19.6.24

Sendu, Tiga Tahun yang Lalu

“Ibu sedang sakit keras. Saat ini dalam masa pengobatan. Mohon maaf tidak dapat membalas WA. Mohon do’anya agar beliau lekas sembuh.”

 

Demikian Status Whatsapp Ibu, 19 Juli 2021 pada Pukul 21.00 WIB. Ditulis oleh Eneng yang saat itu sedang di rumah Ibu, berdua saja dengan Aka anak laki-lakinya yang baru berusia 2 tahun.


Eneng mengetiknya sambil berurai air mata. Segera setelahnya, Eneng mengajak Aka untuk segera tidur di kamarnya. Ia tidak langsung memejamkan mata lalu tertidur nyenyak. Entah mengapa, malam itu rasanya ia diserang kekalutan. Tapi bagaimana pun, ia berharap semua baik-baik saja. Besok pagi ia dan Aka harus menyusul ke rumah Aa, tempat Ibu sedang mendapat pengobatan dari dokter langganan keluarga kakak iparnya malam ini. Besok Ibu harus dimandikan seperti tadi pagi sebelum berangkat. Hari-hari sebelumnya, ibu masih bisa bergerak sedikit. Mandi sesekali dibantu oleh Bibi kepercayaan ibu. Tadi pagi Ibu memang sudah tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan bernapas pun sulit. Tapi beliau masih bisa tersenyum dan membuka mata.

 




Empat hari sebelumnya, Eneng tiba bersama suami dan anaknya di rumah Ibu. Saat itu, PPKM  (1) sedang diterapkan di berbagai daerah menyusul berita memuncaknya kasus COVID-19 (2) di Indonesia. Imbasnya, setiap hari terdengar pengumuman kematian banyak orang melalui pengeras suara dari masjid-masjid. Jalanan kosong. Semua diam di rumah. Jika terasa sakit, mereka takut ke rumah sakit. Takut dinyatakan COVID. Tapi di rumah, pergerakan jadi amat terbatas. Mereka sedang menunggu sembuh, atau menunggu ajal, barangkali. Rasanya amat mencekam sebagaimana digambarkan dalam suasana film-film distopia, atau permainan komputer bertema kiamat mayat hidup.


Tak terkecuali di Desa tempat Ibu dan Bapa menetap. Setiap Eneng melakukan panggilan video dengan orangtuanya, selalu ada berita kematian baru. Hingga akhirnya, Ibu dan Bapa pun tumbang. Tiba-tiba saja mereka sakit. Padahal sudah menerapkan pembatasan fisik. Celakanya, tidak ada yang dapat mengurus mereka di rumah sebab PPKM ini. Kami semua sudah tinggal di tempat yang berlainan. Tidak ada yang serumah dengan Ibu dan Bapa. Mereka tidak dapat berpindah sebab pemerintah pun mengimbau demikian. Bagaimana Ibu dan Bapa bertahan? Mereka saling bahu membahu mengurus diri dengan tubuh yang sedang melemah, dalam usia yang mulai renta. Tak tega, akhirnya Ibu dan Bapa sempat diungsikan ke rumah Aa selama beberapa hari. Itulah pilihan yang paling masuk akal dibanding semuanya. Jalan ke rumah Eneng bahkan dihalangi karena PPKM. Tidak ada yang boleh masuk ataupun keluar dari tempat masing-masing. Ajang juga sedang ada bayi di rumahnya.


Eneng sempat mengirimkan obat-obatan serta vitamin ke rumah Aa. Namun, kurir terlambat mengirimkan. Ibu juga ternyata sudah kembali ke rumahnya di desa. Waktu itu memang segalanya sedang sulit. Eneng ingat pesan terakhirnya kepada Ibu saat menanyakan apakah kurir sudah tiba dan mengirimkan obat dimaksud, Ibu menjawab,


"Ah, tos teu mikiran kurir-kuriran ibu mah. Bade uih ka bumi, we. Karunya barudak Aa bisi katepaan. Mangkaning anak mah segala-galanya, 'kan?" (3)


14.6.24

Cerita Ibu-ibu Anak Dua Nyiapin Diri Buat LPDP Edisi 2024

Sebelumnya, disclaimer dulu, ya. Seperti saya ceritakan di tulisan sebelumnya, sebenarnya saya bukan awardee LPDP. Namun saya pernah melewati tahapan seleksi-seleksi awal beasiswa tersebut sebanyak dua kali di periode yang berbeda. Yakni 2016 dan 2024. Sayangnya, saya tidak berhasil melewati tahap wawancara di kedua seleksi tersebut.

Di tahun 2024, tahapan-tahapan awal dimaksud adalah:

  • Seleksi Administrasi - Berkas-berkas Pendaftaran
  • Seleksi Bakat Skolastik (TBS) - Mirip Tes Potensi Akademik (TPA)

Kedua tahap di atas tentunya tidak kalah penting. Jadi di sini saya mau berbagi sedikit mengenai hal-hal yang perlu disiapkan untuk tembus seleksi-seleksi awal LPDP. Khususnya untuk ibu-ibu yang masih punya anak balita (karena kemarin saya mencari-cari ini dan sulit banget nyarinya) dan lama tidak berada di bangku kuliah atau bekerja. Here we go.

