28.3.18

Adjusting, Adjusting, Adjusting

Was I hard to impress? Gak juga yah.. namun karena kebiasaan "mengatur" dan punya sifat agak-agak control freak dari lahir, akhirnya saya, atas kesepakatan bersama, berupaya "mengatur" pernikahan saya sendiri. By sendiri sebenernya tentunya berdua, dengan sang calon suami. Kita sepakat juga 'gak hire WO karena WO itu 'kan perlu banyak rapat - entah tatap muka entah via WAG tapi kami berdua 'gak akan sempet. Kita 'gak pernah bisa tinggalin semua ke WO - tetep perlu ada monitoring dan lainnya. Sementara saya dan suami tuh sibuk, dan ada di kota yang berbeda (saya di Palembang dan suami di Bekasi) sedangkan tempat walimah kami rencananya diadakan di kota asal kami: Sumedang. Ribet bukan? Terlebih, kasian kalau orang tua kami kudu direpotin untuk ngurusin pernikahan kami para lajang berumur matang ini haha.

Did I have my own criteria for the so-called dream wedding? Ya dan tidak. Ya karena ada beberapa hal yang saya tidak akan pernah mau dan tidak, karena ada beberapa hal yang saya mau-mau saja. Jadi 'gak ada kemauan spesifik sih sebenernya. Cuma saya "gak mau"-nya lumayan banyak! Haha. Suami saya pada dasarnya orang yang sederhana dan tidak banyak maunya. Namun sekali ada kemauan, pasti dia akan usahakan sesempurna mungkin - ini agak beda dengan saya yang maunya apa-apa cepet dan ringkas hihi. Tapi itu seninya. Perlu musyawarah dan komunikasi yang baik. Toh selalu tercapai kata sepakat dan selalu kompak pada akhirnya. Alhamdulillah.

Did our parents had their own rules for us having our wedding? Hampir tidak ada! Bahkan alhamdulillah banget kami tidak "dipaksa" menentukan hari baik segala macam. Simply melihat hari libur dan permainan tanggal belaka hehe. 'Gak ada juga keharusan menyewa pawang hujan - what's that for anyway! Mereka benar-benar helpful tanpa mengatur yang berlebihan, namun tetap menyediakan saran dan nasihat bermanfaat setiap kali diperlukan.

So semuanya tentang penyesuaian: adjusting, adjusting, adjusting. Jika tidak, maka susah buat progressing dan khawatir akan keteteran. Jadi di sini kita akan membicarakan beberapa adjustment yang kami lakukan dalam merencanakan walimahan.

Again, kami sibuk dan berjauhan. Jadi waktu kami yang sudah sempit itu jadi tambah sempit dalam mengurus pernikahan ini. Tapi apapun itu, we should start somewhere, right?

139 Days Before

So then we started with.. menentukan mahar. Lha iya, yang penting dulu nih yang diurusin yaitu syarat sah nikah hihi.

Ilustrasi by @tweedledew.

Jadi pada suatu hari saya ada business trip ke Jakarta. Lalu kami bersepakat cari mas kawin ke toko emas yang lumayan sering dibahas di Google di seputaran Jakarta Selatan (trust me, kita ketemuan sangat jarang dan jikapun bertemu, itu betul-betul untuk urusan teknis ngurusin hari H, bukan "pacaran" - insya Allah 'gak khalwat, mudah-mudahan Allah mengampuni kami yang 'gak sempurna ini pada saat ikhtiar menuju halal). Lumayan lama sih nyari-nyari di situ. Bagaimanapun memuliakan calon istri dengan memberikan mas kawin terbaik itu 'kan berpahala. Sementara sebagai calon istri pun kita harus berusaha agar tidak memberikan syarat mas kawin yang terlalu berat buat sang peminang - wanita baik adalah yang mas kawinnya mudah, bukan? Wallahu'alam.

Agak lucu juga cerita pas nentuin mahar ini. Ini 'kan haknya calon istri ya, jadi calon suami saya menyerahkan ke saya sepenuhnya namun tentu dia sendiri ada hak untuk mempertimbangkan untuk menyetujui harga mahar hehe. Istilahnya, kami terbuka untuk negosiasi. Terus, karena saya malu dan tak kunjung menyebutkan mahar yang diminta, sementara kami kudu segera beranjak ke keperluan persiapan berikutnya, calon suami pun memberi saran untuk menentukan dengan cara menulis (mengetikkan) nilai mahar di HP masing-masing dan diperlihatkan berbarengan. Well, saya mengetik dan dia mengetik. Saya deg-degan banget sih pas ngetik itu haha. Tapi, jeng! jeng! Pas HP masing-masing saling ditunjukkan, ternyata nilainya 'gak jauh beda hehe. Dasar jodoh ih! (eaaa euforia). Alhamdulillah, jadi bisa move on ke persiapan berikutnya deh.

Bagaimana dengan surat-menyurat yang ada kaitannya dengan KUA? Alhamdulillah, ini banyak dibantu - bahkan, full, kayaknya - oleh orang tua kami berdua. Karena walimah dan akad di Sumedang, tentu petugas KUA-nya juga dari Sumedang. So kami terima beres banget. Cuma ada sedikit tanda tangan-tanda tangan aja.

