Monday, November 30, 2015

A is Sick

This morning I got call from my mom and coincidently (remember my last post about her?) she's been ill for almost a month. So sad. Last time I met her was a month ago and I thought she was just simply flue or cough. Turned out that she has a mild bronchitis. She has herself checked by the doc, also Rontgen-ed. I have no idea that she'd have that kind of disease. My hometown is always cold and we're adapted well with that situation. Hmm probably my mom has a lack of immunity against this terrible weather. Too bad for me, where have I been? So this is why I was so sad yesterday. Again. That mother-daughter unique bond proved its part again. I hope my mom will get better soon. So worried. :(

Sunday, November 29, 2015

A

Someone has just stumbled on my blog and left a nice comment on an old post. Believe me, any positive feedback would make me smile and feel "stronger". Some say it was a spoiling act. I say it's a motivating deed. I'm not a wood or stone. You don't need to carve me with a knive or any other sharp tools to build me.
 
I try to use my magic, but in fact I have no magic in me lol.
So then after I saw that old post, I scrolled down, seeing anything older. And suddenly my eyes saw this post, about the first time I was away from Java. My first office was in Medan, remember?

Yeah. That 7cm post. Here's the post.

It made me cry. Perhaps lately I've been so busy thinking about bad things and forgot what I need to do here. But the point is, I miss that life. I miss "kehidupan A" like so bad. Especially the thing with my mother, and my family in my hometown. As a reminder, here "kehidupan A" refers to my default life: a tiny creature coming from a small town, very ordinary, not a wanderer-type and very "indie".

Sunday, November 15, 2015

The Prodigy (Wanna Be) Story

Beberapa waktu ini lagi HITS banget yang namanya Stand Up Comedy (SUC). Saya udah lama juga jadi penggemar komedi tipe begini. Kalau lagi mumet-mumet, tinggal buka Youtube, terus search deh pake keyword: ge pamungkas, jui purwoto, yudha keling, dzawin. Ya sementara sih favorit saya ya mereka-mereka itu. 

Nah sejak ada kompetisi di Indos*ar inilah, muncul lagi komika-komika baru yang yah.. lumayan lucu-lucu lah. Satu yang menarik perhatian saya adalah adanya komika cewek bernama Mudzalifah. Lumayan lucu lho. Bahkan sampe dapet juara III. Belakangan saya baru tau kalau umurnya ternyata baru 17 taun! Muda sekali kamu dekk...

Tujuh belas tuh masih kecil banget lho (kata saya yang udah tua sih wkwk). Bayangin. Dia jadi komika di umur 17. Kalau dia bisa mempertahankan karir, bayangin berapa taun dia punya waktu sampai bener-bener bersinar. Intinya karena dia punya head start, maka dia punya banyak waktu untuk berkembang melebihi orang lain yang memulai semuanya dari umur yang udah agak tua. Ya 'kan? Yang artinya dia punya kemampuan lebih dibanding orang lain seusianya. Buat orang-orang seperti itu saya punya istilah: prodigy.


Ngomong-ngomong soal prodigy nih, saya dulu termasuk orang yang pengen banget jadi prodigy. Ya tapi gak di bidang SUC laah gak mungkin bingits hehe. Kenapa saya mau jadi prodigy? Saya adalah termasuk orang yang percaya dengan konsep bahwa semakin cepat kamu memulai, semakin cepat kamu selesai, dan dengan itu semakin cepat kamu dapat memulai step berikutnya dalam hidup kamu. Jadi ceritanya mau cepet-cepet gitu. Itulah kenapa saya selalu merasa diburu waktu yang mana akhirnya saya pernah kena batunya.

Ini ceritanya agak panjang sih.

Saya masuk TK umur empat setengah taun dan udah bisa baca (dulu kayak gitu aja termasuk head start banget). Karena udah punya head start sekolah dari masih kecil bingit (dan tetep kecil sih sampe sekarang wkwk) dan pernah nge-cut masa SMA juga (ngerti lah maksudnya apa), umur dua puluh saya udah lulus S1. Saya pernah punya target. Sebelum umur dua tiga saya harus udah kelar S2. Abis S2 nikah lah ya dan seterusnya (gak usah dibahas sih wkwk). Yah pokoknya step-step hidup saya itu udah saya rencanain dari lama. Tapi semakin hari semakin saya sadar bahwa emang bener, manusia cuma bisa merencanakan. Akhirnya Allah juga yang menentukan.

Ini saya rasain saat saya dulu nganggur.


Friday, November 13, 2015

Segitiga

Takahashi Shinji

"Itu bukan manis! Itu namanya menguntit! Apanya yang manis dari dikuntit?"

Koyama Nobuo

"Sejak jiwaku pindah ke tubuhnya Takahashi Shinji sepertinya semua orang mulai memperhatikan aku. Bahkan Maruyama yang suram itu. Dan rasanya akhir-akhir ini dia tidak terlalu suram. Sepertinya dia baik."

Maruyama Miho

"Dulu aku pernah berniat bunuh diri. Kemudian aku bertemu orang ini. Setelah itu hidupku jadi berwarna lagi. Aku pikir aku ingin terus hidup setelah itu."

Maruyama San. Artwork by Tweedledew. Inspired from The Dead Returns by Akiyoshi Rikako.

Monday, November 9, 2015

Kisah Sepatu Merah

Namaku Merah. Aku adalah sepasang sepatu merah yang dibeli oleh Dew beberapa hari yang lalu. Yah, bisa dibilang aku memang baru saja hadir di kehidupannya Dew setelah sekian lama teronggok malu-malu di sebuah sudut toko. Aku tau Dew sudah lama mendambaku. Maklum, matanya selalu berbinar melihat sepatu yang warnanya merah seperti warnaku. Dan aku tau ketika Dew memilihku, aku adalah sepatu yang sangat istimewa.

Aku juga tau Dew adalah seorang perempuan ceroboh dan akibat kecerobohannya itu dia sering mengalami kesialan yang bisa banget jadi bahan tertawaan. Ya udah sih, yang penting kan aku gak rusak atau dilupakan, dibiarkan berdebu di pojokan seperti sepatu lainnya :(
Aku.
Tapiii.. kali ini Dew sudah sangat keterlaluan.

Semua diawali hari Jum'at minggu kemarin. Hari itu diputuskan bahwa Dew mau dinas ke Jogja. Dimulailah beberapa persiapan. Khususnya dalam pemilihan sepatu. Karena bentukku yang sangat casual tapi tetap mencolok (gaya Dew banget), maka hari Jum'at kemarin Dew memakaiku untuk mudik sekalian dinas. Seingetku Dew kan baru dua minggu yang lalu mudik. Tapi biarlah. Rejeki banget. Dapet dinas ke Jogja dan bisa pulang dulu ke kampung halaman. Asik kan?