1

Membaca dan Memahami Informasi dengan Seksama

Dalam satu tahun, biasanya ada dua periode LPDP yang pendaftarannya dimulai pada bulan Januari dan Juni. Sambil menunggu pendaftaran dibuka, Buibu bisa mulai dengan baca-baca booklet periode sebelumnya yang tersedia di situs utama LPDP secara seksama. Semua informasi yang berkaitan dengan tahapan LPDP, tertera di sana. Mulai dari persyaratan, tahapan, peraturan, juga daftar kampus tujuan baik dalam negeri maupun luar negeri

 

Berikut beberapa berkas yang penting untuk di-scan untuk mendaftar LPDP:

  • Sertifikat kemampuan bahasa Inggris (TOEFL ITP, TOEFL iBT, PTE, Duolingo, IELTS) - ini biasanya berbeda kebutuhannya antara kampus dalam negeri dengan luar negeri. Catat skor minimum yang diperlukan. Pastikan penyelenggara tes telah terafiliasi dengan ETS. Misalnya bisa dilihat di sini. Berlaku dua tahun.
  • Surat rekomendasi dari tokoh atau dosen. Ini ada formatnya, kok. Cek di booklet LPDP.
  • Pas foto.
  • Ijazah S1 berikut transkripnya.
  • KTP

2

Menentukan Kampus Pilihan

13.6.24

Tiket Menuju Slytherin

Suatu hari di awal Januari tahun ini, suami memberi saya uang saku lebih. Saya menggunakannya untuk mendaftar kuliah S2 ke salah satu kampus negeri di Jatinangor beserta seluruh persyaratannya. Mulai dari Tes Bahasa Inggris resmi dari kampus, TOEFL, Tes Potensi Akademik, bahkan membuat pas foto yang tentu saja tidak ada yang murah. Suami ridho karena memang dari awal sebelum menikah saya mengungkapkan bahwa suatu hari, entah kapan, saya ingin sekolah lagi. Namun tentu saja saya tidak ingin membebani keuangan keluarga untuk keinginan pribadi. Terlebih karena saya sendiri hanyalah seorang IRT yang kadang-kadang bekerja serabutan dari usaha kreatif kecil-kecilan. Makanya, untuk kedua kalinya setelah hampir satu dekade, saya pun mendaftar seleksi beasiswa LPDP. Setahun lagi, kesempatan saya akan habis mengingat usia yang sudah hampir tiga puluh lima. Jadi, saya kira, inilah saatnya.

Singkat cerita, semua prosesnya berjalan amat lancar dan Allah mudahkan sekali. Hampir semua sesi berlangsung secara daring. Suami mengambil cuti setiap ada jadwal seleksi, untuk manjaga anak-anak kami yang saat itu masih balita. Kadang-kadang, Bapa juga datang membantu. Alhamdulillah, saya pun lulus seleksi pasca sarjana di kampus tersebut. Nama saya sudah masuk sebagai calon mahasiswa baru 2024 dan tertera dalam surat kelulusan resmi dari universitas. Rasanya menyenangkan sekali. Sebagai orang dewasa yang lama tidak menginjakkan kaki di kampus, ini salah satu momen yang bikin self esteem saya lumayan naik. Saya juga telah mendapatkan beberapa kenalan baik dosen maupun tenaga kependidikan di kampus dan banyak berkomunikasi tentang rencana tesis saya di kemudian hari.

Bagaimana dengan pembiayaannya? Tentu saya sangat berharap pada LPDP ini. Tidak ada rencana kedua, ketiga dan seterusnya. Alhamdulillah, seperti beberapa tahun lalu, saya melaju hingga tahap akhir yakni wawancara. Dan di sanalah persisnya, saya kembali terpeleset.


 

Qodarulloh.

Rasanya sulit untuk dilukiskan. Jika diingat-ingat lagi, perasaan saya saat dini hari terbangun setelah mengintip pengumuman di situs LPDP saat itu, adalah, "oh ya sudah." Tidak heboh-heboh amat seperti yang lalu-lalu. Saya kembali tertidur sambil memeluk R, anak kedua saya yang sedang on progress disapih.

Di benak saya, setelah segala kehebohan ini, saya akan kembali menjadi IRT seperti biasanya. Kembali ke rutinitas awal dan, ya sudah. Tidak ada yang berubah. Karena kalau bukan rejeki, mau bagaimana lagi?

Biarpun begitu, satu dua hari setelahnya, saya terngiang-ngiang akan sebuah konten di media sosial milik salah satu dosen inluencer dari calon kampus saya. Bagaimana beliau mewawancara santai mahasiswa-mahasiswi pasca sarjana di kampus tersebut dengan sebuah pertanyaan:

"Mengapa lanjut S2?"

1.5.24

Berkebun; Kisah Filosofisnya

Setiap ditanya tentang hobi, sontak saya selalu menjawab: menggambar, membaca, dan menulis. Karena memang saya tidak punya hobi lain. Yah walau kadang-kadang, saya juga menonton serial drama, mendengarkan musik dan siniar, jalan-jalan, jajan, bahkan masak (yang gampang). Namun di antara sekian banyak pilihan hobi tersebut, ada dua kegiatan yang saya kira, amat tidak mungkin saya pilih: berolahraga atau berkebun. Saya amat lemah dalam bidang olahraga. Sementara berkebun, konon hanya orang yang sabar yang bisa (he-he). Adanya pandemi tahun 2020-2021 pun tidak mengetuk hati saya untuk mulai berkebun seperti yang lainnya. Lagipula saat itu saya sedang menjadi ibu baru dengan anak yang belum genap setahun. Saya merasa, dengan aktivitas itu saja saya sudah sangat sibuk.

Aglaonema maria yang mulai membaik pertumbuhannya.

