Saturday, January 14, 2017

Formula Anti Gila

I am actually in the middle of working - cie, kerja teross. Gak sih, soalnya kemarin sempat bolos satu setengah hari gara-gara HxNx - oke, kita biasa menyebutnya "flu" - sehingga saya merasa sudah terlalu lama libur tanpa cuti dan harus mengganti gap kosong yang kemarin saya tinggalin (still, "cie, kerja teross").

Baiklah. Saya ada deadline. Dia menunggu di pojok sana. Sendiri. Menatap sambil mengancam akan mematikan lampu. Mengingatkan bahwa listrik adalah sesuatu yang memberi nyawa pada apa yang sedang saya kerjakan. Dan saya malah menggambar, menggunakan listrik untuk sesuatu yang lain seperti main-main dengan Photoshop dan bahkan sekarang sedang menulis entry blog di sini. Oke. Dia menatap saya tambah tajam sekarang.

Haruskah saya lari sekarang? Soalnya untuk memenuhi si deadline ini, saya butuh energi. Energi saya lagi kurang banget. Flu dan beberapa hal gak penting sedang menguras energi saya. OMG makin dibiarkan, makin mau gila.

Inspired by Nala Cat. Colored pencil and water color on plain paper. With ink and a help of Photoshop CC.
Analoginya begitu sih. Dan ini gak terjadi sekali aja. Sudah berkali-kali. Agaknya tiap tahun begini banget deh. Di saat inspirasi sangat dibutuhkan dan harus dieksekusi, eh yang terjadi macam-macam: sakit flu, malas, futur, bengong, gak fokus, malas. Hehe. Termasuk, ada pengaruh dari perasaan kehilangan akibat ditinggalkan beberapa orang (atau hal) sekaligus. Yah, saya agak sensitif terhadap 'ditinggalkan'. Dalam beberapa kasus ini sangat merugikan sih, misalnya kita jadi melakukan banyak tugas sementara menunggu pengganti manusia-manusia (atau hal-hal) yang pergi.
It seems that the whole world is against me now. - January 6, 2017.
Oleh karena itu saya menjadi manic! Mmm gak tau deh apa istilah ini tepat. Pokoknya ada saat di mana kamu lagi banyak ide yang pengen diungkapkan tapi yang terjadi adalah, kamu mandeg. Kemudian cemas 'gak jelas, waswas dan sebagainya. Juga ada rasa g'ak percaya sama orang (atau hal), takut 'gak sejalan dan sebagainya. Mendengarkan musik pun jadi nyakitin kuping gitu. Entah karena sulit ngaturin prioritas ataukah kamu memang bukan eksekutor yang baik. Dan saat itu terjadi, kadar antusiasme yang kamu dapat dari sekitarmu ternyata kurang banyak! Gak heran si manic ini semakin menjadi-jadi.

man‧ic /ˈmænɪk/ adjective  1 informal behaving in a very anxious or excited way.2 medical relating to a feeling of great happiness or excitement that is part of a mental illness.
Saya masuk di definisi yang pertama lah yaaa masa yang ke dua haha. Intinya ini tuh nyiksa banget. Maksudnya, harus segera diselesaikan karena saya ini udah lama hidup di dunia saya yang sekarang. Kalau tidak, gak cuma deadline, jangan-jangan stress juga nungguin saya di balik pintu kamar mandi (hih nakut-nakutin diri sendiri banget ini).

Saya pernah baca di suatu tempat, hal-hal kayak gini tuh gak terjadi pada satu dua orang. Melainkan banyak orang - jangan-jangan hampir semua orang, merasakan kecemasan gak penting kayak gini-gini. Dari luar, orang bisa terlihat happy - happy aja. Padahal dalamnya mikirin seribu hal yang gak prinsipil. Yah saya bilang gini supaya saya gak merasa aneh sendiri sih lol.

Finding inspiration.
Intinya, separah apapun ini, wandering minds, negative vibe, apalah, manic (gak pake depressive lho belakangnya), saya harus kelola. Caranya mirip sama yang saya tulis di sini, seperti menghindari gejaa cabin fever; cuman harus lebih tekun. Apa sih ya ini juga nulis kan dalam rangka mengelola kegilaan itu. Menuangkan pelan-pelan beban di kepala (kadang-kadang hati). Membantu banget sih.

Kemudian istirahat. Saya gak yakin sih ini tepat. Soalnya saya gak bisa tidur kalau ada kerjaan (okeh, jangan bilang kerjaan deh, 'urusan') yang belum selesai. Terutama dengan manusia. Mereka banyak banget nuntut, profesional maupun tidak. Saya juga sih. Dan ketika merasa mengecewakan orang, itu kepikirannya lumayan lama lho. Ya Allah semoga tuntutan yang ini segera selesai deh.

Next step: jangan sombong. Mengakui kelemahan, bagi manusia ber-ego tinggi kayak saya adalah sesuatu yang menakutkan. Kalau gak mampu harusnya bilang, butuh bantuan ngomong, butuh tambahan waktu ya minta. Tapi hmmm saya ini punya prinsip, masuk jurang pun saya gak akan mati. Sombong banget yak lol. Itu tapi berlaku buat manusia. Beda dengan Dia. Ya saya percaya sama Dia. Dia akan menolong dengan cara-Nya. Yang penting kita berdoa dengan tulus. Kayaknya sama Dia gak perlu 'kan pake ego tinggi. Jadi kesempatan itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Sorry ya gak se-solutif itu dan gak menjawab "anti gila"; tapi ya ternyata formulanya cuma tiga itu ya gak sih. Tuangkan, istirahat, jangan sombong. Cukup ya gak sih. Hehe kan imho. Berlakunya juga buat saya..buat kalian mah gak tau juga..

Ya sudah. Back to work now. Kalau dicicil ternyata menipis juga bebannya lol.

Sssh.. deadline masih melototin saya. Perlu dilemparin pulpen aja gitu?