Sunday, June 26, 2011

A Rocket to New York

Menjadi penulis novel sekaligus pernah menjadi bintang tamu dalam acara talk show kenamaan Indonesia, Kick Andy di Metro TV, ternyata tidak menjadikan Iwan Setyawan menjadi salah seorang yang kutau. Okelah, mungkin aku agak kuper. Karena malam kemarin, sahabatku Azizah memberiku undangan itu. Undangan seminar 'pendidikan determinasi' (aku lupa judul lengkapnya). Dia bilang, seminar-nya berlangsung sore hari di gedung Fakultas Ekonomi Unpad Bandung. Karena rumahku jauh dari Bandung, aku kurang tertarik. Lalu dia menambahkan, pembicaranya adalah Iwan Setyawan. Aku berpikir, memang Iwan Setyawan itu siapa? Azizah bilang, beliau pernah tampil di Kick Andy.

Spontan, aku pun browsing dari ponselku untuk mencaritahu. Jujur, aku tidak terlalu suka ke acara seminar yang tidak menawarkan sertifikat (tipikal semua job seeker) makanya aku harus punya alasan kuat untuk menghadiri seminar itu. Dan ternyata.. Iwan Setyawan itu adalah novelis '9 Summers 10 Autumns' dimana buku itu sedang best seller di beberapa toko buku akhir-akhir ini. Hmm aku belum pernah dengar atau baca buku beliau (bukti betapa kuper-nya aku saat itu), tapi terpengaruh oleh beberapa resume di internet bahwa di novel itu, diceritakan pengalaman mas Iwan yang asalnya anak supir angkot di kota Malang, bisa sampai bekerja di sebuah perusahaan besar di New York - benar, New York yang itu - tiba-tiba aku jadi bersemangat. Kurasa, mungkin aku bisa datang, karena saat ini aku sangat membutuhkan motivasi-motivasi seperti itu. Belakangan aku memang sedang berpikir untuk mencari kesempatan kuliah di luar negeri.
1. Mas Iwan Setyawan, novelis 9 Summers 10 Autumns
Singkat cerita, hari ini aku pun datang bersama Azizah ke acara seminar yang dimaksud. Kami datang sedikit terlambat sehingga ruangan seminar sudah terisi setengahnya. Mas Iwan sudah berdiri di stage. Melihat beliau, kesan pertama adalah sederhana, humble, tipikal orang Jawa kebanyakan. Ibaratnya kalau suatu saat ketemu di jalan, kamu gak akan pernah nyangka bahwa mas Iwan ini,  sebenarnya adalah orang luar biasa yang menjalani beratnya perjuangan hidup hingga bisa seperti sekarang. Tapi beda cerita saat kamu sudah mendengar kisah hidupnya. Aku jamin, beliau benar-benar orang yang cerdas dan itu sangat terlihat dari tutur kata dan bahkan pilihan kata serta gesture-nya.

Bayangkan seorang anak desa biasa, dengan ayah seorang supir angkot dan ibu lulusan SD. Mereka hidup dalam kemiskinan sehingga harus berbagi kamar tidur dalam rumah kecil mereka. Suatu hari, Iwan kecil punya mimpi. Ia ingin jadi orang kaya karena kalau dia kaya, dia bisa punya kamar sendiri. Mimpi yang sangat sederhana. Tapi ternyata berkat mimpi itulah, mas Iwan berusaha keras mewujudkannya, hingga ia menjadi murid tercerdas di sekolahnya, bahkan di fakultas-nya, di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Perjuangan itu tentu tidak mudah, karena tentu saja untuk kuliah, seseorang harus punya uang ekstra. Dan untuk itu orang tua mas Iwan sampai rela menjual satu-satunya angkot sumber mata pencaharian mereka. Jadi kalau saja mas Iwan tidak kuliah dengan benar, maka pengorbanan itu akan sia-sia. Untungnya itu tidak terjadi. Dan kini inilah beliau, salah satu direktur di perusahaan internasional yang berjuang dari nol berkat mimpi kecilnya itu. Beliau menekankan, bahwa semua itu terjadi berkat Tuhan dan ibunya. Ibuk, demikian panggilan mas Iwan pada ibunya, adalah orang yang 'intelectually enlighted', tercerahkan secara intelektual sehingga walaupun beliau hanya tamatan SD, beliau tidak mendorong anaknya untuk menjadi tamatan SD juga.

Semua ini membuatku berpikir, aku punya ibu yang juga 'intelectually enlighted'. Ibuku bukan sarjana, beliau hanya lulusan SMA namun sekarang dua dari tiga anaknya sudah lulus sarjana. Yang jadi pertanyaan adalah, apakah aku akan menjadi seperti mas Iwan atau tidak? Atau malah lebih? Yah.. apapun yang terjadi dengan hidupku, aku yakin, dengan berpegang pada kekuatan mimpi, dibantu usaha dan do'a dari ibu dan orang-orang terdekat, kita bisa menjadi apapun asal kita cukup kuat untuk tidak mudah menyerah.

Oh ya, di akhir seminar itu, aku dan Azizah bersama banyak orang lainnya mengantri untuk mendapatkan tanda tangan mas Iwan dan berfoto bersama. Sayangnya, tidak ada satupun dari aku dan temanku yang sudah punya buku itu. Tapi kebetulan sekali saat itu Azizah membeli sebuah majalah, dan di salah satu halaman terdapat foto patung liberty dengan tulisan NEW YORK besar-besar di atasnya. Beruntung sekali mas Iwan mau menandatangani halaman itu. Di situ tertulis, "untuk Dedew dan Azizah, New York is waiting!". Mungkin mas Iwan tidak tau betapa kalimat tadi sangat membuat kami euforia. Kami bahkan men-scan halaman itu dan mencetaknya sehingga bisa kami pajang di mood board atau semacamnya. Mudah-mudahan saja hal itu tercapai dan suatu saat kami bisa menginjakkan kaki kami di Big Apple, New York, atau dimanapun tempat kami nantinya.
2. He signed the page!!

Satu lagi, mungkin kalian bertanya-tanya apakah akhirnya mas Iwan dapat mencapai mimpi kecilnya itu? Jawabannya sangat obvious. Silakan tebak sendiri. :)
Book signing session

1 comment:

  1. temanya determinasi kompetensi dalam pendidikan, sist :)
    iyaa.. inii.. bikin.. can't wait to go to new york! hho
    majuuu my best'artchemist'friend!

    ReplyDelete

WOW Thank you!