Namun semua berubah saat saya mulai mengompos. Saya punya cukup banyak kompos hingga bingung mau diapakan kompos-kompos itu. (Tentang mengapa saya mengompos, saya akan ceritakan lain kali). Lalu ada beberapa pot tanaman bunga warisan almarhumah ibu yang sudah tidak karuan bentuknya. Padahal saat mereka pertama kali datang di bulan Juli 2021 lalu, mereka sangat subur dan terawat indah. Saya tidak tahu bagaimana harus memperlakukan mereka selain disiram! Jadi saya rawat mereka sekadarnya. Hanya jangan sampai mereka mati saja. Biasanya saya meminta bantuan Bapa jika merasa tanaman-tanaman saya mulai terlihat tidak baik (entah tidak baiknya itu apa). Bapa-lah yang akan mengerjakan sebagian besar aktivitas berkebun ini.


Nasib tanaman warisan Ibu di tangan saya selama beberapa bulan pertama. Menyedihkan.
Nasib tanaman warisan Ibu di tangan saya selama beberapa bulan pertama. Menyedihkan.

Hingga suatu hari, saya menaruh beberapa biji bunga telang di tanah begitu saja. Serta beberapa bibit kangkung. Ternyata setelah beberapa pekan, mereka tumbuh. Saya dibuat kaget dan kagum. Dari sebongkah biji-bijian, bisa tumbuh menjadi tanaman dengan batang dan daun sejati. Sangat rewarding. Maka begitulah. Tahun ini, saya bisa bilang, kalau saya mulai jatuh cinta dengan berkebun.


20.3.24

Enggak Apa-apa, Pengalaman

Ada sebuah fakta unik. Saya tidak mengetahui arti dari kalimat itu hingga baru-baru ini. Kalimat ini biasa dilontarkan pada saat seseorang merasa perlu menghibur orang lain yang ditimpa kegagalan atau kekalahan. Seperti tidak juara lomba menggambar, tidak menang lomba cerdas cermat, tidak lulus LPDP, dsb. Saya tidak merasa kalimat itu mempunyai arti tertentu. Oke. Pengalaman. Lalu apa?

Serius. Belakangan, kalimat itu tiba-tiba mengemuka berkat keisengan amygdala saya. Lalu setelah saya menelaah artinya, ternyata ia bermakna lebih dalam dari yang biasanya saya kira (dan abaikan).


Mari kita urai.


Pernah mendengar kiasan bahwa “pengalaman adalah guru terbaik” bukan? Ini ada kaitannya. Biasanya, segala pengalaman, akan dianggap kenangan belaka. Entah manis, entah pahit. Tidak semua akan menempel lekat-lekat di kepala (atau amygdala). Nah, pengalaman yang hadir berkat kegagalan seseorang, punya efek yang spesifik. Ia bisa jadi:

  • batu sandungan, atau
  • batu loncatan

Menjadi batu sandungan ketika kita “kapok” karenanya. Pastinya ada beberapa pengalaman gagal yang membuat kita enggan mencoba lagi. Misalnya karena membahayakan diri. Seperti gagal mengambang di kolam renang. Atau gagal menjaga keseimbangan saat memegang setang sepeda lalu menyebabkan orang yang dibonceng terperosok ke lumpur di sawah. Beberapa orang bisa terpengaruh begitu dalam hingga di kemudian hari tidak mau berenang lagi. Atau memegang setang sepeda lagi.


Namun dapat menjadi batu loncatan pada saat seseorang yang gagal lalu belajar dari pengalamannya. Mengingat kembali, mengevaluasi apa yang salah hingga kegagalan itu menjadi kesimpulan atas apa yang dialami. Lalu mencoba agar tidak membuat kesalahan serupa agar tidak ada kegagalan yang sama. Seperti ujian matematika waktu SMA. Betapapun tidak sukanya, kita perlu lulus supaya bisa melenggang ke tahap selanjutnya. Makanya kita mengingat-ngingat soal apa yang keluar. Lalu berlatih dengan soal-soal yang serupa. Agar tidak gagal lagi saat mengulang ujian.


Kemudian saat akhirnya berhasil, kita jadi mengerti mengapa orang berseloroh “tidak apa kalau gagal, jadikan pengalaman.” Iya. Mereka mungkin sekadar berbasa-basi. Namun kita yang mendengar perlu menganggapnya sebagai amunisi. Agar meratapi kegagalan secukupnya saja. Lalu menjadikannya pengalaman yang berharga (baik ataupun buruk).


Karena di usia saya yang sudah tiga puluhan ini, saya amat setuju bahwa ia benar-benar guru terbaik. Ia memicu kita untuk bergerak lebih baik. Mengambil keputusan bijak. Sumbernya tidak harus kegagalan pribadi. Ada banyak cermim dari berbagai pengalaman orang sekitar lewat buku dan obrolan (atau media sosial). Hmm, ternyata bahan belajar kita bisa banyak sekali.

29.2.24

Refleksi Singkat di Tahun Kabisat (Mumpung Sempat)

Tidak ada tema khusus hari ini selain karena tanggal 29 Februari tidak terjadi setiap tahun. Tapi, serius deh. Memang, sejak rutinitas saya berkutat seputar per-stay-at-home-mother-an untuk dua balita laki-laki ini, rasanya energi sudah habis di pengujung hari, kalau mesti nulis yang sulit-sulit. Hingga kalau ada waktu kosong ya minimal scroll instagram gitu. Cek-cek reels viral yang bikin FOMO. Atau, nonton drakor. Sesuatu yang amat jarang dilakukan, namun kalau sudah kecebur suka sulit dihentikan. Makanya terakhir saya ngedrakor itu mungkin pas The Glory tayang (September 2023?). Setelahnya malas berkomitmen dengan drakor apapun.



