Monday, October 31, 2011

Komodo oh Komodo

This is a local issue, so I tend to write in Bahasa Indonesia.


Akhir-akhir ini di media masa dan elektronik terdapat kampanye yang lumayan gencar agar kita bangsa Indonesia banyak-banyakin vote komodo untuk menjadi new 7 wonders yang baru, sebelum 11 November 2011. Awalnya sih aku oke-oke aja, meski belum nge-vote juga karena merasa sungguh lucu kenapa penentuan 7 wonders alias 7 keajaiban dunia harus pake sistem vote lewat sms dan internet? Udah gitu tarifnya juga lucu, awalnya seribuan eh turun drastis jadi satu rupiah doang. Sampai dua hari yang lalu, sebuah tweet kebetulan mampir di timeline-ku, dari mas Pandji Pragiwaksono (presenter dan aktivis nasionalis), yang kira-kira isinya begini:

RT : Pahami faktanya. Kalau peduli Komodo, mungkin ada baiknya jangan dukung program kirim SMS --> 

Setelah ngecek link yang di-attach di tweet itu, tiba-tiba aku langsung ngangguk-ngangguk setuju. Hm ini bukan berarti aku kontra dengan penobatan komodo sebagai new 7 wonders sih, tapi bener juga lho, komodo itu butuh diselamatkan, dikonservasi (dilestarikan), bukan diperjual-belikan (tidak secara harfiah) untuk tujuan wisata apalagi secara internasional. 

Yah.. sebenernya menurut berita yang aku baca, 95% turis di taman nasional komodo itu memang sudah merupakan turis asing alias bule (sumber). So..bule-bule juga udah tau kalau komodo itu makhluk ajaib alias "wonders" dan cuma ada di Indonesia, jadi rasanya memang sedikit lucu ya kalau kita harus mengukuhkan hal tersebut. Bagus sih buat iklan, pariwisata Indonesia mungkin sangat membutuhkan iklan seperti itu. Tapi apa komodo-nya sendiri butuh?

Dulu, tahun 60-an saat pulau komodo baru mulai dikonservasi, katanya jumlah komodo mencapai 5000 ekor dan ukurannya besar-besar, sampai ada yang 3 meter lebih. Nah taun 2000-an ini, jumlahnya tinggal 3000 (sumber). Kedengarannya memang masih banyak, 3000 gitu kan. Tapi bayangkan, 3000 itu bukan cuma di Indonesia, tapi dunia! Artinya, dari sekian luasnya dunia ini, cuma ada 3000 ekor komodo dan jumlahnya terus menurun di samping ukurannya juga mengecil. Katanya sih ini gara-gara habitat mereka terpepet bukaan untuk pemukiman penduduk, dan selain itu mangsa alami mereka, semacam rusa, juga sudah mulai berkurang jumlahnya (baca lebih jauh di http://www.komodonationalpark.org/ ) .

Balik lagi ke masalah 7 wonders tadi. Sekali lagi, tanpa bermaksud untuk kontra nih, coba pikir ulang sebelum memutuskan vote atau tidak. Kalau gak vote dibilang gak nasionalis, saya pikir itu berlebihan. Karena apakah vote itu bisa membantu melestarikan komodo? Gak juga 'kan. Simple-nya begini - ini cuma opini saya aja lho - kalau komodo jadi salah satu 7 wonders, mungkin komodo akan semakin dikenal luas di dunia sebagai 7 wonders dari Indonesia. Dengan gitu nama Indonesia keangkat, terus turis asing tambah pengen ke Indonesia, karena ada komodo. Lalu pendapatan negara akibat aktivitas turisme internasional ini meningkat, jadi taman nasional-nya bisa dibagusin lagi, diperbaiki fasilitasnya untuk mendukung pariwisata. Dengan begitu pulau Komodo jadi tambah kinclong, untuk obyek wisata. Sekali lagi, obyek wisata. Terus komodo-nya diuntungkan gak? Mungkin ya, mungkin tidak. Ya, karena stok makanan mereka mungkin nambah. Tidak, karena sifat komodo itu mudah stress, bayangkan mereka tiap hari dikelilingi jubelan manusia yang ingin melihat (obyek wisata nih, jadi cuma untuk melihat), bayangin gimana stresnya mereka belum lagi habitat mereka yang makin sempit. Kalau jadi obyek wisata, pasti nanti muncul kios-kios di sekitarnya, dan habitat yang sempit itu jadi tambah sempit. *CMIW please..

Ini bukanlah masalah vote atau tidak vote, aku gak ikut-ikutan soal ini. Tapi tolong diingat, pulau komodo ada untuk memfasilitasi pelestarian komodo, bukannya memfasilitasi komersialisasi tempat tersebut. Tonjolkan sisi konservasinya, bukan pariwisatanya. Komodo akan tetap jadi wonders, keajaiban dunia, terlepas dari apakah mereka termasuk yang 7 besar atau tidak.

Save them, do not sale them.

Catatan: Pembahasan tentang pro-kontra dari segi transparansi penyelenggaraan ada di sini.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!