Hmmm berasa 'gak sophisticated aja gitu. Tapi no offense loh ya, karena ini kan masalah preferensi masing-masing aja.

From Paradise Kiss.
(Beauty is pain, they say. Padahal saya mah anti backpack cuma biar gak keliatan kekanak-kanakan aja haha).

Karena ini exaggeratedly a big deal, sekarang ini saya lagi nyari tas punggung yang cocok. Udah beberapa hari ini ngubek-ngubek online shop karena saya gak sempet (dan gak suka) ke luar untuk survey beneran, tapi belum nemu. Ya saya ada sih tas punggung yang saya pakai only buat dinas tapi akhir-akhir ini saya suka bawa laptop pribadi ke kantor buat desain-desain gitu. Dan laptop saya itu unusually GEDE dan BERAT (ada numlock-nya fyi), 'gak muat di tas punggung saya. Biasanya sih saya jinjing pake tote bag tapi sejak bahu lagi error yaa jadi kesusahan deh. Saya nih posturnya kecil jadi suka emosi deh liat ukuran backpack tuh kok ya hanya yang super besar yang muat laptop gaban. 
From Men, Women and Children.
Huft.

Next step, nanti setelah bahu sembuh, haruskah saya tetap pake backpack atau kembali ke hand bag? You should know the answer. Haha. Cuman mungkin setelah ini saya mesti ekstra hati-hati: hati-hati supaya gak jatoh (rolling eyes) dan hati-hati supaya memperhatikan beberapa hal seperti:

  1. Pindah-pindah bahu buat naro tas. Harus mulai membiasakan diri, kalau enggak nanti bahu gue turun sebelah dan itu sama sekali gak sophisticated wkwk.
  2. Jangan kebanyakan bawa benda yang bersifat just-in-case kalau cuma mau ngantor (maksimal berat bawaan adalah 10% berat badan). Sebenernya kayak sketchbook atau mukena sih aku naro juga di kantor jadi harusnya aku 'gak bawa semua itu tiap hari di tas.
  3. No high heels. High heels + hand bag = hell. Ini insya Allah bisa sih haha karena saya anaknya gak high heels banget. Saya suka sepatu yang ada platform-nya supaya menciptakan ilusi ketinggian (at this point I looked so fake -_-) tapi kalau high heels yang buat di belakangnya doang gitu NO deh. Gue jalan kaki ke kantor gitu lohh.

From Pitch Perfect 2.
So supaya gak kena handbag syndrome kayak saya, sebaiknya sih switch switch ajalah. Misal hari ini pake handbag, besok messenger bag, besoknya backpack dst (pssst tas wanita tuh emang macem-macem banget, baca ini supaya tau hehe). Lebih oke kalau pake backpack aja. Saya sih nunggu dulu deh, sampai tercipta tas punggung yang sesuai selera dan postur saya (wkwk), mungkin baru saya mau jadi pemakai tas punggung permanen.

From Sunny.
More to read: 1      2      3      4

2 comments:

  1. Here's good resources mbak

    http://www.ergonomics-info.com/ergonomic-purses.html

    Switch & switch, weight limitation, masuk dalam risk control bagian administrasi. Ada risk control bagian desain, seperti ergonomic bag di link itu. Tapi aku nggak tahu persis efektif nggak, kalian kan yg lebih tahu anatomi kalian, comfortable nggak, dan.... Tentu estetika hehehe

    ReplyDelete
  2. Wi, lain iklan, tp cek 'povilo' deh, istri sy eusi tas na saingan kantong Doraemon, nepi ka stetoskop, jarum, jeung peso sigana aya

    ReplyDelete

WOW Thank you!