Anyway, ibarat serial, saat ini arc cerita hidup saya sedang berada di area SAHM dan Anbuhood. Jadi punten nih, mungkin kali ini saya akan cerita tentang itu lagi itu lagi.


Kali ini, tentang “kesempatan”. Bukan sembarang kesempatan. Melainkan tentang ruang untuk bisa belajar dan berkembang.


12.1.24

Being Thirty For A While

“How old are you?”

“Thirty’s”

“How long have you been thirty’s?”

“A while..”

(Bella to Edward on Twilight, 2008).

Pfft of course I modified it because I am actually double of Edward’s legal age by now.

I’ve been meaning to rant a lot about this since a long time ago - that time of the moment of truth happened when I was reminded that I’m no longer that youngest gurl in class. In my past, I was known for being the youngest of them all. Or second youngest. That’s why the feeling of being the oldest is quite new to me. And I was like, oh this is how it feels.

So several months ago, I noticed on the Instagram that a book fair would be held publicly somewhere in Bandung. And they were opened for volunteers. One of the position available was social media contributors. Well I am a social media contributor in a non profit community so I was thinking that maybe the job was fit for me. But my situation was that I have two toddlers with me and I have no ability to be mobile. So then I asked the contact person about my situation and whether if it was okay if I join the volunteer team. I’ve got no reply so I was understand that it was a no. I moved on then.

Several weeks later, our community had an opportunity to give a talk on the main stage on that book fair. Since I was on the social media team, I had to present to take photos and videos to be reported on our Instagram. I was in charge to contact the officials of the book fair, too, and after the event was ended, I thank the officials and later I realized that she was the contact person I mentioned earlier. She was the first to notice and guess what did she said to me?

“Oh, hi, Ma’am. I remember you were applying to be social media volunteers on this event. So sorry for not replying, we were hectic at the moment and as you can see here, the volunteers are mostly college students.”

Boom! I looked around and noticed that was true lol. Gosh I giggled noticing how silly I was. I also had this sudden urge to runaway to check my IDs to see what year my birthday again lol. Really I didn’t see it coming. I went home with some overthinking feeling lingering in my head. Silly me.

Andddd that was the moment I realized that on your 30s, you didn’t really have a chance to start fresh. Like, people hope you are half way there. In everything. A successful business owner with zillions in your bank account. A manager assistant in a big corporate career ladder. Mom of preteens or elementary schoolers. Start a franchise. Finish a master degree or two - even start to pursue PhD. Purchased another property. Had at least one designer bag. The list could be going on and on.

(At this point why I am still surprised that people do mind some timeline for other people).

Lucky for me I have a circle that happened to be the same age and that quite keep me sane. Like when we found a job recruitment flyer and it was stated that applicants should not be older than 25. God it was laughable but sad at the same time. Especially for a mom that have a gap year after her career break to look after the babies. Do we even really have a chance to “come back”?

An old friend earlier today asked me about my biggest dream. Ten years ago I probably list a bunch of places I want to go to, subjects I want to learn, shoes I want to purchase, and even getting a degree - which was I tried and failed once. But today when I contemplate the answers, I ended up awake at this hour. What is actually my dream? Is it okay to have a dream, while you have responsibilities that occupy your top priorities list now?  Is it okay to be selfish? Or what is selfish means again? Because the answers may vary.

Then I also remembered that my late mother had her first course as MUA in her 38 while had us three children. She pursued her career dream just in time because after many years of networking, she had a lot of clients after that. And also to note that, my father was very supportive. We had this ups and downs when we were kids but our parents didn’t give up that easy.

Well, so we came of that kind family. 

10.8.23

Drama Ibu Rumah Tangga di Era Informatika

Ini yang sering saya katakan dan masih bertahan sampai sekarang: saya tidak pernah merasa cocok menjadi ibu rumah tangga (saja). Hingga kini, saya masih merasa “wajib” untuk punya kehidupan dan peran lain di luar kerumahtanggan. Jika ditanya alasannya, mungkin karena saya sekolah cukup lama (ha-ha), pernah menjadi perempuan pekerja cukup lama, dan ada harapan orangtua yang mengimbau saya untuk berbuat “lebih”.



Sekolah Cukup Lama

Taman kanak-kanak 1 semester, ditambah 11 tahun pendidikan dasar dan lanjutan, serta 4 tahun di strata 1. Di rumah, layaknya para orangtua generasi boomers lainnya, kita para milenial tidak banyak dituntut untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Yang kita kerjakan betul-betul minimal, ya ‘gak sih? Cuci baju seragam sekolah, sepatu, dan ngepel lantai sepekan sekali saja sudah cukup.

Masa kecil dan lingkungan yang demikian membuat saya merasa bahwa saya benar-benar tidak dipersiapkan untuk menjadi IRT.

20.7.23

Dua Tahun Setelah Itu

Kaget, deh. Ternyata postingan tahun lalu adalah tentang "Satu Tahun Berpulangnya Ibu". Lalu saya tidak menulis apapun sampai setahun setelahnya. Benar. Sekarang dua tahun setelah ibu pergi. Kini, perasaan sesak itu masih terasa. Agaknya kita memang tidak dapat benar-benar berhenti berkabung untuk kepergian orang yang betul-betul kita sayangi. Terutama ketika memori tentangnya terus berseliweran di benak. Seperti ada hal-hal yang belum selesai. Namun bagaimana menyelesaikannya kini? Saat beliau sudah tak dapat kita ajak komunikasi lagi.