Selesai urusan mahar ini, kami berlanjut ke masalah teknis lainnya: venue. Ini juga sebenarnya saya punya "cita-cita". Alhamdulillah keluarga dan calon suami setuju dengan pilihan ini - tentunya setelah beberapa kali survey. Tempatnya dekat sekali dari rumah saya, tinggal jalan kaki 200 meteran juga sampai, so untuk hal ini kami banyak dibantu bapak-ibu. Sayangnya kami belum bisa mengadakan pesta yang ada pemisahan ikhwan-akhwat gitu. Namun kami menekankan supaya kursi tamunya cukup supaya tidak ada yang makan sambil berdiri. Insya Allah ini dapat terfasilitasi karena sebenarnya venue-nya sendiri by default adalah rumah makan hihi. Yang di benak kami waktu itu hanyalah, insya Allah pestanya jangan ada maksiat-maksiatan - bahkan kami menolak ada dangdutan atau karaokean yangmana di tempat saya sebenernya nge-trend ahahaha (soalnya suka rusuh dan ada aja oknum yang minum-minuman keras hiiy) - so mudah-mudahan Allah berikan kemudahan. Tetap lancar dan aman.

Diambil dari IG @makanponyo.
Untuk outfit sendiri sebenernya 'gak susah, karena ibu saya itu punya WO kecil-kecilan dan koleksi baju pengantinnya lumayan banyak. Tapi karena saya anak perempuan satu-satunya, well, ibu saya berbaik hati mau repot-repot bikin gaun buat saya. Gaun baru! Ya Alloh baiknya ibu saya. Ya alasannya sih karena saya ini kan mini (literally petite) jadi kalau nyewa baju juga bakalan repot fitting - dan ibu juga gak punya stok baju penganten ukuran XS hahaha. Buat hal ini saya gak terlalu banyak andil, saya cuma milih kain dan sedikit gambaran model, selebihnya saya serahkan ke ibu. Biarlah ini jadi proyekan ibu saya jadi saya gak minta aneh-aneh. Cuma satu sih: jilbabnya harus menutup dada.


Urusan ini tentunya gak main-main. Saya juga 'gak mau melabeli diri sendiri atau mengukur "keimanan" melalui panjang jilbab. Tapi ketika saya tahu bahwa yang benar dan sesuai syari'ah itu yang begitu, ya insya Allah saya usahakan. Banyak sekali muslimah yang biasanya berjilbab syar'i, pas walimah malah jilbab cekek. Alasannya, biar artsy atau mungkin keinginan orang tua (atau malah WO?). Iya bener awalnya ibu kurang setuju karena beliau 'kan bikin bajunya bagus banget tuh, jadi pengennya semua detailnya kelihatan. Pun di bagian dada. Namun alhamdulillah sampai hari H pun Allah kasih beliau kelapangan hati supaya saya diijinkan mengenakan jilbab yang menutup dada.


Prinsip saya, jangan sampai saya gak bisa "mamerin" foto nikahan (atau foto apapun) hanya karena bajunya 'gak syar'i atau bahkan saya 'gak berjilbab - na'udzubillah. Yaaa maksudnya bukan buat dipamerin juga sih tapi misalkan suatu saat foto yang seperti itu harus terlihat, kita tetap nyaman menunjukannya. Tidak takut jadi dosa jariyah atau semacamnya. Walaupun kenyataannya, di dunia nyata jilbab dan baju saya sekarang belom syar'i-syar'i amat, saya berharap "cita-cita" syar'i pas nikahan ini akan menjadi awal supaya ketaatan saya terutama dalam urusan berpakaian nambah ke depannya. Amin.

Tapi maaf, urusan make up saya belum "tega" nih buat batesin banget haha. Jadi untuk dandanannya memang saya 'gak mau cukur-cukur bulu muka atau alis gitu, but tetap terpaksa pake fake lashes dan soft lenses (trust me, itu saat pertama kalinya saya dipakein soft lenses wkwk). Bukan pembenaran sih, tapi "tabarruj" lewat make up penganten itu not likely to happen banget. Tebel gitu mana menggoda.. mana membuka "keindahan". Ah, tapi saya takut salah. Mudah-mudahan niat saya waktu pake make up segitunya itu benar-benar hanya alasan event proper aja, bukan karena mau terlihat cantik menggoda. Wallahu'alam yaaa. Mohon jangan dijadikan taqlid-an haha.

Ceritanya pengen simpel2 gini kayak Teh Bella haha apadaya mukanya berbeza. Dari IG @bellaerslcb.
Selanjutnya acara. Untuk acara, saya juga gak terlalu banyak konsep. Saya cuma mau, kalau bisa Sunda banget ya Sunda banget hihi. Ya gimana, budaya tradisional gitu seringkali tergerus zaman dan kami berupaya supaya yang gitu-gitu, selama tidak bertentangan dengan syari'ah, tetap ada. Ini juga hadiah buat ibu saya yang menyenangi budaya Sunda.

Bagaimana dengan keinginannya calon suami? Ah... dia mah sederhana banget. Benar-benar tidak mempersulit, tapi tidak pernah tinggal diam. Setiap saran yang masuk pasti logis dan tidak memperparah "stress" saya saat persiapan nikah ini. Walaupun saya kadang suka mendebat (huhu maaf, A), dia tidak pernah menyerang. Sabar banget deh. Support-nya subhanalloh banget - hari pernikahan masih seratus hari lagi tapi saya makin yakin aja kalau yang kayak gini 'gak boleh dilepaskan hehe (ih saya merasa gombal). Dengan demikian masalah outfit pun kelar. Tinggal support ibu aja supaya tidak kecapekan gegara bikinin baju penganten buat anaknya ini.

Selanjutnya undangan dan souvenir. Tapi saya bahasnya di postingan selanjutnya yaa karena itu teknis banget dan alhamdulillah banyak yang nanya cara bikinnya. Fyi kami desain undangan dan souvenirnya literally sendiri, masuk percetakan tinggal cetak gitu. Tapi itu pun lika-likunya lumayan. Talking about the control freak traits dan kami berdua background kerjaannya dari planner semua.. so maafkanlah kami haha.

*Ini adalah kisah sambungan dari "To Be Mr. Darcy's". Biar nyambung, yuk baca yang ini dulu hehe.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!