Wednesday, January 27, 2016

Menua

Apakah mungkin Kenangan hanya fasilitas yang diciptakan Waktu untuk menghukum manusia? - Sabda Armandio, Kamu Cerita Yang Tidak Perlu Dipercaya (2015).
Kadang-kadang saya mikir, gimana rasanya menjadi tua? Dimana kamu tidak punya banyak kemampuan yang tersisa yang biasanya kamu ahli. Dimana kamu sudah gak mampu ke mana-mana, sakit, lemah, dan ruang gerak kamu menjadi terbatas. Kamu yang biasanya lincah, pengembara, aktif, tiba-tiba ruang gerakmu dibatasi menjadi di sekeliling rumah saja.

Menjalani rutinitas terbatas setiap harinya, maha membosankan namun memang tidak ada hal baru yang bisa kamu lakukan - bahkan diingat secara jangka panjang. Oleh karenanya bertahun-tahun kamu menjadi tidak punya pengalaman baru, dan satu-satunya obrolan yang bisa kamu bagi hanyalah kenangan yang kamu masih ingat jelas. Kenangan yang tersimpan lama, jauh sebelum kamu menua, jauh sebelum kamu berhenti lincah, mengembara, aktif, dan jauh sebelum ruang gerak kamu dibatasi. Yup. Pada akhirnya yang tersisa hanya kenangan.

Memory, Agent Starling, is what I have instead of a view - Hannibal Lecter, in The Silence of The Lambs (1991).
Ini dimulai saat saya mengamati nenek saya di rumah. Usianya sudah di atas delapan puluh. Penyakit beliau sudah bermacam-macam sekali. Untuk berjalan pun beliau sudah susah. Sejak belasan tahun lalu beliau sudah tidak pernah ke mana-mana lagi. Ruang gerak beliau jadi terbatas sekali. Rumah. Ruangan ke ruangan. Halaman depan. Sudah. Begitu pun orang. Hanya bertemu anak dan cucu setiap hari. Tetangga sesekali. Tukang gorengan yang mampir beberapa hari sekali. Dipanggil cuma kalau pingin jajan.

Yang bikin sedih bukan hanya terbatasnya ruang gerak, akan tetapi juga pembicaraan dan pengalaman. Manusia datang dan pergi. Keluarga, tetangga, tukang gorengan, mereka bergerak bebas dan memperoleh banyak pengalaman baru yang bisa diceritakan. Tapi nenek tidak bisa mengobrol banyak dengan mereka. Tidak ada pengalaman baru. Yang teringat hanya pengalaman yang didapat dari TV (namun pendengaran beliau yang menurun membuatnya sulit mengobrol cerita dari TV dengan baik), atau pengalaman masa muda, yang pastinya semua orang sudah dengar. Keluarga, tetangga dan tukang gorengan pun bosan. Kasihan sekali. Pendengar bosan, nenek sedih. Tapi apa mau dikata, nenek cuma punya kenangan.

Sumber.
Mirip keadaan saya di masa-masa tertentu. Iya. Cuma bisa mikirin kenangan. Takut melangkah. Kayak nenek-nenek yang terjebak dalam wanita usia dua puluhan.

Ada saat-saat dimana saya ngerasa luar biasa malas. Menambah pengalaman baru rasanya terlalu menguras energi. Kemudian yang saya bisa ingat cuma kenangan. Kayak nulis dan ngobrol juga. Saya baru sadar, ternyata saya sudah terlalu banyak "mengenang". Menjadikan memori di masa lalu sebagai obrolan, lagi dan lagi, sampai mungkin orang yang mendengar jadi bosan. Di titik itu saya jadi merasa seperti sudah tua. Okelah gak diobrolin. Tapi alam bawah sadar terus-menerus menggali kenangan. Kayak gak bisa bosan secara tidak disengaja.

Sebegitu tidak menarik kah masa kini, atau sebegitu menakutkannya kah masa depan itu, sampai-sampai yang bisa kamu gali hanyalah masa lalu dengan cerita lama bernama "kenangan"?

Sumber.
Enggak. Beberapa kenangan memang sulit dilupakan. Ada saat dimana kamu akan terus mengingat dan menceritakannya, sampai orang yang dicekoki ceritamu bosan kemudian pergi. Parahnya, kamu juga sering menceritakannya pada suara-suara kecil di kepalamu (inner Goddess?) berulang-ulang tanpa kamu sadari. Kamu berusaha memberitahu mereka kalau sebenarnya kamu pun bosan. Tetapi otakmu terus menerus memikirkan itu.

Ternyata jiwa saya sudah menjadi nenek-nenek. Perlu banyak berubah supaya kembali muda dan fungsional. Gak harus botox, apalagi oplas. Jiwa cuma butuh ruang gerak yang luas. Berpikir positif. Memperluas ruang sosialisasi. Mengurangi persepsi jelek. Menghilangkan hobby ghibah. Pelajari hal yang baru. Banyak mengingat Allah. Hmm.. Banyak cara ternyata!
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, rasa malas, rasa takut, kejelekan di waktu tua, dan sifat kikir. Dan aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan kematian) - HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706.
Ya sudah. Berhentilah malas. Berhentilah mengikat diri pada kenangan (buruk). Berhenti membatasi diri. Berhentilah tua.

3 comments:

  1. bagus :)

    meski sering menulis 2 tema itu (menjadi tua dan soal mengenang), aku nggak pernah menghubungkannya.

    menjadi tua lebih aku asosiasikan dengan penerimaan. kita mengenang dengan cara yang dalam seperti itu, karena kita dewasa, bukan menua. imho sih

    https://www.facebook.com/priyodjatmiko/posts/10207385248013074

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya beda mas. Kalau "over tua" gitu bener2 sedih gak sih. Karena akan terus nyeritain kenangan lama berulang2 karena gak ada lagi cerita baru. Ho bagus mas tulisannya. Dalem! Alhamdulillah for the second comment.

      Delete
  2. gambar yang atas punyamu sendiri mbak? keren banget. abstrak.

    ReplyDelete

WOW Thank you!