Dalam dua tahun ini, ada beberapa hal yang saya sering pikirkan. Misalnya:

Mengais-ngais Kenangan

Gambaran saat empat hari sebelum Ibu berpulang sulit saya hilangkan dari hati dan kepala. Saat itu saya tidak pernah menyangka bahwa empat hari itu adalah waktu yang betul-betul tersisa untuk saya dapat berbakti secara langsung kepada beliau. Penyesalan berikutnya tentu, kenapa waktu itu saya tidak bermanis-manis? Tidak berusaha lebih?

14.7.22

Hal-hal yang Berubah Setelah Ibu Pindah

 


  1. Tidak ada tempat berbagi kerandoman dan keabsurdan. Misal betapa lucunya kucing gendut berbulu panjang yang kebetulan papasan di jalan. Atau membicarakan betapa anehnya pilihan busana seorang selebriti.
  2. Menghilangnya tempat membanggakan diri. Atau bragging. Dengan orang lain, kesombongan serupa tidak akan didukung ataupun dipuji. Mungkin mereka akan muak. Tidak ikut bangga seperti ibu.
  3. Melihat baju bagus di sebuah toko lalu menyadari betapa mahal - dan kemungkinan tidak pas ukurannya di badan - harganya. Biasanya aku akan langsung berpikir bahwa ibuku bisa menjahitkan sesuai seleraku - dengan ukuran yang selalu pas. Atau dilonggarkan sedikit dengan sengaja.
  4. Tidak mungkin bisa makan masakan rumahan yang enak yang rasanya nyaman seperti masa kecil. Ya gimana. Resepnya ‘kan cuma ibu yang tahu. Takarannya pun akan berbeda jika aku buat sendiri. Masakanku tak pernah lebih baik darinya.
  5. Makan bolu istimewa buatannya. Ibu pernah janji mau berbagi resepnya.
  6. Mengerti tentang makna dari berbagai kata atau kalimat bahasa Sunda yang jarang digunakan. Termasuk istilah babasan dan paribasa.
  7. Membaca puisi-puisi Sunda buatannya. Menjelang pindah, beliau menulis lebih sering. Jiwa melankolisnya menggebu. Selalu sedih tiap kali mengingatnya.
  8. Kehilangan satu orang yang akan selalu berkata “ya” saat kuajak bepergian ke manapun. Tak peduli betapa lelah atau kurang sehatnya ia.
  9. Kritik membangun yang sering disampaikan dengan cara nyelekit. Tapi semua benar pada akhirnya.
  10. Orang yang punya banyak pertanyaan dan tidak ragu belajar hal baru - terutama sosial media. Jika saat ini ibu berusia dua puluhan, mungkin beliau aktif di situ. Kepribadiannya memang sanguinis dan extrovert.
  11. Tidak seperti Raka, Ryu tidak kebagian merasakan eyong-eyong yang diiringi solawat dalam langgam Sunda-nya yang khas.

Dst.
Setahun engkau pergi. Keberadaanmu terasa semakin jauh. Namun kenangannya, aku berjanji, akan tetap lekat di hati cucu-cucumu ini.

28.6.22

(Akhirnya) Ngobrolin Resign

Sebenarnya, saya tuh paling malas kalau harus membicarakan resign. Karena menjadi perempuan karier adalah bagian dari masa lalu saya yang sering ketika disinggung lagi, saya jadi pengen balik ke sana (he-he). Ya gimana. Media sosial menampilkan berbagai sisi berkilauan nan menggiurkan dari teman-teman saya yang masih bertahan di sana. Yang lagi-lagi, bikin saya membayangkan andai saya masih di sana, saya akan jadi seperti apa?

Apakah masih jadi ibu-ibu yang (katanya) passionate dengan karier? Atau ibu-ibu yang menutup diri dari pergaulan kantor karena memang seperti itulah saya? Apakah saya juga masih misuh-misuh memikirkan kompetisi politik kantor yang selalu tidak mampu saya tembus? Apakah anak-anak saya senang dan bahagia bergelimpangan fasilitas mevvah (yang saat ini sederhana namun cukup)? Apakah saya tidak perlu khawatir akan biaya sekolah anak-anak (biar satu circle dengan anak sultan) di masa depan? Apakah anak-anak saya tumbuh baik dalam asuhan nenek & kakeknya? Dan, apakah suami saya ridho?

Apakah Alloh ridho?



Saya tergelitik membahas ini karena memang ada beberapa teman yang bertanya kepada saya, seperti apa rasanya resign. Hanya satu dari tujuh orang itu, yang benar-benar resign pada akhirnya. Jadi saya sangsi, apakah saya benar-benar bisa menjawab dengan baik? Ha-ha. Atau, apakah saya terlihat begitu tidak meyakinkan, sehingga tidak bisa dijadikan contoh penyintas resign? Ya gimana. Saya mah pragmatis, euy. Makanya, disclaimer nih: anda mungkin tidak akan mendapatkan sesuatu yang wow dari tulisan ini. Termasuk gambaran berlebihan tentang bahagianya menjadi IRT, betapa damainya hidup di rumah saja, atau betapa berbunga-bunganya waktu saya bersama keluarga.


Aku ‘gak gitu, Adik-adik.


