Thursday, January 23, 2014

Siklus

A bahasa Indonesia post, finally..

Mari bernostalgia sedikit. Inget 'gak sih waktu sekolah dulu? Misalnya pas SD. Masih seragaman putih-merah. Bayangin anak kelas I SD yang masih cupu, masih dianter orang tua, bahkan masih manja. Baju seragam aja udah gak karu-karuan dengan noda jajanan dan (kadang) ingus (hehe). Kelas II, baju rada bersihan dikit, tapi masih cupu. Kelas III, IV dan V, masih jadi anak cupu tapi baju udah bersihan. Yang cewek mulai jadi keliatan lebih tinggi dari cowok. Terus kelas VI, tau-tau rasanya anak kelas I atau II itu terlihat sangat bocah dan kita bete liatnya. Semacam, "ya ampun tu bocah males banget ya tumpahan jajanan dimana-mana". Pokoknya jadi senior itu berkah, apalagi mulai kelas VI itu mulai rada-rada saling taksir-taksiran dengan teman (hehe).
That sight.
Lalu tibalah saat masuk SMP. Yup, kita jadi kelas I lagi. Artinya, jadi junior lagi. Tiba-tiba rasa "belagu" waktu kelas VI itu nguap. Kenapa? Karena kita jadi yang paling kecil lagi. Di atas kita masih ada kelas II dan III. Rasanya jadi cupu lagi, walaupun 'gak ada noda tumpahan makanan di baju tapi di antara manusia-manusia yang menjelang akil baligh itu, kita jadi anak ingusan (hey! de ja vu dengan cerita Diary of A Wimpy Kid 'kan?). Begitu seterusnya sampe kita kelas III SMP jadi senior lagi, lalu masuk SMA jadi junior lagi, dsb. Enak kayaknya jadi anak kelas II. Gak perlu ada rasa-rasa kayak gitu, iya 'kan?

***

Ini sebenernya sebuah refleksi. Dalam hidup kita gak pernah stagnan di atas. Selalu ada masa jadi junior, lalu jadi senior, lalu jadi junior lagi, dan seterusnya. Kayak roda. Kayak siklus. Dunia kerja apalagi.


Tapi kita harus move on! Jangan mentang-mentang lagi saatnya jadi junior dan cupu, terus ya pasrah aja dengan keadaan itu. Jangan terus-terusan jadi cupu sampai ada waktunya jadi "senior", karena untuk mencapai posisi itu akan butuh effort yang lumayan besar. Effort-nya itu ya..akrab-akrab dengan senior dan atasan, banyak belajar dari mereka, dan nyoba berprestasi. Bukannya harus carmuk lho, walaupun prinsip saya itu "publish or perish", tapi untuk yang ini akan berbeda hasilnya.

Publish bukan berarti carmuk. Perish bukan berarti demosi.
Carmuk, literally.
Kalau kamu carmuk-ly publish your work, secara jangka pendek akan banyak yang membenci kamu (sebenernya sih jadi orang biasa pun pasti ada yang benci ya...), terutama senior. Dan bermusuhan dengan senior itu haram hukumnya! Bisa-bisa ntar kamu dicuekin, terus gak diajari macem-macem yang tentunya penting untuk kariermu. Lalu secara jangka panjang, nanti ujung-ujungnya kamu akan jadi senior tiran, akan jadi atasan yang belagu dan gampang mabuk dengan effort carmuk bawahanmu kelak.

Memang sih, kadang kita berusaha proaktif juga dianggap carmuk dan bawel. Tapi ya kelewat humble juga jangan donk. Ini sama aja dengan melabeli diri sendiri bahwa kamu gak berguna. Berkesan pesimis padahal congkak karena seolah semua orang itu jahat kecuali kamu.

Wah gak maksud ngajarin sama sekali sih, karena sebenernya ini 'kan sudah umum diketahui orang-orang. Apalagi saya baru setahun di perusahaan tempat kerja saya. Tapi dalam setahun ini saya udah 3 kali mutasi. Artinya saya udah 3 kali gonta-ganti posisi. Sekarang *ehem* kebetulan lagi di bawah. Dan saya masih adaptasi dengan kehidupan di sini yang jauh beda dengan di kantor lama. Saya sudah gak boleh belagu! Doakan ya semoga saya kuat. This is actually a reminder to myself. Big thank you for my mentor, Mr. B and Mr. Anonymous yang sudah memberikan pencerahannya. Ya saya emang over thinker sih. Hahaha.

Back to topic. Jadi, bagaimana cara berurusan dengan siklus? Be humble, but not too humble. Dibawa sante, jangan merasa "pengen jadi penting" atau "pengen keliatan paling sibuk" sesegera mungkin. Semua ada waktunya kok. Dan yang paling penting, jangan carmuk. Carmuk is dangerously disgusting. :D

Carmuk is dangerously disgusting.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!