20.4.20

Diselimuti Corona (Cerita Corona 1)

Sampai detik ini saya masih berharap bahwa Corona, sesuai definisi yang biasa saya tahu, adalah bagian dari matahari. Ia berada di lapisan atmosfer terluar serupa selimut bagi matahari. Kini, bersamaan dengan bergesernya makna corona yang kita tahu, ia tidak hanya sangat berbahaya, akan tetapi ia telah menyelimuti bumi. Membuat manusia-manusia menjadi sakit. Menular dan menjalar sangat cepat. Dan dikenal juga dengan nama Covid-19.

Add caption

“Hidup segan, mati tak mau”. Mungkin inilah istilah yang tepat untuk merujuk sifat virus secara umum. Karena, tanpa sel inang yang diserangnya, dengan perangkat hidup seadanya itu, dia akan dorman dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali kecuali adanya asam nukleat sebagai identitas genetiknya. Jika memahami konsep benalu misalnya, yaa kita tidak dapat menyalahkan sifat makhluk yang seperti ini. Memang begitulah sunatulloh-nya, begitulah cara mereka hidup. Dengan menumpang pada yang hidup dan akhirnya si inang ini memunculkan gejala penolakan berupa penyakit. Dalam hal Covid-19 ini, sesak nafas, batuk yang tak kunjung reda, dan lain-lain.

(Btw konsep “menumpang hidup” ini mirip seperti konsep virus dong, hi-hi).


Jujur saya sudah tidak terlalu mengikuti berita tentang Covid-19 lagi. Sejak diumumkan pasien zero di Indonesia 2 Maret 2020 lalu, rasanya semua menggelinding seperti bola salju. Membesar dan terus membesar. Belum jika ditambah isu dan hoax yang ikut terbawa menggelinding itu. Duh.. tentu awal-awal, sebagai ibu dari bayi yang belum genap setahun umurnya, mana bisa saya tenang-tenang saja?

Merinding kalau membayangkan saya harus berpisah dengan suami atau anak gara-gara makhluk tak kasat mata yang hidupnya saja ambigu ini. Namun semua telah dan masih terjadi.  Semoga kita dapat memaksimalkan ikhtiar dan do’a agar semua sehat tanpa cela.

No comments:

Post a Comment

WOW Thank you!