17.6.22

Kamilia, Aril dan Cerita Wisudaku (yang Sebenarnya Tidak Ada Hubungannya)

Kamilia adalah anak SMA biasa. Baru lulus dan wisuda kemarin. Foto-fotonya yang sedang tersenyum bahagia di hari kelulusannya itu ramai di lini masa berbagai sosial media dan harian daring. Selempang bertuliskan “siswa berprestasi” dikenakannya dengan bangga. Menambah keren penampilannya. Meski begitu, sebenarnya Kamilia masih berduka. Duka yang dalam sekali. Beberapa pekan lalu, Aril, saudara kandung kesayangannya, meninggal dipeluk derasnya sungai saat mereka tengah liburan sekeluarga.

Aku ikut bahagia melihat Kamilia lulus SMA. Agak menorehkan haru dan nostalgia. Tentu bukan karena ia adalah junior SMA-ku. Hanya saja, aku membayangkan sebuah duka. Sebuah empati untuknya yang dilanda luka.




Enam belas tahun yang lalu.


Saat itu pesta kelulusan SMA. Ibu hadir dan berbaik hati membawakan tas besar yang berisi baju ganti untukku. Aku tidak langsung mengenakan kebaya dari rumah karena tentu akan menarik perhatian. Ditambah riasan wajahku yang menor dengan lipstik yang disapukan terlalu banyak dari luas bibirku sebenarnya - aku merasa seperti boneka Bratz waktu itu (atau Joker? Ha-ha). Untung ada ibu.


Awalnya, aku menikmati pesta kelulusan itu sambil ikut bertepuk tangan untuk teman-teman sekelasku yang berprestasi. Ada yang dipanggil ke panggung karena mendapat nilai UN tertinggi. Ada yang diumumkan namanya karena telah diterima sebagai mahasiswa di universitas negeri ternama. Ada juga yang mendapat beasiswa kedokteran dari perusahaan swasta di tempat tinggalnya. Aku tidak mendapat apa-apa. Tidak dipanggil sebagai apa-apa. Hanya satu orang biasa dibandingkan ratusan murid yang lulus.


20.11.21

Berbenah Cara Gemar Rapi

Pada umumnya, cara berbenah yang sudah ada, mempunyai beberapa kelemahan yakni:

  • Hanya menata tanpa mengurangi barang. Tidak ada decluttering.
  • Merapikan hanya agar enak dilihat - tidak ada usaha mengubah pola pikir, gaya hidup maupun kebiasaan.
  • Jikapun ada proses decluttering, pemilahan hanya didasarkan pada pertimbangan suka dengan tidak suka.
  • Tidak selaras dengan alam.
  • Sekadar bersih dan rapi tanpa memperhatikan kebutuhan penghuni rumah (ingat, rumah adalah ruang aktif).
  • Kurang memperhatikan faktor keselamatan dan keamanan.

Ujung-ujungnya. berbenah yang seharusnya menyenangkan dan dilakukan terus-menerus. menjadi sebuah sumber tekanan (stress) dan rumah tetap berantakan tanpa ujung.

Sementara metode Gemar Rapi yang saya ikuti ini mengutamakan pendekatan spiritual yang berupaya mengubah pola pikir sehingga "rapi" bukan hanya menjadi kata sifat. Namun menjadi sesuatu yang disenangi. Termasuk dalam aktivitas berbenahnya.

Ngomong-ngomong, ada DELAPAN pilar metode gemar rapi yang perlu diperhatikan. Di antaranya:

1

Dilakukan oleh Pemilik Barang

Tahu, tidak? Saya termasuk orang yang sangat-sangat memelihara privasi terhadap barang-barang saya. Zaman kecil, hal seperti itu sangat bisa jadi bahan perpecahan antara saya dan adik saya (he-he). Karena adik saya juga jahil banget (waktu itu), saya tidak pernah bisa percaya saat ia masuk ke kamar saya sendirian. Entah meminjam apa, atau menolong mengambilkan barang sekalipun. Soalnya sering sekali ada barang yang ia sembunyikan. Karena saat itu saya sangat berantakan dan sering lupa akan barang-barang yang saya punya, juga tempatnya berada, jadi saya baru akan sadar setelah beberapa pekan - bahkan bulan - kemudian. Itu menyebalkan, sih.

15.11.21

Meruntuhkan Label Tidak Suka Rapi, Mungkinkah?

Saya selalu yakin bahwa di dunia ini tidak ada seorang pun yang tidak suka pada segala sesuatu/keadaan yang rapi. Permasalahannya adalah apakah orang ini mau atau tidak melakukan aktivitas rapi-rapi ini? He-he. Di masa lalu, saat masih sering dinas ke luar kota dan tinggal beberapa hari di sebuah hotel, rasanya kamar hotel nyaman dan menyenangkan karena setiap kita kembali dari luar, ia telah rapi. Tentu saja karena room boy yang budiman telah berjasa merapikannya. Kini setelah berumahtangga ketika masalah rapi-rapi ini menjadi tanggung jawab bersama sekeluarga, kemewahan seperti itu sudah tidak ada lagi. Kita perlu menjadi room boy untuk diri sendiri (kecuali anda Bruce Wayne yang punya "room boy" pribadi bernama Albert). Jika tidak punya kesadaran untuk mengambil alih tugas rapi-rapi, selamanya rumah tidak akan rapi.

Tidak rapi, rasanya tidak menyenangkan.

Pola pikir yang kaku (fixed mindset) tidak diperkenankan muncul di sini. Kita sering sekali mendengar orang-orang memaklumi diri sendiri dengan mengatakan hal-hal semacam:

Ah, aku mah orangnya gini.

Ah, aku 'kan emang gitu.

Ya gimana, 'kan aku orangnya berantakan.

Saya belajar (terutama) dari suami saya sejak menikah bahwa hal-hal semacam itu tidak memberdayakan karena semakin diulang-ulang, ia akan menjadi sebuah label. Menjadi penghalang untuk berkembang. Kita tentu ingat kisah gajah yang dirantai selama bertahun-tahun hingga ia tidak bisa kabur. Tiap kali mencoba kabur, kakinya akan terluka. Kemudian ketika suatu hari rantainya dilepas dari pengikatnya, gajah ini tetap tidak berusaha kabur karena telanjur merasa bahwa kabur akan membuatnya terluka. Kasihan, ya, gajahnya.

31.10.21

Sahabat Sebelas Tahun

Sahabat. Konon hubungan dengan mereka bisa jadi lebih dekat dibanding saudara atau keluarga sendiri. Kita terhubung dengan mereka, bukan karena memang harus atau telanjur (seperti pertalian darah, pernikahan, agama atau organisasi, mungkin?). Kita tidak tiba-tiba melihat orang yang berkilauan dan populer lalu memutuskan menjadi temannya - saya biasanya tidak begini karena mereka membuat saya gugup. Tetapi kejadiannya lebih seperti, like dissolves like. Sesuatu yang bermiripan, entah kenapa sering tarik-menarik begitu saja. Saya menemukan beberapa orang seperti ini di setiap jenjang kehidupan.

Yang mengecewakan, unsur ketertarikan ini kadang tidak bertahan lama. Jika di SMA, kita terhubung oleh kesukaan akan musik-musik Hip Hop atau manga yang dibaca, setelah dewasa dan jarang bersua, hal ini luntur seiring waktu. Padahal waktu itu rasanya kita dekat sekali. Tidak mungkin "bercerai". Kita cerita apa saja. Bahkan rahasia tergelap sekalipun. Menyebalkan jika harus berpisah dengan orang seperti ini, bukan? Suatu hari, saya mencoba berintrospeksi dan mengambil inisiatif. Kita tak boleh begini, pikir saya saat itu. Mungkin saya yang abai. Hingga saya memberanikan diri berkunjung dan bertanya pada salah satunya. Ia berkata,

"Semua orang memang begitu, bukan? Usia tiga puluhan tidak lagi membicarakan semuanya. Tidak juga bertemu semaunya. Masa remaja sudah lewat."

Sejujurnya, saya tidak ingin mendengar jawaban seperti itu. Terlalu menyedihkan untuk dihadapi hati saya yang rapuh. Seperti kenyataan yang terlalu pahit untuk pangkal lidah saya. Hingga saya berusaha menelannya bulat-bulat agar ia melompati bagian itu. 


Lalu saya sadar bahwa saya telah melakukan ini kepada blog saya.

7.8.21

Setelahnya, Jarak Terjauh Adalah Waktu

Hampir setiap malam saat aku terbangun dini hari (atau tengah malam buta, sebenarnya) aku teringat dan khawatir tentang ibu. Sedang apa ibu di sana? Apakah ibu tersenyum? Apakah bahagia? Apakah wajahnya bersinar seperti terakhir kali kami melihatnya? Apakah ibu makan dan minum? Apakah Alloh menampakkan hal-hal yang baik kepadanya?

Ya. Soalnya aku percaya akan adanya kehidupan setelah mati. Di Islam kami menyebutnya alam barzakh (kubur). Dan ketika rindu, aku tentu harus menunggu adanya hari akhirat. Dalam hitungan waktu manusia,  ia terasa sangat jauh. Ada banyak tahapan menuju ke sana. Bahkan hasilnya belum tentu baik. Belum tentu sama untuk semua orang. Kini setelah meninggalnya ibu, aku sangat penasaran apakah kami akan bertemu lagi suatu saat nanti? Aku memang menantikan reuni dengan ibu. Tapi sekali lagi. Tahapannya masih banyak.

21.7.21

Mimpi yang Sangat Panjang

Rasanya sesak, Bu. Tapi Eneng berusaha tidak menghambur-hamburkan air mata lagi.

Ini malam pertama Ibu di rumah baru. Bagaimana di sana, Bu? Eneng harap di sana luas, lapang, terang. Karena Ibu baik sekali. Semua setuju. Eneng juga. Eneng bersaksi seperti itu adanya.

Mengapa saat Ibu di sini, Eneng mengingat perdebatan-perdebatan sengit kita yang hampir setiap hari ada? Kita sama-sama gigih mempertahankan sesuatu yang keluar dari ujung lidah. Tapi Eneng sering terlalu gigih. Padahal hati ibu sering luka karenanya. Mengapa saat Ibu ada, Eneng sering buruk sangka dengan Ibu? Rasanya hati ini dulu rapuh sekali. Peka. Selalu ada rasa ingin menyalahkan. Baik itu tindakan yang Ibu lakukan kemarin. Pekan lalu. Bulan lalu. Tahun lalu. Puluhan tahun lalu.

Memang sekurangajar itu Eneng. Tapi Ibu sabar. Sangat sabar. Rasanya belum ada yang mengenal Eneng sebanyak dan sedalam Ibu. Empati itu baru datang beberapa pekan lalu, Bu. Saat Eneng akhirnya paham mengapa Ibu melakukan ini dan itu. Yang biasanya Eneng kecam dengan kejam. Lupa bahwa ibu dan Eneng terpaut jarak dua puluh enam tahun jauhnya.

Bu. Anakmu ini sekurangajar itu.

Sekarang Eneng masih berusaha tidak nangis. Oh, pipi yang basah di kiri kanan ini? Tidak, Bu. Mungkin ini sisa-sisa siang tadi. Atau Eneng memang tidak sengaja menumpahkan sedikit barusan. Pahit, Bu. Semua hal di sini berisi penuh tentangmu. Rumah ini adalah Ibu. Segalanya tentang Ibu.

Tahu tidak, saat Ibu pergi kemarin. Semua menggemakan takbir di mana-mana. Setengah malam tidak sepi sama sekali. Ibu suka suasana ramai dan hangat, bukan? Alloh Baik Sangat, Bu. Alloh beri itu ke Ibu kemarin. Eneng yakin saat ini pun begitu. 

Terang. Lapang. Hangat.


Bu. Ini hanya mimpi yang terlalu panjang, bukan? Karena rasanya masih seperti itu.

20.7.21

Bu.

Sedu sedan itu belum menguap
Sejumlah luka menganga membawa pengap
Kuangkat lembaran jarik itu sedikit, penuh harap
Namun tak ada gerak atau detak berderap

Sedang jantungku berdegup keras-keras
Bolehkah kubagi beberapa detakan saja?

Dan tengoklah suamimu menggigil pilu
Di ujung kakimu, menahan napas
Ditopang tangannya yang mulai kebas

Takbir lebaran haji masih bergemuruh. Magis
Kabut gelap berpendar menyambut pagi penuh tangis
Orang-orang mulai berdatangan membawa kain putih dan keranda penuh bebungaan
Kubayangkan kita seharusnya solat Id lalu bermaafan
Setelahnya mengusap air mata sambil berpelukan
Sesuatu yang jarang kita lakukan

Aku tidak pingsan, Bu
Hanya sangat pincang

Bu.
Aku rindu

(10 Dzulhijjah 1442 H pukul 00.18)

10.1.21

Let's Read: Bawa Ia Ke Dunia Nyata Bersama Si Kecil

Dewasa ini, kita sudah sering mendengar anak bayi yang "diasuh" gawai sementara orang tuanya pontang-panting menyelesaikan pekerjaan kantoran (yang kini dibawa ke rumah berkat pandemi), atau tugas domestik si perfeksionis dimana masakan di rumah harus terdiri atas empat macam dan semua baju harus tersetrika rapi. Padahal, menikmati gawai sebelum usia mereka dua tahun, sebetulnya tidak disarankan sebagaimana dilansir oleh WHO .




Bagaimana dengan Faruki?

Jujur saja. Faruki sudah nonton TV sejak usianya delapan bulan. Tidak benar-benar menonton, tentunya. TV hanya menyala saja di rumah sebagai suara latar. Supaya kami tidak benar-benar merasa hanya berdua saja saat Appa-nya kerja. Lalu di usianya yang ke lima belas bulan, ia mulai kenal laptop dan Youtube. Bermula dari akal-akalan Anbu supaya ia mau makan. Iya, iya. Memang ini salah. Bermain bersama sudah paling bagus, setuju?

Saat ini saya sedang merasakan pahitnya permisif terhadap gawai - yang walaupun tidak berlebihan, namun tetap terlalu dini - dimana Faruki belum mempunya kosa kata sebanyak anak lain yang seusianya menurut milestones tumbuh kembang. Padahal sejak hamil, kami membacakan buku untuknya. Saat ia masih bayi pun, ia disusui sambil dibacakan buku. Sekarang pun masih ada rutinitas membaca buku setiap harinya. Lalu, kenapa semua rasanya runtuh gara-gara sebongkah gawai saja?

28.4.20

Seru Adalah Persepsi yang Dapat Diatur (#diamdirumah 2)

seru1/se·ru/ n 1 panggilan (untuk memanggil, menarik perhatian, dan sebagainya); panggilan dengan suara nyaring: “Mat”, -- si Jamin; 2 ujaran yang biasa digunakan dengan penegasan atau intonasi tinggi seperti ketika marah;

(KBBI)

Kalau disuruh menyebutkan apa yang seru, yang dapat dikerjakan di rumah selama pandemi dan PSBB ini, saya jadi balik ke definisi kata "seru" itu sendiri. Yang ternyata artinya antara "panggilan nyaring" atau "ujaran tegas". Luar biasa ya. Dan kalau baca-baca artikel tentang psikologi, ternyata merasa "seru" (excitement) itu berkaitan dengan rasa takut, lho. Namun areanya lebih positif. Pengubahannya pun bersumber dari kepiawaian kita mengubah takut menjadi seru. Dengan pembingkaian ulang (reframing) pola pikir.

Iya. Sumbernya ternyata pola pikir kita juga.


Dalam masa pandemi ini, seperti saya pernah bahas, beberapa orang sudah terlanjur berada di kubu panik. Tentu panik ini apalagi sumbernya kalau bukan: Takut. Takut tertular dengan tidak sengaja, takut tidak cukup bersih, takut kehabisan stok pangan, takut kehabisan ide berkegiatan (di rumah).. dan sebagainya. Yang ternyata segala ketakutan ini dapat diubah menjadi keseruan tersendiri. Takut tertular: Seru rasanya mempersiapkan hal-hal yang dapat mencegah tertular, dan membeli APD (Alat Pelindung Diri) yang lucu-lucu di pasaran. Takut tidak cukup bersih: Seru rasanya meninjau ulang cara mencuci tangan dan membersihkan sudut-sudut rumah - Google punya semuanya. Takut kehabisan ide berkegiatan (di rumah): Seru memikirkan hobi baru yang dapat dikerjakan di rumah; juga bercengkerama dengan keluarga yang jarang kita sapa karena kesibukan bekerja.